
Keesokan harinya, seperti biasa Riana bangun di pagi hari dan melakukan pekerjaan rumah.
Pagi itu, saat Riana sedang bersiap Nathan tiba-tiba memeluknya dari belakang.
“Kau tidak siap-siap?” Tanya Riana.
“Sebentar lagi” Jawabnya.
“Sarapanmu sudah aku siapkan, bekalmu juga tapi, itu makanan yang aku pesan dari luar” Ucap Riana. Wanita itu benar-benar tidak memasak hari ini, dia hanya memesan makanan dari luar dan menyiapkannya dimeja makan.
Nathan hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Kita sarapan bersama kan seperti biasa?” Tanya Nathan.
“Aku harus segera pergi, hari ini jadwalku sedikit padat karena akan ada launching produk baru jadi, aku harus melihat sampelnya. Ibu katanya akan ke pasar bukan hari ini? Tolong antarkan dia sekalian ya” Jawab Riana.
Percayalah, itu bohong. Dia hanya ingin menghindar dari masalah dan ibu mertuanya. Dia hanya tidak ingin berdebat dengan ibu mertuanya hari ini.
Sedangkan sebagai jawaban, Nathan hanya tersenyum lalu mengangguk, masih dengan posisi memeluk Riana.
“Hari ini ada undangan reuni SMA-ku, kau ikut ya?”
__ADS_1
Deg
“Apa kau yakin akan mengajakku?” Riana menghentikan sejenak tangannya untuk merias.
“Tentu” Jawab Nathan mantap.
“Apa kau tidak malu membawaku kesana? Bukankah mantanmu lebih cantik daripada aku?” Sahut Riana sarkatis.
“Hmm, tidak juga. Kau tau? Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, mungkin dari segi fisik kau kalah tapi, dari segi sikap kau jauh lebih unggul. Kita tidak bisa mendapatkan seseorang yang sempurna, seperti halnya A dan B jika si A memiliki kekurangan dan itu adalah kelebihan si B, begitu juga sebaliknya maka kekurangan B adalah kelebihan dari si A”
Riana terdiam sejenak, membenarkan perkataan itu tapi tidak membenarkan beberapa kalimat suaminya di awal tadi.
“Aku sudah siap, aku pergi dulu. Kau, segeralah mandi” Ucap Riana lalu meninggalkan Nathan seorang diri di kamar mereka.
“Hey RIANA”
Terlihat bagaimana ibu mertuanya tergopoh-gopoh keluar dari rumah, masih menggunakan daster dan melakukan apapun, sepertinya bangun tidur?
Riana menyandarkan tubuhnya sebentar sambil membuka kaca mobilnya.
“Kau mau kemana ha? Kan sudah aku bilang aku mau ikut, kau ini bagaimana sih?” Omel ibu mertuanya.
__ADS_1
“Ibu, aku sedang ada rapat penting pagi ini. Jadi, ibu diantar Nathan dulu ya” Ucap Riana dengan nada rendahnya.
Terlihat sang ibu mertua melotot jahat, “Lalu kau mau meninggalkan aku begitu saja? Mana uang belanjanya?” Sahutnya sewot.
Ah iya, Riana hampir lupa dengan itu.
Gadis itu mengeluarkan dompet dan memeberikan sejumlah uang untuk sang ibu mertua. Uang itu langsung diambil kasar dan menghitungnya di depan Riana, “Ini kurang” Ucap ibu metuanya.
“Itu cukup ibu, hari ini aku akan belanja keperluan dapurku sendiri, permisi” Jawab Riana lalu pergi menuju tokonya.
Di perjalanan, tentu saja Riana terlihat tidak begitu bersemangat. Di samping dari segala hal perihal pekerjaan, perihal di rumah pun membuatnya pusing.
Ibu mertuanya semakin hari terasa semakin menjadi.
Tiba-tiba teringat ajakan Nathan pagi tadi.
“Apa aku bisa berharap untuk menggantikan Arianti yang sudah dikenal dan disambut baik di lingkungan Nathan?” Gumamnya.
Saat itu, Riana begitu tidak percaya diri bertemu dengan orang luar bersama Nathan, mengingat bagaimana dulu bahkan kakak sepupu Nathan saja membandingkan dirinya dengan Arianti.
“Apa aku ke salon saja ya hari ini? Sepertinya tidak ada salahnya mencoba, melakukan beberapa treatment untuk nanti malam”
__ADS_1
“Nanti saja, agak sore mungkin? Setelah pekerjaanku selesai, aku akan langsung pergi ke salon. No bad idea”
Pagi itu Riana bermonolog sendiri.