
Disisi lain,
Bandara Soekarno Hatta,
Indonesia.
Seorang gadis terlihat menyeret koper mendominasi berwarna pink miliknya, wajah cantik dengan kaki jenjang nya. Kaca mata hitam membingkai pada bagian mata sang empunya. Dia berjalan tergesa-gesa dengan perasaan yang berkacamuk menjadi satu, hatinya saat ini tidak baik-baik saja.
Sesungguhnya semua bermula dari bulan-bulan kemarin, ketika berita menyeruak dan merebak, ketika siaran di televisi pecah tanpa terkendali. Dia menangis histeris seorang diri, di tempat yang jauh dalam kesendirian. Berharap bisa kembali secepat nya dan meminta sebuah klarifikasi, meminta penjelasan dari seseorang yang dia harapkan pagi, siang dan malam. Tapi dia mencoba menahan semuanya, dia menahan nya hingga kembali dan berhasil menyelesaikan seluruh urusan nya dan masuk bekerja ke tempat yang tidak pernah dia inginkan.
Impiannya hancur saat dia tahu orang yang diharapakan nya meninggalkan nya tanpa kata-kata penjelasan.
"Nona." Satu suara terdengar memecah keadaan.
Gadis tersebut menoleh, menatap seorang laki-laki yang menjemput nya. Dulu dia berharap yang berdiri dihadapan nya bukan sopir keluarga nya tapi seseorang yang pernah mengisi kehidupan nya.
__ADS_1
Bola mata dibalik kaca mata hitam besar gadis tersebut terlihat berkaca-kaca, dia menyerahkan kopernya pada laki-laki yang menunggu kedatangan nya.
"Ibu dan bapak ada didepan, mau langsung pulang atau mampir untuk makan?" Laki-laki tersebut kembali bertanya, dia menatap nona nya yang sudah banyak berubah.
Gadis tersebut semakin dewasa dan cantik, bukan lagi gadis berseragam SMA yang belum pandai merawat diri. Tubuhnya putih dan bersih dengan tinggi badan yang cukup porposional. Laki-laki mana yang tidak akan tertarik dan jatuh cinta pada nya?, wajah ramah tamah dibalik sifat baik dan halusnya.
Terlalu berbanding terbalik dengan ibu gadis tersebut, yang begitu pongah dan culas, sombong dan angkuh seolah-olah mereka kaya raya dan tidak akan runtuh hingga 7 turunan.
Bertahun-tahun tidak kembali untuk menempuh pendidikan jelas mengubah gadis tersebut dalam tingkat kecantikan dan penampilan nya, bak model profesional dengan balutan pakaian yang cukup sopan.
"Naik non." sang sopir mengangguk kan kepalanya tanda mengerti, dia menyeret koper pink yang telah berpindah ke tangannya tersebut secara perlahan menuju ke arah depan berjalan mendahului gadis yang ada di belakangnya itu dalam diam.
Gadis tersebut mengikuti langkah, dalam perasaan yang berkacamuk menjadi satu, dia bergerak menuju kearah depan, membiarkan diri melangkah ke arah mobil yang menjemput nya dimana katanya ada dia orang yang dia sayangi telah menunggu nya disana.
"Oh sayang." Di depan seorang wanita paruh baya lebih menyambut nya senang, begitu bangga saat melihat kesuksesan putri nya yang berhasil lulus dengan nilai terbaik dan masuk ke perusahaan besar ternama untuk bekerja.
__ADS_1
Sebelum wanita tersebut memeluk nya, seorang laki-laki paruh memeluk gadis tersebut lebih dulu, dia mencium puncak kepala gadis tersebut sambil berkata.
"Mau langsung pulang?." Itu adalah ayah nya.
Lagi gadis tersebut menganggukkan kepalanya, dia tidak perlu menjawab kembali pertanyaan yang sudah di lontarkan oleh supir nya tadi.
Kini wanita disamping ayahnya langsung memeluk erat putri nya dalam penuh kebahagiaan dan kebanggaan, nyatanya gadis yang dipeluknya terlihat diam, tidak bahagia dan menatap nanar wanita dihadapan nya untuk beberapa waktu.
"Apa yang ibu katakan pada Wiraditya?." Tiba-tiba gadis cantik tersebut mengeluarkan suara bergetar nya, dia bertanya dimana di balik kacamata yang dia gunakan air matanya mulai tumpah.
"Kenapa dia bisa menikah tanpa menjelaskan apapun pada ku?." Lagi dia melesatkan tanya diiringi tangis nya yang mulai pecah.
Mendengar pertanyaan dan tangisan putri nya seketika membuat wanita tersebut tercekat.
"Amanda-,"
__ADS_1