Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Perihal Rumah Terjual


__ADS_3

“Berapa hasil penjualannya, bu?” Tanya Riana.


Setelah keadaan sudah mulai membaik, mereka sudah pindah rumah sudah menatanya juga. Mereka berkumpul di ruang keluarga yang benar-benar seadanya.


Yang baru Riana mengerti, barang-barang elektronik banyak yang dijual juga. Seperti Televisi, kulkas, sound system, dan masih ada beberapa lagi. Itu yang membuat Riana bingung, rumah sudah terjual tapi, masih menjual banyak barang?


“80 juta” Jawab ibu mertuanya.


“Hanya 80? Kan tawarannya 250 juta? Setidak-tidaknya bisa deal dengan 170 juta, tidak bisa?” Tanya Riana.


“Yang penting uang itu laku” Ucap ibu mertuanya.


“Hutang sudah di bayar?” Tanya Riana.


“Buat bayar Dp motor 5 juta, buat ponsel baru 6 juta, buat bayar hutang yang kecil-kecil itu 5 juta, mengambil sertifikat rumah di bank 15 juta, mengambil STNK dan BPKB 5 juta, berapa itu?” Begitu rincian pengeluaran yang di sampaikan ibu mertuanya.


“Penjualan alat elektronik, berapa?” Tanya Riana.


“Kau ini kenapa tanya-tanya terus? Mau minta jatah?” Sahut ibu mertuanya sinis.


“Tidak, mau tau saja apa hutang keluarga kita sudah benar-benar beres atau belum” Ucap Riana.

__ADS_1


“Memangnya jika belum beres kau mau membantu?”


Huh, Riana hanya bisa menghela napas. Sebenarnya ibu mertuanya itu punya masalah hidup apa dengan dia? Riana memilih diam saja, sudah tidak mau menjawab perkataan sang ibu mertua.


“Urusan keuangan, memang diurus dengan ibu mertuamu saja, Riana. Sepertinya 80 juta itu masih tidak cukup jika untuk membayar hutang” Ucap ayah mertuanya.


“Aku hanya bertanya perihal perinciannya saja bukan? Jika ada debkolektor yang datang lagi, setidaknya aku tidak akan terkejut” Ucap Riana.


“Aku tidak tau ibumu habis berapa juta saat membeli bahan-bahan bangunan untuk renovasi rumah nanti, ada juga untuk beli beberapa perabotan rumah sama untuk modal usaha” Sahut ayah mertuanya.


“Bahan bangunan? Renovasi rumah? Perabotan rumah? Sebaik-baiknya ibu mertua saja” Ucap Riana lalu pergi ke kamarnya, sudah tidak habis pikir dengan


Di kamar sendirian, membuat Riana begitu pusing, kehidupannya sedang di jungkir balik oleh Tuhan, bahkan kamar itu tidak punya pintu, dia juga sekarang harus tidur di kasur lantai, lemarinya pun sudah tidak ada pintunya.


“Tuhan, aku lelah” Ucap Riana, penjualan tokonya pun mulai menurun seiring dengan semakin sedikitnya karyawannya.


“Sayang” Nathan masuk ke kamar, menyapa Riana yang masih rebahan.


“Ada apa?” Tanya Riana.


“Kau sedang ada masalah?” Tanya Nathan, duduk di samping istrinya.

__ADS_1


“Tidak juga, hanya beberapa masalah pekerjaan saja” Jawab Riana, mengatakan perihal pekerjaannya saja.


“Apa kau tidak ingin melibatkanku dalam bisnismu? Sepertinya aku juga cukup berpotensi di dunia bisnis” Tanya Nathan.


“Kau memiliki potensi apa?” Tanya Riana.


“Kau bisa mengajariku sejak awal bukan?” Sahut Nathan.


“Apa menurutmu aku ada waktu untuk melakukannya?” Tanya Riana, menarik selimutnya lalu tidur membelakangi suaminya.


“Jangan tidur dulu, transferkan aku uang untuk membayar game” Ucap Nathan, menggoyangkan tubuh istrinya pelan, bahkan tanpa malu meminta uang untuk game-nya.


“Memangnya kau tidak punya saldo?”


“Tidak punya, kau tau bukan jika aku tidak memiliki tabungan sama sekali, setidaknya jangan bersikap pelit dengan suamimu” Ucap Nathan, masih mencoba bersikap seenaknya sendiri.


“Setidaknya aku tidak pernah meinta uang belanja padamu meski sebenarnya aku memiliki hak untuk itu” Sahut Riana.


“Kau tau bukan, jika gajiku selalu aku berikan kepada ibu, lagipula kita sedang terlilit hutang, apa salahnya aku memberikan keuangan padanya” Jawab Nathan.


“Terserah padamu saja” Sahut Riana.

__ADS_1


“Sayang, ayolah. Aku hanya butuh 3000 rupiah” Ucap Nathan.


Riana yang pusing dengan rengekan suaminya, akhirnya mengambil ponsel dan men-transfer Nathan.


__ADS_2