
Wiraditya cukup kesulitan berdiri, dia pikir bermain ice skating benar-benar bukan pilihan yang baik, dia tidak pernah melakukan nya dan terlihat begitu memalukan. Saat beberapa orang mencoba membantu nya dia jelas tidak suka, mengingat dia bukan lagi seorang laki-laki lajang jelas saja dia menolaknya.
Jika Egalita,
Wiraditya menatap punggung gadis tersebut yang berlalu bersama kakak ipar nya.
Tentu saja berbeda, mereka bukan dua orang yang harus di khawatirkan. Ucapan ngawur Egalita saja yang membuat kakak ipar nya salah paham. Masa anak-anak orang-orang selalu menganggap orang-orang terdekat mereka sebagai cinta pertama, dan itu hal yang biasa.
Bahkan ibu nya berkata cinta pertama ibunya guru mengajinya, ayahnya juga punya cinta pertama, bibi nya sendiri.
Itu pemikiran anak-anak usia 5-8 tahun yang mengagumi orang-orang disekitar nya. Dan dia juga Egalita saling berkata mereka adalah cinta pertama. Dan itu jelas tidak mungkin, selain memang mereka tidak memiliki perasaan lebih, menyusun kembali silsilah yang terjadi pada keluarga mereka, jelas mereka tidak akan bisa bersama.
Dia ingat apa yang dikatakan Egalita saat pertama kali mereka bertemu dan duduk bersama di taman belakang kediaman Nyx Zaighum.
"Tidak tinggal dengan mereka lagi?." Wiraditya bertanya pada Egalita.
Gadis tersebut menggelengkan kepalanya.
Egalita, adalah putri dari kakak ibunya, mereka terlalu lama tidak bertemu sejak kejadian meninggal ayah nya di masa lalu sempat berkomunikasi sejenak dengan hape jadul beberapa tahun lalu kehilangan kontak kemudian kembali bertemu saat mereka sama-sama sudah dewasa dan kabar terakhir yang dia tahu ibu Egalita sakit parah.
Kehidupan Egalita sama tragisnya dengan dirinya, ayahnya ternyata bukan ayah yang baik, laki-laki tersebut menikah dengan ibunya karena menginginkan anak dari ibu Egalita untuk menyelamatkan anak lainnya dari istri pertama nya.
Laki-laki tersebut menipu ibu Egalita dan Egalita sendiri selama bertahun-tahun, mengaku bujangan nyatanya sudah memiliki istri dan anak. Laki-laki tersebut membutuhkan donor sumsum tulang belakang Egalita untuk kakak perempuan beda ibunya.
Putri pertama mereka terkena anemia aplastik, Kondisi yang jarang terjadi ketika tubuh berhenti memproduksi cukup sel darah baru. Anemia aplastik berkembang sebagai akibat kerusakan sumsum tulang. Kerusakan dapat hadir saat lahir atau terjadi setelah paparan radiasi, kemoterapi, bahan kimia beracun, obat tertentu, atau infeksi.
Saat tahu jika laki-laki tersebut menipu nya dengan nama cinta dan memanfaatkan Egalita, bayangkan bagaimana perasaan ibu Egalita dan Egalita sendiri.
__ADS_1
Kala itu dia tahu Egalita di operasi paksa untuk mendonorkan sumsum tulang belakang nya di usia yang jelas masih terlalu muda.
"Aku tidak percaya kamu yang menikah dengan putri penerus Hillatop, Ja." Ucap Egalita pelan, berusaha mengubah topik pembicaraan.
Mereka duduk di atas kursi memanjang di taman belakang mansion mewah Nyx Zaighum, Ja adalah panggilan kesayangan Egalita untuk nya di masa lalu, Widjaja adalah nama belakang ayah kandungnya.
"Aku sempat melihat nya di televisi, tapi tidak begitu memperhatikan wajah pengantin laki-laki nya, sangat terkejut jika itu kamu." Ucap Egalita pelan, dia melirik kearah Wiraditya untuk beberapa waktu.
"Kami menikah di bawah perjanjian." Dan Wiraditya bicara pada gadis disamping tersebut.
"Aku terpaksa melakukan nya untuk Aisyah dan ibu." lanjut Wiraditya lagi kemudian.
Egalita terlihat diam, dia masih sempat menatap wajah Wiraditya kemudian membuang pandangannya.
"Aku tidak menemukan mu dalam waktu yang cukup lama, terlalu lama hingga membuat kita saling melupa." Ucap Wiraditya pelan.
"Setelah mama memaksa ku untuk melakukan hal menjijikkan di masa lalu, aku memilih untuk pergi dan meninggalkan semuanya." Ucap Egalita lagi.
Mereka diam tidak melanjutkan kata-kata mereka, memilih menatap J yang masih sibuk bermain.
"Dia benar-benar tipekal ibu tiri yang kejam." Ucap Wiraditya pelan.
Egalita tidak menjawab.
"Dia sudah menerima karma nya, putri nya meninggal sejak bertahun-tahun yang lalu." Dan Egalita bicara soal putri pertama ayahnya juga ibu tirinya.
Wiraditya cukup terkejut dibuatnya.
__ADS_1
"Dan aku kehilangan masa depan ku." Ucap Egalita lagi kemudian.
Wiraditya tahu sebuah kisah, tapi Egalita memintanya untuk menutup mulutnya.
"Apa kamu baik-baik saja?."
"Apa kamu baik-baik saja?."
Mereka berdua pada akhirnya melesatkan tanya yang sama, sejenak saling menoleh antara satu dengan yang lainnya, kemudian tertawa terbahak-bahak bersama karena merasa cukup lucu menanyakan hal yang sama.
Kembali keheningan terjadi.
"Aku tidak baik-baik saja."
"Aku tidak baik-baik saja."
Lagi mereka bicara secara bersamaan, kembali saling menatap antara satu dengan yang lainnya, berikut nya bola mata Egalita terlihat berkaca-kaca.
"Aku tidak baik-baik saja, Ja." Dan didetik berikutnya tangis gadis tersebut pecah, dia terisak dalam diam, menundukkan kepalanya secara perlahan.
Wiraditya terdiam, meraih bahu gadis tersebut secara perlahan dan kemudian membiarkan Egalita menangis di dalam dadanya.
"Aku tidak tahu jika kamu juga hidup seperti ini." Bisik Wiraditya sambil menepuk-nepuk punggung Egalita secara perlahan.
Ditengah pemikiran atas ingatan nya soal Egalita, tiba-tiba sebuah tangan terulur dihadapan nya, membuat Wiraditya menatap telapak tangan tersebut untuk beberapa waktu, kemudian laki-laki tersebut mendongakkan kepalanya.
Queen W terlihat menatap dirinya dan menunggu Wiraditya menerima uluran tangan nya.
__ADS_1