
Setelah puas berbelanja, Riana di antar oleh Ardian. Mereka tidak jadi ke taman, dikarenakan Riana harus menata ulang kamarnya. Agar tidak selalu teringat dengan putranya yang telah tiada, dia ingin meringkas semuanya di kamar kosong yang memang tidak terpakai di ruangan belakang, dimana sebelumnya Ardian selalu melakukan ibadah disana saat berada di rumah.
“Kau yakin?” Tanya Ardian, melihat sorot mata sendu Riana saat menatap pojok ruangan khusus yang disiapkan untuk bayinya sebelumnya.
Riana mengangguk.
Ardian akhirnya membantu Riana, malah sepertinya dia lebih aktif karena Riana kadang terdiam saat melihat baju-baju bayi di tangannya. Tidak ingin melihat Riana sedih terlalu lama, lelaki itu akhirnya langsung membereskan segalanya dengan cepat.
“Sudah selesai” Ucap Ardian setelah sekian jam berkutat dengan barang-barang itu.
“Terimakasih” Sahut Riana, tersenyum.
“Ardian, Riana ayo makan malam dulu”
Itu suara Rifa, di saat anak-anaknya sedang beres-beres, wanita itu sibuk memasak sejak tadi.
Tidak tanggung-tanggung, Rifa memasak menu yang bisa di katakan menu bintang lima. Seperti gurame asam manis, oseng cumi asin pedas di barengi dengan lalapan dan sambel khas yang sering Rifa masak.
__ADS_1
Terlihat sangat nikmat dan menggoda, tidak heran jika Riana juga pandai memasak.
“Wah, banyak sekali” Sahut Ardian.
“Mama benar-benar memanjakan perutku beberapa minggu ini” Ucap Riana, menyahuti ucapan Ardian.
Rifa tersenyum, wanita paruh baya itu akhirnya ikut duduk di meja makan.
Entah sejak kapan, setiap kali makan di rumahnya, Ardian selalu di perlakukan bak raja oleh Riana. Dia melayani Ardian dengan baik.
Riana mengangguk kecil, menunjukkan senyum manisnya.
Sedangkan di sisi lain, di keluarga Nathan suasanya begitu sunyi, tidak ada makan malam hangat seperti Riana. Wajah mereka di penuhi ketegangan, seperti tidak terurus, rasa syok dan juga tidak terima masih mereka rasakan, kecuali ayah Nathan yang tampak tenang menyantap makanannya.
“Beginilah jika tidak mau berhati-hati dalam bertindak dan berbicara. Itu akan menjadi boomerang untuk diri sendiri, jadikan sebagai sebuah pelajaran, jangan seperti orang bod*h yang buta dengan hal sekecil apapun” Ucap ayah Nathan. Lelaki itu bisa merasakan bagaimana perasaan anak dan istrinya tapi, apa boleh buat? Arianti harus mendekam disana karena ulahnya sendiri, entah kebencian macam apa yang merasuki wanita itu hingga tega bervuat keji.
“Ck, kau terlalu banyak omong” Sahut ibu Nathan.
__ADS_1
“Jadilah suami yang baik untuk istrimu kelak, tuntun dia ke jalan yang baik. Aku adalah seorang suami dan ayah yang gagal jadi, jangan meniruku” Ucap ayah Nathan pada putranya. Dia sudah tidak begitu peduli dengan istrinya yang selalu mengatakan seolah semua yang dilakukan adalah benar.
“Dulu, dengan Riana dia tidak mau, hanya mau dengan uangnya. Sekarang, dengan Arianti pun sama, dia selalu mencela dan membandingkan Arinati dengan Riana. Itu juga bisa menjadi dasar kebencian Arianti” Lanjut ayah Nathan.
Dia sudah tau, pasti istrinya akan mengamuk sebentar lagi tapi, apa boleh buat? Tidak seharusnya dia membiarkan istrinya begitu sejak dulu. Sekarang, dia hanya bisa berharap dengan putranya. Semoga saja bisa bertanggung jawab dan tidak lagi mendengar ibunya yang antagonis itu.
“Kau sedang menyalahkan aku? Kau memojokkan aku? Mengatakan semua ini terjadi karena aku ha? Hey, seandainya kau kaya sejak dulu mungkin kita tidak akan berakhir menjadi gelandangan seperti sekarang” Sahut ibu Nathan.
“Aku sudah cukup mapan sebelumnya tapi, gaya hidupmu dan juga gengsimu terlalu tinggi. Kau kira rumah siapa yang sudah kau jual untuk membayar hutang? Sadarlah, itu semua milik keluargaku, tidak hanya satu tapi, sudah dua rumah kau habiskan. Uang belanja pun sudah selalu lebih cukup dari yang lain, kau saja yang tidak baik dalam mengatur keuangan” Ucap ayah Nathan.
“Hey,…”
Belum sempat ibu Nathan menyelesaikan ucapannya tapi, “Diam! Sebagai ibu rumat tangga, wanita adalah jantung dan bendahara di dalamnya. Bagaimana nasib keluarga selanjutnya sepenuhnya adalah wanita. Kenapa? karena sebagai seorang suami aku selalu mengingatkan padamu ‘Hemat hemat hemat!!!’, seluruh gajiku aku berikan padamu untuk di tabung dan di kelola dengan baik tapi, nyatanya?”
“Aku tidak mengizinkanmu bekerja di masa lalu untuk fokus mengurus anak dan membesarkannya dengan baik dan tegas tapi, apa hasilnya? Aku bahkan tidak membebankan padamu pekerjaan rumah tangga, aku memanggil PRT untuk membantumu, apa itu masih kurang bagimu? Atau caramu menikmati hidup saja yang tidak benar?”
Ayah Nathan sepertinya sudah berada di ujung tanduk kesabarannya. Semua yang terjadi hari ini memang salahnya yang tidak bisa mendidik istrinya dengan baik.
__ADS_1