
Keesokan harinya, Nathan terbangun tanpa suara berisik Riana sedang memasak seperti biasa. Lelaki itu bangun dalam kesunyian diri.
Berpikir mungkin Riana berada di rumah sang mama, Nathan segera bangkit dan membersihkan diri lalu menjemput sang istri di kediaman orang tua Riana.
Tok
Tok
Tok
“Iya, sebentar” Suara teriakan itu menggema sampai di depan pintu.
Dengan sabar, Nathan menunggu mama mertuanya membukakan pintu meskipun sebenarnya hatinya sudah mau mencelos mengingat dirinya tidak mendapatkan restu dan kembali dengan membawa masalah rumah tangganya.
Ceklek
Deg
Rifa, ibu Riana pun terdiam. Melihat menantu yang tidak direstuinya berada di hadapannya dari atas sampai bawah, “Ada apa?” Tanyanya cuek.
“A-anu ma. Saya mau menjemput Riana”
Rifa mengerutkan keningnya dengan apa yang dikatakan Nathan.
“Memangnya Riana pergi kemana?” Tanya Rifa.
“Bukannya kemari?” Tanya Nathan balik, bingung dengan jawaban mama mertuanya yang sepertinya sudah jelas Riana tidak ada di sana.
“Cih, sudah kuduga kehidupan Riana tidak akan berjalan dengan baik dengan lelaki sepertimu. Pergi saja dari sini, Riana tidak ada disini. Kau memang hanya akan membuat Riana berada di lubang kesengsaraan. Jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapanku”
Brak
Pintu itu tertutup kasar, meninggalkan Nathan di depan rumah yang masih terdiam dengan ucapan mama mertuanya.
Benar, selama dengan dirinya Riana tidak pernah merasakan bahagia. Lelaki itu melangkah gontai kembali ke toko.
__ADS_1
Sedangkan di dalam sana, Rifa sebagai seorang ibu tentu bingung mendapati sang putri pergi entah kemana. Sudah lama tidak menghubungi sang putri, rupanya dia malah memilih menghubungi Ardian, mantan kekasih sang putri.
“Halo, Ardian” Ucap Rifa setelah Ardian mengangkat panggilannya.
“Halo ma. Tumben, ada apa?” Tanya Ardian dari seberang sana.
“Ardian maaf ya mengganggu waktumu. Mama mau bertanya, dulu kalau Riana sedang tidak enak hati, larinya kemana ya?” Tanya Rifa ragu, takut jika ternyata Ardian malah terganggu dengan panggilannya.
Terdengar Ardian menghembuskan nafasnya di seberang sana, “Riana sedang ada masalah ya ma dengan suaminya?” Tanya Ardian.
Rifa pun sebenarnya tidak tau pasti apa yang terjadi mengingat dirinya tadi kan ;angsung mengusir Nathan.
“Sepertinya begitu tadi, Nathan datang kesini dan mencari Riana tapi, Riana memang tidak kesini. Apa mungkin ada di toko ya? Biar mama lihat di tokonya” Ucap Rifa.
“Mama di rumah saja, Riana tidak akan ada di toko, biar Ardian saja yang mencari Riana. Nanti, Ardian kabari mama. Jangan panik ya ma”
Rifa tersenyum, ternyata Ardian malah menawarkan diri untuk mencari Riana.
“Terimakasih ya, nak” Sahut Rifa.
Panggilan mereka terputus setelahnya, Ardian langsung menuju toko untuk bertanya kepada Lea.
Di sisi lain, Nathan sudah tiba di toko. Hanya ada Lea dan karyawannya di sana. Toko buka pukul tujuh pagi jadi, saat Nathan datang mereka semua sudah buka dan siap bekerja.
“Apa Riana ada?” Tanya Nathan pada Lea.
“Maaf mas Nathan, mbak Riana tidak masuk. Katanya dia tidak enak badan, memangnya mas Nathan tidak tau?” Tanya Lea.
Wajar jika Lea bertanya seperti itu mengingat Nathan adalah suami atasannya. Masa tidak tau jika istrinya sedang sakit dan tidak masuk bekerja?
“Aku tidak percaya denganmu, aku mau lihat sendiri ke atas” Ucap Nathan lalu langsung pergi ke ruangan Riana yang ternyata di kunci. Sedangkan Lea hanya mampu mengikuti lelaki itu dari belakang.
“Riana buka pintunya!”
“Jangan menghindar dari masalah!”
__ADS_1
“Ayo biacarakan semuanya baik-baik”
“Riana”
Brak
Brak
Brak
Lea hanya melihat Nathan menggeluti pintu itu, biar saja suami atasannya itu menggedor pintu hingga pegal.
“Mana kuncinya?” Tanya Nathan pada Lea.
Lea hanya menggeleng, “Hanya mbak Riana yang memegang kunci ruangannya” Ucapnya berbohong.
“Ck, apa dia benar-benar tidak datang kemari?” Tanya Nathan.
Perangainya itu terlihat sangat bossy disana. Jujur saja, Lea tidak suka.
“Tidak usah mencari Riana. Pergi saja bersama wanitamu yang lain”
Ardian muncul dari belakang Nathan, memperingatkan lelaki yang menjadi suami mantan kekasihnya.
“Sudah kuduga dia tidak akan hidup bahagia bersamamu” Lanjut Ardian melihat Nathan, sahabat masa kecilnya.
“Kau itu hanya mantannya, jika tidak tau apa-apa lebih baik diam. Sok tau sekali jadi orang” Sahut Nathan.
Lea hanya memandang keduanya bingung. Sebenarnya ada masalah apa antara kedua lelaki itu dan juga bosnya? Apa dia sedang berada di dalam sinetron? Batin Lea.
Ardian tidak bergeming, dia langsung melihat Lea, “Aku yang akan menggantikan Riana selama dia tidak masuk” Ucapnya pada Lea.
Tentu saja Nathan langsung naik pitam, “Cih, apa kau menyembunyikan Riana? Berani-beraninya mengatur jalannya toko ini” Ucapnya.
“Jika kau punya malu, pergi saja dari sini. Jangan lupa, modal utama dari toko ini berasal dari aku” Sahut Ardian yang sukses membungkam mulut Nathan. Membuat Nathan langsung pergi karena malu.
__ADS_1