Suami Kontrak Nona Crazy Rich

Suami Kontrak Nona Crazy Rich
Jangan terlalu memusingkan omongan orang


__ADS_3

Wiraditya hanya bisa menghela nafasnya untuk beberapa waktu setelah dia mendengarkan ucapan dari kakak ipar nya, dia tidak paham apa yang dipikirkan oleh Queen W, namun yang jelas dia pikir ini semua pasti tidak baik-baik saja.


Didalam pernikahan mereka pada akhirnya pasti ada yang paling sulit dan rumit untuk dihadapi dan laki-laki itu pikir sulung dalam keluarga istrinya jelas bukan laki-laki yang bisa diajak main-main atau bahkan bisa diajak bernegosiasi dengan baik dan benar, dia khawatir pada rencana perpisahan mereka nanti ada kemungkinan besar laki-laki itu mungkin akan membunuhnya setelah menyalahkan dirinya.


Wiraditya dengan hati gamang dan gelisah meraih teh miliknya di atas meja sembari mencoba untuk melahap roti sandwich yang selalu dia bilang itu adalah roti mahal makanan orang kaya.


"Mulai hari ini, berhenti bekerja di bagian office boy, kamu harus naik ke atas dan membantu istrimu untuk melakukan banyak hal." Kembali nenek tua Hillatop bicara, wanita itu menetap ke arah Wiraditya.


Mendengar ucapan nenek tua Hillatop jelas saja membuat Wiraditya agak gelagapan.


"Aku pikir itu keputusan kurang baik nek, para karyawan takutnya akan mulai membicarakan diriku setelah pernikahan ini di mana aku tidak lagi menjadi seorang office boy." Wiraditya memberanikan diri untuk bicara karena dia takut akan ada berbagai macam gosip yang menghantam dirinya jika dia berpindah tugas.


"kenapa terlalu takut dengan omongan orang lain?," wanita tua tersebut jelas aja langsung mengerutkan dahinya, dia cukup keberatan dengan apa yang diucapkan oleh Wiraditya.

__ADS_1


"Kamu harus mulai mendampingi W dalam beberapa waktu sebelum kamu yang naik dan W turun menjadi ibu rumah tangga, mendengarkan ucapan dari orang luar tidak akan pernah ada habisnya, mulut orang-orang luar selalu tidak bisa dikontrol dengan baik, mereka suka bergosip ria tanpa berkaca pada diri sendiri." Wanita tua tersebut terus mengoceh, dia cukup tidak setuju atas apa yang diucapkan cucu menantunya tersebut.


"Pada akhirnya apapun yang akan kamu lakukan tetap menjadi pembicaraan dan bahan gosipan untuk mereka, ketika kamu naik kelas ke atas, mereka akan membicarakanmu dan berkata kamu numpang hidup dengan keluarga istri mu, naik ke atas karena faktor keberuntungan semata, dan jika kamu tetap bertahan menjadi seorang office boy, mereka tetap akan mengatakan tentang dirimu dan bergosip ria bersama di belakang kita semua di mana mereka akan berpikir menantu keluarga Hillatop dan Azzurra sangat menyedihkan sekali, Meksipun kamu menikah dengan Putri keluarga kaya raya pada akhirnya kau tidak akan pernah mampu naik ke atas dan akan tetap menjadi seorang office boy." Nenek tua Hillatop mencoba untuk bicara tentang kenyataan kepada Wiraditya.


"Lalu katakan pada nenek mana yang paling baik ketika kamu digosipkan? tetap menjadi seorang office boy atau naik derajat dan membuatmu jauh dihormati oleh mereka karena kamu adalah atasan dan bukan lagi bawahan, ketika kamu tidak menyukai orang-orang yang mulai terlalu banyak bicara soal kamu yang tidak masuk akal, maka kamu


dengan bebas bisa memberhentikan mereka dari perusahaan." begitu tegas wanita tua tersebut bicara, di mana dia tidak ingin Wiraditya harus merasa terbebani dengan status barunya.


Mendengar ucapan panjang lebar nenek tua Hillatop seketika membuat Wiraditya terdiam.


Dan realitanya itulah kehidupan, apapun yang kita lakukan, untuk orang-orang yang kurang pekerjaan dan suka mencemooh orang lain tetap akan salah, Wiraditya seharusnya menyadari hal tersebut, lalu kenapa masih gamang dan gelisah memikirkan omongan orang lain?.


"Mendengarkan ucapan orang-orang malah hanya merugikan kita, itu sangat tidak bermanfaat dan buang-buang waktu saja, biarkan mulut mereka berbuih sesuka hati, kita cukup menikmati hidup kita tanpa harus menjadi gila karena mendengarkan cemo'ohan orang-orang disekitar, orang yang pintar tetap fokus pada urusannya dan orang yang bodoh terlalu fokus pada urusan orang lain, dan itu adalah filosofi orang-orang kaya dan sukses diluaran sana." wanita tua tersebut bicara sembari meletakkan jemari telunjuknya kebahagiaan sisi kiri kepalanya.

__ADS_1


"orang-orang yang sukses di luaran sana tidak pernah peduli dengan gosip yang terus menyebar, fokus mereka hanya pada pekerjaan dan menikmati kehidupan mereka, dan orang-orang yang terlalu suka ikut campur dengan urusan orang lain kau lihat bagaimana kehidupannya Wiraditya, mereka tidak pernah bahagia karena selalu merasa stress memikirkan kesuksesan orang lain tanpa mau mengejar kesuksesan mereka sendiri." Setelah berkata begitu, wanita tua tersebut mengembangkan senyumannya kemudian dia melirik ke arah Queen W.


Wiraditya tetap memilih diam, dia menatap kearah Queen W untuk beberapa waktu, menelisik kegelisahan dibalik bola mata istrinya.


"kamu tidak ingin membawa suamimu untuk berbelanja beberapa pakaian, W?." tanya wanita tua tersebut kemudian.


"Ya?." Queen W seolah-olah tersadar dari lamunannya.


" Mommy mu akan membawa mertuamu untuk pergi berbelanja, Grandma pikir tidak ada salahnya kamu juga memperhatikan penampilan suamimu, karena setelah hari ini akan ada banyak pertemuan keluarga dan juga pertemuan antar relasi bisnis yang akan terjadi di mana Wiraditya akan terus berjalan di sampingmu hingga kamu siap menjadi ibu rumah tangga seutuhnya."


Dan ucapan sang grandma nya membuat Queen W menganggukan kepalanya pelan.


Wiraditya terlihat diam, dia pikir dia sama sekali tidak berani untuk bicara lagi atau membuat keputusan, dan membiarkan semua berjalan apa adanya.

__ADS_1


__ADS_2