Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Perhatian Ardian


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Ceklek


Kali ini Ardian tidak perlu menunggu terlalu lama, karena Riana sudah langsung membukakan pintu.


“Kau sengaja menungguku atau apa?” Tanya Ardian, mengingat betapa cepat Riana menyambutnya.


“Tidak, tadi hanya kebetulan aku memang ingin membuka pintu untuk bersih-bersih” Sahut Riana, mengangkat sedikit sapu yang ia pegang sebagai bukti.


Ardian pun malu dengan ucapannya sendiri. Lelaki itu langsung membawa Riana kembali masuk dan menutup pintu.


Tentu saja Riana takut dengan perlakuan tiba-tiba itu, “Kau mau apa?” Tanya Riana, kali ini mengangkat sapunya tinggi-tinggi.


“Hey, jangan menggunakan kekerasan. Aku lelah membawa semua belanjaan ini. bukannya di suruh masuk, kau hanya menyuruhku berdiri di depan pintu sana?”

__ADS_1


Benar juga, Riana segera menurunkan sapunya dan menaruhnya di dekatnya. “Lagipula itu apa? kenapa banyak sekali? Apa kau akan pindah rumah? Kau bahkan memanggil semua tuka teknisi kemari” Cerocosnya.


Sebenarnya Ardian gemas tapi, dia cukup tau dimana batasannya.


“Aku memberikan kenyamanan terbaik untukmu” Sahut Ardian, membawa belanjaannya ke dapur. Lelaki itu mengambil mangkuk dan juga piring.


Riana hanya melihat lelaki itu dari belakang. Jangan dikatakan lagi bagaimana perasaannya saat ini, sembilan tahun bersama tidak begitu saja menghilangkan perasaan dengan lelaki itu. Apalagi dirinya sudah jelas terbukti salah mengambil keputusan.


“Makanlah ini. Aku dan mamamu sudah susah payah membuatnya” Ucap Ardian menyajikan sup ayam suwir hasil buatannya yang dibantu mama Rifa tadi.


Riana melihat masakan itu, terlihat masih hangat dan segar di matanya. Entah kenapa rasanya begitu ingin menyantap sup itu dengan lahap, “Mama yang memasak?” Tanyanya.


Riana duduk, mengambil garpu dan,…


Sruuupp


Wanita itu menyeruput kuah sopnya dengan merdu, menandakan dirinya sangat menyukai makanan itu. Memang rasanya berbeda dari masakan sang mama tapi, itu jelas sudah cukup lezat untuknya.


Ardian yang melihatnya hanya tersenyum bahagia. Lelaki itu menyusun barang-barang belanjaannya di lemari dan juga kulkas sambil menunggu Riana makan.

__ADS_1


“Jangan melakukan hal-hal yang berat, aku akan melakukannya untukmu” Sahut Ardian setelah selesai dengan pekerjaannya lalu pergi ke depan, mengambil sapu yang di geletakkan begitu saja tadi oleh Riana.


Riana jelas terenyuh. Rasanya disini dia lebih diperhatikan daripada di rumahnya sendiri. Dia merasa lebih ‘ada’ daripada berada di antara keluarga Nathan.


Entahlah, sebenarnya dia hanya mengikuti arus dan kata logikanya sekarang. Kemarin, mengikuti kata hati membuatnya jatuh berkali-kali.


Wanita itu sebenarnya masih menginginkan pernikahannya dengan Nathan masih bisa dipertahankan tapi, apa dayanya jika Nathan saja bahkan tidak menerimanya apa adanya?


Setelah menghabiskan supnya, Riana mencuci piring dan mangkuknya.


“Langsung mandi sana. Bawa juga belanjaan pakaian di ruang tamu tadi” Sahut Ardian, kali ini lelaki itu sudah menyapu sampai di dapur, tersisa sedikit lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya.


“T-Tapi?”


“Tidak ada tapi-tapian, aku tau ini harus di pel sebentar lagi. Sementara aku mengepel bagian luar dan ruangan lain, pergilah dan mandi. Nanti jika sudah selesai aku akan menyapu dan mengepel kamarmu”


Ardian benar-benar menggantikan posisi Nathan sebagai suami siaga jika begini ceritanya. Tapi. Akhirnya Riana menurut juga. Wanita itu pergi dan melihat bagaimana Ardian membelikan beberapa buah baju santai dan baju formal untuk ibu hamil. Parahnya itu semua ditujukan untuknya.


Riana terharu, diam-diam dia menangis sambil menata baju-baju itu di lemari.

__ADS_1


__ADS_2