
Kembali ke masa sekarang,
Masih di Gelanggang Ice skating xxxxxxx,
Seoul city hall Plasa skate ⛸️🛼.
Seulas senyuman mengembang di balik wajah tampan Wiraditya, dia menerima uluran tangan Queen W dengan jutaan kebahagiaan.
"Aku terlihat payah." Laki-laki tersebut bicara sambil berpegangan erat pada Queen W, berusaha berdiri dengan kokoh dihadapan istrinya.
Dia menatap dalam wajah Queen W, menelisik bola mata istrinya untuk beberapa waktu. Mencari celah kecemburuan yang diucapkan Egalita atas hubungan mereka dari seorang gadis kaku sekelas istrinya. Sayangnya dia bukan type laki-laki yang pandai membaca raut wajah orang lain.
Haissssss sungguh payah 🤧🤦.
"Pertama kali memang begitu." Gadis tersebut menjawab pelan, mencoba menghindari tatapan Wiraditya.
Beberapa kali dia menggenggam erat tangan Wiraditya, membiarkan Wiraditya bergerak perlahan dan seketika laki-laki tersebut nyaris jatuh dibuat nya, Queen W sekuat tenaga menahan nya.
Wiraditya berkali-kali tertawa renyah saat merasakan sakit nya jatuh di atas es, tidak sekali dua kali tapi yah tadi, berkali-kali saking seringnya.
Rasanya cukup lucu, dia seperti anak usia 1 tahunan lebih yang baru belajar berjalan bersama ibunya.
__ADS_1
Sesekali dia tertawa renyah mencair kan suasana di antara mereka. Queen W yang awalnya datar-datar saja terlihat mulai mengulum senyuman, dia sesekali melebarkan senyumannya saat melihat Wiraditya jatuh berkali-kali.
"Astaghfirullahul'adzim, ini benar-benar rumit W." Wiraditya terus terkekeh, cukup malu karena jatuh berkali-kali dan tubuhnya berkali-kali di tahan oleh istrinya agar tidak terhempas ke lantai dingin tersebut.
"Apa kita berhenti saja?." Wiraditya bertanya, agak malu karena hanya menyulitkan istrinya
"Tidak, coba perhatikan kaki ku." Akhirnya gadis tersebut bicara, menatap Wiraditya dan meminta laki-laki tersebut memperhatikan kakinya dengan baik.
Dia mengajarkan beberapa teknik cara berdiri yang baik dan benar terlebih dahulu.
"Seperti ini dan begini." Gadis tersebut berusaha untuk mempraktekkan cara dia berdiri.
"Biarkan kaki terbiasa menopang tubuh kita agar tidak jatuh, bukankah bisa main sepatu roda?, mereka sama saja, perbedaan nya sepatu roda di area aspal, ice skating di area es." Queen W mencoba untuk menyakinkan Wiraditya.
"Seperti ini?." Wiraditya bicara, menyeimbangkan kaki nya yang luar biasa sulit.
Beberapa kali nyaris melonggarkan kaki nya dan jatuh tapi sekuat tenaga Queen W menahan Wiraditya.
"Sedikit lagi.". Queen W terlihat bersemangat, dia menatap kedua kaki Wiraditya.
__ADS_1
"Oke begini, hmmm ini cukup seimbang." Laki-laki tersebut berusaha bergerak perlahan.
"He em, ini bagus." Queen W bicara, perlahan membiarkan kedua belah telapak tangan mereka saling bertaut, mereka berpegangan dengan baik dan dia membiarkan Wiraditya menyeimbangkan tubuhnya lebih dulu.
Kemudian dia membawa Wiraditya bergerak perlahan di mana dia bergerak mundur dan Wiraditya bergerak maju.
"Ohhhh coba lihat aku bisa melangkah kedepan.". Wiraditya terlihat bersemangat, dia bergerak kedepan secara perlahan, sedikit demi sedikit hingga akhirnya cukup lancar bergerak.
Tidak sia-sia berjam-jam jatuh terhempas, terjungkal dan entahlah hingga sedikit-sedikit bisa pula.
"Bagus, lihat bukankah aku bilang ini mudah?." Queen W terlihat melebarkan senyuman, dia jadi menyambut antusias karena Wiraditya menangkap dengan cepat apa yang dia ajarkan.
Mereka terlihat perlahan berjalan berduaan, saling menggenggam tangan dan mengabaikan orang-orang disekitar.
"Oh subhanallah ini keren sayang, coba lihat aku benar-benar bisa melakukan nya." Saking bahagianya Wiraditya tidak sadar memanggil istrinya dengan sebutan sayang, bahkan saking bersemangat nya dia malah memeluk istrinya dengan refleks.
Mengabaikan status mereka yang pura-pura dan kembali bergerak seperti tanpa dosa menikmati permainan ice skating nya.
Dia tidak sadar ada sang pemilik jantung yang tidak baik-baik saja saat dipanggil sayang dan dipeluk secara spontan.
Queen W seketika mengedipkan bola matanya berkali-kali saat Wiraditya memeluknya tadi.
__ADS_1
.