
“Mana uangnya?” Ucap ibu mertuanya ketus.
Riana membuka dompetnya dan memberikan sejumlah uang yang mungkin cukup untuk dipergunakan belanja selama satu minggu kedepan.
Setelah ibu mertuanya turun, Riana langsung melajukan mobilnya menuju toko. Untuk ponakannya? Tentu saja dia mendahulukan putri cantik itu.
Drrt
Drrt
Drrt
Ponselnya berbunyi, ternyata itu dari Lea.
“Mbak maaf? Apa hari ini masuk kerja?” Tanyanya dari seberang sana.
“Iya, aku sudah dijalan mungkin 10 menit lagi aku sudah tiba. Apa yang lain sudah disana?” Tanya Riana.
“Ya, mereka datang lebih awal dari jadwal” Jawab Lea.
“Baiklah, aku matikan dulu. Terimakasih” Ucap Riana lalu memutuskan sambungan panggilan mereka.
...***...
Sesampainya di toko, Riana segera masuk ke ruang meeting. Dirinya ternyata sudah ditunggu oleh vendor-vendor dan beberapa rekan kerjanya yang lain.
“Maaf, aku terlambat” Ucapnya lalu duduk di kursinya.
“Tidak apa-apa, sepertinya kami terlalu rajin untuk pengantin baru hmm” Goda salah satu dari mereka.
“Lihat saja matanya, sekarang jadi sedikit menghitam. Apa kau selalu begadang setiap malam?”
__ADS_1
“Terlihat begitu lelah hmm”
Semua orang tertawa puas menggoda Riana sedangkan yang digoda hanya tersenyum tipis mendengarnya, mereka hanya tidak tau bagaimana keadaannya setelah menikah.
“Baiklah, nanti lagi menggodaku ayo mulai meetingnya” Jawab Riana yang segera dihadiahi anggukan dari seluruh rekan kerjanya.
“Jadi, timku sudah menyiapkan beberapa desain hijab baru, sepertinya kami juga akan meluncurkan beberapa produk fashion muslim baru” Ucap Riana membuka meeting pagi itu.
Satu berjalan dengan baik hingga ponselnya terus berdering.
Drrt
Drrt
Drrt
“Angkat saja dulu” Ucap salah satu rekannya.
Wanita itu tersenyum, “Maafkan aku, aku akan segera kembali. Kalian bisa lanjutkan dulu” Ucapnya lalu pergi untuk mengangkat panggilan dari ibu mertuanya.
“Jemput ibu sekarang, tidak ada kendaraan umum disini” Jawab ibu mertuanya dari seberang sana.
Riana memejamkan matanya, mencoba menetralisir diri. Apa-apaan?
“Apa Nathan tidak bisa dihubungi, bu?” Tanya Riana dengan nada rendahnya.
“Jika aku bisa menghubunginya sejak tadi, mungkin aku tidak akan menyuruhmu datang kesini. Cepat, ini sudah siang” Sahut ibu mertua ketus.
“Aku sedang ada meeting, akan Riana pesankan ojek online untuk ibu, tunggulah sebentar disana” Ucap Riana lalu mematikan sambungannya, menghembuskan nnafasnya kasar sambil memesankan ojek online untuk iu mertuanya.
“Ya Tuhan, sampai kapan ini terjadi?” Gumamnya sebelum kembali memasuki ruang meeting dengan senyuman.
__ADS_1
“Sekali lagi maafkan aku, sudah sampai mana?” Tanyanya.
“Kami sudah berbicara tentang konsep dan latar belakang yang akan kau terapkan, bisa kau presentasikan semuanya dengan detail?” Minta seorang pemasuk benang di tokonya.
“Aku acc semua permintaan kain yang kau minta. Aku harap tokomu terus berkembang, bangun pabrik konveksi secepatnya” Ucap salah satu vendornya.
Kenapa tiba-tiba acc? Dia melirik Lea yang sedang tersenyum padanya.
“Jangan khawatirkan marketingmu, percayakan saja padaku” Ucap salah satu brand ambasador yang ia punya untuk produknya.
Riana tersenyum, “Terimakasih semuanya, ini kabar yang begitu baik untukku”
Setelah itu mereka semua berbincang sebentar di luar pekerjaan dan kembali masing-masing.
“Apa yang terjadi? Tadi sepertinya agak sulit?”
“Mereka melihat peluang, target pasar dan juga model bisnis yang begitu mencolok di proposal anda jadi, mereka bisa langsung memperhitungkan proyeksi keuntungan yang mereka dapatkan jika ini berjalan dengan baik dan sesuai rencana” Jawab Lea.
Riana mengangguk paham.
“Sudah waktunya buka toko Lea, aku akan mengecek produksi kita di belakang. Nanti setelah aku kembali, aku mau laporan selama aku tidak ada sudah siap di mejaku” Ucap Riana membereskan berkas-berkasnya, lalu meletakkan di ruangannya dan pergi menuju tempat produksi hijab yang terletak di belakang toko.
“Bagaimana kinerja selama ini?” Tanya Riana pada penjaga yang ditugaskan disana untuk mengawasi jalannya produksi.
“Semua berjalan dengan baik mbak, mbak sendiri bagaimana jalannya? Apa sudah lancar?”
Ha?
“Bagaimana maksudnya?” Tanya Riana.
“Ehem, setelah malam pertama itu kan…” Gadis itu menggantung ucapannya.
__ADS_1
Sialan, “Kau ini jangan menggodaku begitu” Jawab Riana malu-malu, ternyata pertanyaannya gelap.
Jika ditanya, Riana memang dekat dengan para karyawannya hanya saja mereka begitu kaku dengan Riana, hanya pengawas produksi itu yang menurutnya tidak kaku dan sering bercanda dengannya.