Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Ajari Aku Tentang Agamamu


__ADS_3

“Semuanya sudah aman ya, bu Riana tapi, ingat jangan bekerja yang berat-berat dulu, jangan angkat berat-berat juga” Ucap sang dokter kepada Riana setelah memeriksa kondisi wanita itu.


“Untuk vitamin, tetap diminum sampai habis” Lanjutnya sambil menuliskan resep vitamin untuk Riana.


“Baik, dok” Jawab Riana.


Setelah itu mereka pamit dan keluar dari ruangan dokter.


“Mau kenmana setelah ini?” Tanya Ardian.


“Ke toko” Sahut Riana.


Ardian mengangguk, “Aku antar, mobilmu biar aku yang ambil nanti” tawarnya.


Riana hanya mengangguk, menyetujui saja usulan Ardian, tidak mau lebih panjang lagi urusannya.


Kurang lebih 30 menit mereka menempuh perjalanan, akhirnya sampai di tujuan.


“Bawa ini, mana kunci mobilmu” Ucap Ardian, memberikan kunci mobilnya sekaligus meminta kunci mobil Riana untuk di ambil di lapas tadi.


“Selamat pagi” Sapa Riana saat memasuki tokonya.


“Pagi mbak” Jawab pegawai Riana hampir bersamaan.


“Lea, ke ruanganku sekarang!” Pinta Riana sambil terus melajukan langkahnya menuju ruangannya yang masih berada lantai satu.


Mereka berjalan beriringan, bukan seperti atasan dan karyawan tapi, lebih kepada seperti adik dan kakak.


Ceklek

__ADS_1


Lea menutup pintu ruangan itu, lalu berjalan menuju sofa dimana Riana sudah menunggu.


“Aku mau belajar sesuatu padamu” Sahut Riana saat Lea berhasil mendaratkan bok*ngnya dengan sempurna.


“Belajar perihal apa itu?” Tanya Lea.


“Ajarkan aku bagaimana aturan-aturan yang ada di dalam agamamu”


Deg


Lea jelas terkejut dengan penuturan atasannya. Antara senang dan penasaran?


“K-Kenapa, mbak? Kok tiba-tiba?” Tanya Lea.


“Ehm” Riana berdehem, “aku merasa tertarik dengan agamamu karena aku sempat mendengar Ardian melantunkan kitabmu dengan indah” Sahutnya.


“Lalu, kenapa tidak meminta kepada mas Ardian saja, mbak?” Tanya Lea.


“Mbak, apa yakin?” Tanya Lea, memastikan bahwa keputusan atasannya memang benar-benar menginginkan hal itu.


Riana mengangguk sebagai jawaban.


“Iman seseorang itu naik turun, mbak. Lea sangat bahagia dengan keputusan mbak yang ini tapi, Lea harap jika suatu hari nanti mbak dalam iman yang turun, mbak tidak memiliki pikiran untuk meninggalkannya” Ucap Lea, mengingatkan atasannya itu.


“Aku akan berusaha menjadi seseorang dengan iman yang kupeluk erat”


“Masyaallah tabarakallah” Gumam Lea.


“Mbak mau belajar kapan? Saya siap kapanpun” Ucap Lea antusias.

__ADS_1


“Kalau bisa secepatnya” Jawab Riana.


“Baiklah, besok pagi saya akan membawa mbak ke teman saya, kebetulan dia adalah seorang ustadzah lulusan di Madinah, insyaallah mbak akan lebih detail belajar disana. Saya juga siap menemani atau bahkan ikut andil belajar bersama dengan mbak”


Bukan Lea tidak mau memberikan arahan dan sejenisnya kepada Riana tapi, Lea juga adalah orang awam, dia tidak begitu detail perihal islam tapi, gadis itu jelas senang sekali dengan keputusan Riana.


Dia tidak mau menyia-nyiakan, Riana harus mendapatkan pembelajaran dari orang-orang terbaik.


“Baiklah, atur saja jadwalku. Kau juga ikutlah, sesekali bekerja di luar toko, tak apa. Aku tidak akan memotong gajimu”


Ucapan Riana itu berhasil membawa angin segar untuk Lea. Kapan lagi bisa mendapat gaji dan menambah ilmu tanpa bekerja?


Tok


Tok


Tok


Belum selesai perbincangan keduanya, suara ketukan pintu itu mengalihkan fokus mereka.


“Masuk” Ucap Riana dari dalam, disusul dengan terbukanya pintu ruangan itu.


“Selamat pagi, mbak” Sapa seseorang itu.


Riana tersenyum sumringah, “Hai, kalian kesini?” Tanya Riana.


Itu adalah mahasiswa dan mahasiswi yang beberapa bulan lalu dijanjikan sebuah usaha oleh Riana.


“Lea, kita teruskan pembahasannya nanti” Ucap Riana, memerintahkan Lea untuk keluar secara halus dari ruangannya.

__ADS_1


Lea pun mengangguk dan keluar dari ruangn itu setelah berpamitan.


__ADS_2