Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Panen


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, tiga bulan berlalu begitu cepat. Entah dengan apa Riana akan menutupi perutnya yang semakin membuncit.


Pagi itu dia sedang berada di kamarnya dengan sang suami, bersiap pergi ke tempat kerja masing-masing.


“Hari ini panen kan? Aku ikut ya?” Ucap Riana, wanita itu tengah bersiap dengan pakaian longgarnya agar perutnya tidak begitu menonjol mencolok.


“Boleh” Sahut Nathan.


Setelah sarapan mereka meluncur menuju rumah orang tua Nathan. Rumah kontrakan itu berhasil di renovasi hanya di bagian teras dan ruang tamu, selebihnya mungkin ibu mertua sedang mengumpulkan uang dari Riana?


“Hasil panen nanti, mau di kemanakan?” Tanya Riana.


“Ibu bilang semuanya akan di jual” Sahut Nathan.


Riana mengangguk, “Jangan lupa berbagi dengan yang lain” Tutur Riana, dia memang tidak pernah serakah dengan apa yang ia miliki bukan?


Sesampainya di rumah orang tua Nathan, mereka segera turun dan mulai membantu satu sama lain. Riana membantu ibu mertuanya di dapur yang ternyata sudah ada mbak Megan disana, sedangnya Nathan membantu sang ayah yang sedang memanen jagung.


“Woah, menantu kesayangannya sudah datang mbak” Ucap Megan pada ibu mertua Riana.


Riana hanya tersenyum sebagai balasan, malas juga jika harus meladeni wanita itu.


“Masak apa, bu?” Tanya Riana.


“Sudah, tidak usah membantu. Keluar saja, memangnya tidak ke toko? Tumben sekali ikut Nathan kesini”

__ADS_1


Deg


Dia sedang di usir atau sedang di manja agar tidak membantu? Pikir Riana.


“Yakin bu, tidak mau di bantu?” Tanya Riana lagi, mencoba mencari jawaban dari sahutan yang di lontarkan ibu mertuanya nanti.


“Sudah ada Megan, keluar saja”


Nada ibu mertuanya memang sinis begitu sepertinya, bahkan tidak melihat Riana saat mengucapkan kalimat itu. “Baiklah, aku akan membantu di luar saja” Ucap Riana.


Wanita itu membawa kantong plastik tanggung berawarna hitam putih dan mulai memanen cabai merah yang meletup di setiap pohonnya bak kembang api di siang hari. Hal itu membuat Riana sangat senang dan cukup menyegarkan matanya.


Riana jadi teringat, dulu ketika ayahnya masih ada, dia selalu di bawa berwisata. Alih-alih ke wahana bermain, dia malah dikenalkan dengan alam oleh sang ayah. Pergi ke kebun teh, kebun apel, kebun tomat dan cabai, bahkan pernah pergi ke kebun singkong. Tidak heran, jika Riana mampu memberikan masukan-masukan kepada suaminya dan ayah mertua perihal cara bercocok tanam tanaman-tanaman yang berada di depan matanya saat ini.


Ya, pintu belakang rumah kontrakan itu terhubung langsung dengan perkebunan. Meski perkebunan itu terbilang luas tapi, Riana yakin sekali bahwa teriakan sang ibu mertua terdengar jelas di telinga Nathan dan ayah mertuanya.


Mengapa begitu?


Terbukti dari kedua lelaki itu menoleh pada sang ibu mertua dan mengacungkan jempol mereka sebagai jawaban dan di susul dengan kembalinya mereka ke arah kontrakan.


“Hey Riana, ibu mau bertanya” Ibu mertua membuka percakapan setelah mereka menghabiskan makan siang. Ayah mertua dan Nathan sudah kembali ke kebun jagung untuk memanen.


“Kenapa, bu?”


“Apa tokomu sedang sepi?” Tanya ibu mertua, lembut. Tidak sinis seperti biasanya.

__ADS_1


Mendengar nada biacara sang ibu mertua, Riana jelas tau pasti ada udang dibalik batu, “Toko berjalan seperti biasanya, bu” Jawabnya.


“Rumah ini kan belum di renovasi semua, masa kamu tidak mau membantu?”


Boom


Benarkan apa yang dipikirkan Riana? Ada udang di balik batu!


“Iya ih, masa rumah kamu bagus begitu tapi, rumah ibu mertuamu begini? Temboknya saja masih berupa pondasi bata, belum dilamir dan diberi cat, lantainya juga lihat! Masa semen begini” Sahut Megan.


Jujur saja, Riana tidak nyaman dengan kehadiran Megan di antara mereka. Bukan apa-apa, hanya saja bukankah ini seharusnya menjadi masalah internal di antara keluarga Nathan dan Riana?


“Bu, uang yang Riana beri itu sudah lebih dari cukup, seharusnya itu juga bisa untuk menabung juga” Tanpa mempedulikan Megan, Riana langsung menjawab perkataan ibu mertuanya dengan halus dan tegas.


“Ya tapi, kan kebutuhan ibu juga banyak. Belum lagi untuk membeli pupuk dan semua kebutuhan perkebunan itu” Ucap ibu mertua, tidak terima dengan penolakan Riana.


Riana mengangkat alisnya sebelah, “Bu, maaf. Tapi, modal perkebunan sudah seluruhnya aku berikan kepada Nathan, bahkan bisa dikatakan itu lebih dari cukup mengingat aku juga sudah memperkirakan semua bahan-bahannya beserta harga dan kualitasnya”


Skak mat


Bisa biacara apalagi sekarang ibu mertuanya itu?


“Pelit sekali ya jadi menantu” Gumam Megan.


Riana hanya diam meskipun mendengar gumaman itu. Menurut Riana, dia sudah cukup membantu dengan memberi uang belanja yang lebih dari biasanya. Di tambah dengan perkebunan yang juga di biayai olehnya. Bukan pelit tapi, bukankah wanita yang sudah berumah tangga adalah bendahara untuk keluarganya?

__ADS_1


__ADS_2