
Riana berlarian memasuki ruang kesehatan kepolisian. Mendengar kabar bahwa Arianti masuk ke ruangan itu setelah di pindahkan, membuat Riana bergegas nekat datang seorang diri.
“Ada apa?” Tanya Riana pada pihak kepolisian.
Plak
Tiba-tiba saja pipi Riana memerah sempurna, ada cap lima jari disana. Itu adalah sebuah ucapan selamat datang yang sempurna dari ibu Arianti.
“Ini semua salahmu! Semua masalah ini berawal darimu!” Ucap wanita paruh baya itu.
Riana hanya diam, dia tidak mau mengucapkan banyak hal kepada seseorang yang masih dalam emosi meluap-luap, itu hanya akan semakin mengobarkan api kemurkaan.
“Bagaimana keadaannya? Apa yang terjadi?” Tanya Riana lagi pada polisi wanita yang sedang berjaga.
“Sepertinya dia di serang oleh temannya di dalam penjara. Dokternya ada di dalam, nanti anda bisa menanyakannya sendiri untuk lebih detailnya” Jawab polisi itu.
Riana segera mendekat ke ruang perawatan, melihat kondisi Arianti dari pintu kaca.
Terlihat Arianti meraung-raung, berteriak tidak jelas bahkan sesekali mengusir orang-orang disekitarnya.
“PERGI!! KALIAN SEMUA KAPAR*T, KALIAN SEMUA JAHAT. KENAPA TIDAK MEMBUNUHKU SAJA HA?”
Begitu teriakan pilu Arianti di dalam sana.
Riana terdiam sejenak, hanya bisa menunggu dokter keluar. Sedangkan, ibu Arianti tak kalah hebohnya saat menangisi sang putri.
__ADS_1
Riana hanya mendengar teriakan dan makian yang keluar dari mulut ibu selingkuhan mantan suaminya itu.
“Semoga kau tidak pernah menemukan kebahagiaanmu!”
“Sial*n sekali kau membuat putriku berakhir menderita begini”
“Kau akan mendapatkan hukuman yang setimpal”
“Aku tidak akan membuat kehidupanmu tenang”
Kira-kira begitu caci maki yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu.
Riana hanya diam, dia sengaja tidak menghubungi Ardian, sudah terlalu banyak membuat lelaki itu kerepotan selama ini, Riana tidak mau mengganggunya lagi.
Ceklek
Dokter keluar, orang tua Arianti dan Riana mendekat.
“Walinya?” Cari sang dokter, bertanya di antara ketiganya apakah ada salah seorang yang merupakan wali dari Arianti.
“Saya ayahnya”
“Saya ibunya”
Sahut mereka bersamaan.
__ADS_1
Dokter menatap Riana, mencari kebenaran akan status Riana di dalam silsilah keluarga pasiennya, “Saya pelapor sekaligus korbannya” Sahut Riana, seolah mengerti dengan tatapan mata sang dokter.
Dokter itu mengangguk, ada satu polisi wanita yang ikut dalam perbincangan mereka.
“Dia mengalami depresi, mentalnya diserang dengan sempurna. Dari hasil visum, dia diperk*sa oleh pelaku dan mengalami penurunan mental. Bayi di dalam kandungannya harus segera di angkat, terjadi banyak pendarahan jadi, kemungkinan besar bahwa bayinya meninggal” Jelas sang dokter.
Saat itu juga, ibu Arianti lemas, dia merosot sempurna di pelukan suaminya.
“Ini semua gara-gara wanita ini” Gumam ibu Arianti pada Riana.
Di dalam kondisi seperti ini, harusnya Nathan ada disana tapi, ketika Riana celingak celinguk kesana-kemari tidak mendapati Nathan disana, bahkan mantan ibu mertuanya juga tidak tampak hadir.
“Suaminya tidak datang? Seharusnya dia menemani Arianti di masa-masa buruk begini” Gumam Riana.
Seketika, dia jadi teringat bagaimana dia dulu juga harus melewati semuanya tanpa suami. Ia kira itu hanya karena dia bukanlah prioritasnya ternyata, dengan Arianti pun sikapnya sama, tidak ada bedanya.
“Diam! Kau juga yang membuat hubungan mereka hancur! Jika kau tidak datang di kehidupan mereka, mungkin Ariantiku sekarang tidak akan seperti ini” Ucap ibu Arianti.
“Maka jangan lupa bagaimana putri anda juga melukai Riana. Impas bukan? Mereka sama-sama kehilangan anak dengan cara tragis hasil drama yang dibuat putrimu”
Riana menoleh kepada sumber suara, itu adalah Ardian. Entah bagaimana lelaki itu bisa ada disana.
“Jangan merendahkan Riana seperti itu, jika Riana kalian anggap sebagai sampah maka, Arianti lebih buruk dari itu, apa aku bisa menyebutnya dengan kotoran anj*ng? Apa kalian sedang membenarkan putri kalian sebagai pelakor?” Sarkas Ardian.
Lelaki itu langsung menarik Riana keluar, tidak mau melihat wanita yang ia cintai semakin di pojokkan dengan kelakuan orang tua Riana yang tidak tau malu.
__ADS_1