Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Mau Menemani Ardian


__ADS_3

Sambil menunggu Ardian menjemput, Riana melihat-lihat beberapa display baju dan hijab di toko.


“Lea, ini nanti displayn-nya diganti dengan model baru ya” Ucap Riana.


“Baik mbak”


Tetap produktif adalah jalan ninja untuk mengusir rasa bosan. Pasti Ardian sedang sibuk, pikir Riana.


Sudah pukul setengah satu tapi, tidak ada tanda-tanda Ardian akan datang.


“Aku sudah bosan” Gumam Riana.


Dia mungkin sudah berkeliling toko berkali-kali, sampai lelah rasanya menunggu.


Hosh


Hosh


Hosh


Suara hembusan napas berat itu terdengar jelas di telinga Riana. Wanita itu melihat ke sumber suara, ternyata Ardian sudah berdiri di sampingnya.


“Kenapa?” Tanya Riana.


Ardian menggelengkan kepalanya, seolah berkata tidak apa-apa.


“Maaf aku telat, hari ini ibu kota sangat padat merayap” Ucap Ardian.


Riana hanya mengangguk mengerti, “Tidak apa-apa” Ucapnya.

__ADS_1


Saat itu Ardian langsung menggandeng Riana menuju restoran terdekat, kasian karena ini jam makan siang sudah sedikit terlewat.


“Mau apa?” Tanya Ardian.


Riana melihat semua menu yang ada di hadapannya.


“Mau ini saja sama ini” Ucap Riana menunjuk satu menu makanan berat dan juga minuman.


Ardian memesan makanan untuknya dan juga Riana.


Singkat cerita saja, saat sedang asik-asiknya menyantap hidangan mereka, Ardian membuka suara, “Bagaimana tadi di toko?” Tanyanya.


“Apa kau suka jika ruanganmu di pindah ke bawah?” Lanjut Ardian.


Riana mengangguk, “Aku suka saja, lagipula tidak ada yang berbeda malah sepertinya akan lebih asik jika di bawah, karena semua produksi dan juga dsplay toko ada di bawah jadi, aku bisa mengawasi mereka tanpa harus lelah-lelah naik turun tangga” Jawabnya.


“Mau nambah?” Tanya Ardian.


Riana menggeleng, mata bulat Riana benar-benar indah sejak dulu, Ardian bahkan selalu terpukau saat melihatnya.


“Apa kita akan pulang sebentar lagi?” Tanya Riana.


Ardian mengangguk, menyetujui ucapan Riana. Lelaki itu masih fokus mengunyah makanannya. Mendapati jawaban Ardian begitu, Riana langsung mengubah raut wajahnya, sebenarnya ia tidak mau pulang.


“Kenapa? Kau menginginkan sesuatu?” Tanya Ardian menyadari perubahan suasana hati Riana yang begitu cepat.


“Aku masih tidak mau pulang” Sahut Riana.


“Tapi, kau butuh banyak istirahat, Riana” Ucap Ardian, memberikan pengertian kepada wanita di hadapannya itu.

__ADS_1


“Aku pasti akan bosan di rumah, mama pasti akan menyuruhku tidur seperti perintahmu” Riana memajukan bibirnya, menunjukkan kecemberutan dan suasana hatinya yang kurang baik.


“Lalu, kau mau kemana? Aku tidak mengizinkanmu kembali ke toko untuk bekerja. Kau hanya boleh bekerja setengah hari selama masa kehamilanmu, aku tidak mau kau kelelahan”


Ardian benar-benar cerewet dan bahkan terkesan sangat mendisiplinkan Riana sekarang. Meskipun bukan anaknya tapi, Riana tetaplah wanita yang ia cintai.


Riana mengetuk pelan pucuk hidungnya yang tidak begitu mancung. Memikirkan sesuatu yang mungkin bisa menjadi referensinya mengusir rasa bosan.


Ting. Seperti ada lampu yang keluar dari kepala Riana, wanita itu memiliki sebuah jalan keluar, “Bagaimana jika aku ikut denganmu ke café?”


Uhuk


Uhuk


Uhuk


Ardian tersedak. Riana dengan cepat memeberikan minum untuk Ardian dan pergi ke samping lelaki itu untuk menepuk pelan punggungnya.


“Apa kau yakin?” Tanya Ardian. Mengingat status Riana sekarang adalah mantan kekasihnya dan masih istri orang. Jika orang-orang di toko Riana akan sangat mengerti tapi, bagaimana dengan orang-orang di café Ardian? Mereka bahkan banyak yang menyumpah serapahi Riana dulu saat memutuskan meninggalkan Ardian.


“Tidak boleh ya?” Sahut Riana lesu.


“Ya sudah kalau tidak boleh”


Ardian mengusap wajahnya, lalu memindahkan tangannya menangkup kedua pipi Riana, “Tidak apa-apa, aku hanya takut jika misal nanti omongan orang-orang disana akan membuatmu tidak nyaman” Ucapnya.


“Aku janji tidak akan mengganggumu, aku juga tidak akan terbawa perasaan jika mereka menyumpahiku di belakang karena memang aku salah” Ucap Riana meyakinkan Ardian.


Ardian menghembuskan napasnya pelan, “Baiklah, kau boleh ikut” Ucap Ardian menyetujui ide Riana. Sebenarnya terbesit rasa senang di dalam hati Ardian, mengingat dulu Riana selalu memberikan perhatian dan tak jarang juga menemaninya bekerja seperti yang diinginkan wanita itu sekarang.

__ADS_1


__ADS_2