
Pada akhirnya setelah melihat istrinya naik lebih dulu ke atas kasur, Wiraditya dengan cepat ikut memilih naik ke atas kasur dimana Queen W berada, dia memilih berbaring tepat di sisi kiri sang istrinya dan mencoba untuk meraih bantal kepala yang ada di samping Queen W, nyata nya belum sempat tangan menyambar bantal kepala Queen wae lebih dulu mengambil bantal tersebut.
Wiraditya jelas saja langsung menaikkan ujung alisnya saat menyadari istrinya mengambil 2 bantal sekaligus yang ada di atas kasur baik bantal guling maupun batal kepala. Seperti nya gadis tersebut agak lupa jika hanya terdapat dua bantal saja di kamar tersebut 1 bantal guling dan satu bantal kepala padahal tadi dia telah menjelaskan dengan detail soal bangsa dan bisanya istrinya mengambil bantal kedua-duanya.
"He..he...em...," Wiraditya pada akhirnya membuka suaranya dengan cepat, dia membiarkan kepalanya bertumpu pada tangan kanan nya, dengan gaya tubuh menyamping dia menatap dalam wajah istrinya.
Queen W yang melihat gaya wiraditya dan juga deha mania seketika menolong dengan cepat mengurutkan keningnya kemudian bertanya.
"Ada apa?," sebenarnya terasa cukup gelisah setiap kali bola mata mereka bertemu saat ini, tidak tahu kenapa dalam beberapa waktu ini gadis tersebut merasa menatap Wiraditya saat ini tidak seperti saat pertama kali mereka menikah, dia berusaha untuk menghindari interaksi mata terlalu lama karena setiap kali bola mata mereka saling bertatap antara satu dengan yang lainnya dia bisa merasakan wajahnya memerah tanpa sebab.
Alih-alih menjawab, laki-laki tersebut malah memainkan alisnya dimana dia menatap ke arah bantal sembari kembali memainkan alisnya lantas menatap ke arah Queen W lantas menggerakkan bola matanya ke arah tempat tidurnya. Gadis di depannya tersebut sedikit bingung memperhatikan gerakan alis Wiraditya dan gerakan matanya, mencoba memahami apa maksud laki-laki tersebut hingga pada akhirnya dia kembali berkata.
"Ekspresi mu membuat ku geli, W" ini kali pertama Queen W protes, berani sedikit mengkritik dan mengeluarkan pernyataan di hatinya.
__ADS_1
Mendengar apa yang diucapkan istrinya seketika membuat laki-laki tersebut terkekeh kecil kemudian dia berkata sejarah akhir dan menghilangkan urat malunya demi untuk menarik hati Queen W.
"Apakah aku harus memajukan kepala? tidur di bantal yang sama?," Laki-laki tersebut semakin berani saja menggoda, melirik ke arah bantal yang digunakan istrinya dibawa kepalanya dan juga melirik ke arah bantal yang dipeluk oleh istrinya.
Queen W seketika langsung membulatkan bola matanya dan menyadari tentang apa yang diinginkan oleh laki-laki di hadapannya tersebut, gadis itu seketika langsung merasa malu dengan keadaan, buru-buru memberikan bantal guling yang ada di pelukannya pada wiraditya kemudian berusaha untuk menenggelamkan wajahnya ke bantal kepala yang dia gunakan tersebut.
Wiraditya seketika tertawa renyah, serenyah kerupuk yang ada di kaleng jadul jaman bahulak, dia meraih bantal yang diberikan Queen W kemudian memberanikan diri memajukan tubuh dan wajah nya ke arah sang istri.
"W," dan pada akhirnya laki-laki tersebut berkata seperti itu.
"Buka mata mu,"
Queen W yang berusaha memejamkan bola matanya dan menenggelamkan dirinya kedalam bantal terlihat diam, secara perlahan pada akhirnya dia membuka bola matanya dengan hati-hati, bisa dilihat dengan seksama wajah wiraditya yang telah menghadap ke arah wajahnya, aroma lembut mint dari mulut laki-laki yang tidak pernah menyentuh rokok tersebut sedikit menerpa hidung nya saat bicara.
__ADS_1
Gadis tersebut memilih diam, menatap Wiraditya dengan seksama, dimana netra mereka saat ini terlihat begitu dekat, bertemu antara satu dengan yang lainnya nyaris tanpa jarak.
"Tentang yang aku bicarakan pada grandma tadi, itu benar-benar dari hati," Laki-laki tersebut melanjutkan ucapannya, mengingatkan Queen W tentang pernyataan cintanya pada gadis tersebut tadi saat di ruang keluarga didepan nyonya Ramira dan tuan Eden.
"Aku benar-benar mencintai kamu, tulus, bukan karena kontrak pernikahan kita, tapi karena aku memang benar-benar mencintai kamu, W." Dan dalam balutan jutaan keberanian laki-laki itu kembali menyatakan tentang perasaannya sekali lagi di mana bola matanya sama sekali tidak ingin melepaskan pandangannya pada gadis yang ada di hadapannya tersebut.
Queen W seketika terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Wiraditya, bola matanya menatap laki-laki tersebut dengan ekspresi wajah yang cukup terkejut dan rumit.
"Mungkin terlalu dini aku menyatakan tentang perasaanku tapi aku tidak bisa menyimpannya terlalu lama karena cukup takut terlambat untuk mengatakannya, aku takut tidak ada kesempatan untuk benar-benar mengutarakan perasaanku padamu, aku takut perpisahan akan membuatku menyesalinya karena tidak menyampaikan perasaanku kepadamu, W." Lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.
Queen W seketika menggenggam ujung bantal nya secara perlahan saat mendengar apa yang diucapkan Wiraditya, ada hati yang sesungguhnya tidak baik-baik saja sama dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki di hadapannya tersebut. Ada jantung Yang sepertinya baru saja berhenti berdetak saat Wiraditya menyatakan tentang perasaan nya.
"Aku mencintai kamu, W. tidak peduli jika pada akhirnya kita akan berpisah sesuai dengan kemauan, tapi aku akan tetap mencintaimu dan menganggapmu sebagai istriku yang sesungguhnya." Dan seulas senyuman mengembang dibalik wajah laki-laki tersebut setelah dia mengatakan hal tersebut, membuat Queen W seketika kehilangan kata-katanya.
__ADS_1