Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Pulang


__ADS_3

“Jadi, bagaimana dok?” Riana bertanya kepada sang dokter setelah melakukan pemeriksaan.


“Menurut hasil Rontgen, sepertinya ayah anda akan mengalami kelumpuhan. Beliau bersih keras tidak mau di operasi, sedangkan sengatan listrik itu menyengat titik sarafnya. Letak jatuhnya pun juga duduk dari ketinggian yang cukup jauh dengan posisi duduk, hal itu membuat tulang ekornya tertekan dan berakibat ke fungsi kakinya” Jelas sang dokter.


“Lalu, jika di operasi apa beliau akan sembuh seutuhnya seperti dulu?” Tanya Riana.


“Ya, jika operasinya berjalan lancar. Ayah mertua anda dan keluarganya tidak setuju akan hal itu jadi, ikhlaskan saja kepulihan seutuhnya untuk ayah anda” Ucap dokter itu. Lelaki itu jelas tau bahwa wanita yang ada di depannya saat ini adalah seseorang yang memperjuangkan kesembuhan ayah mertuanya sedangkan keluarga korban sendiri sama sekali tidak peduli.


“Tapi, beliau tulang punggung keluarganya dok” Sahut Riana, tidak terima dengan penuturan sang dokter yang terkesan pasrah.


“Maka, bujuk ayah mertua anda untuk mau. Karena operasi pun tidak akan bisa berjalan dengan lancar jika pasien tidak ada ke-optimisan untuk bertahan”


Riana memijat keningnya, pusing juga mendengar hal itu, “Baiklah, terimakasih dok” Ucapnya.


Dokter hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Riana sendirian di depan pintu ruangan ayah mertua.

__ADS_1


“Ayah, ayolah. Kita coba operasi ya” Riana membujuk ayah mertuanya. Wanita itu berharap sekali jika pria paruh baya di hadapannya mau mengubah cara berpikirnya.


“Tidak, nanti setelah keluar dari sini kita gunakan pengobatan alternatif saja” Ucap sang ayah mertua.


Riana menyerah, sudah berkali-kali dia membujuk ayah dari suamianya itu. Ditambah lagi dia hanya berjuang sendiri, seluruh keluarga ayah mertua menginginkan pria itu di bawa pulang saja dan menjalani pengobatan tradisional.


“Baiklah, Nathan akan mendampingimu selama masa pengobatan nanti” Gumam Riana lalu pergi mengurus biaya administrasi sebelum kepulangan ayah mertuanya.


...***...


“Kami menunggu kepulangan kalian sejak kemarin-kemarin, gimana kabar suamimu, mbak?” Tanya salah satu ibu pada ibu mertua yang menurut Riana adalah seseorang yang mungkin paling julid di lingkungan tempat tinggal mereka.


“Baik. Dia ditangani dengan baik disana. Ayo masuk dulu, ibu-ibu” Jawab ibu mertua, mempersilahkan tamu-tamunya masuk ke rumahnya.


“Oh iya”

__ADS_1


Mereka masuk satu per satu, melihat ayah mertua dengan tatapan prihatin. Didampingi dengan ibu mertua dan Nathan, mereka bertanya satu per satu tentang kronologi kejadiannya.


“Bagaimana bisa jatuh dari pohon segitu tingginya? Padahal kan waktu itu sedang panen jagung katanya?”


“Ayah ingin menebang beberapa ranting pohon di sana, karena ranting itu cukup menganggu kabel listrik yang menggantung di atas perkebunan kami, takut jika nanti ada hujan angin ranting itu malah patah ke arah kebun” Sahut Nathan.


“Tuh kan, pasti penunggunya marah itu. Sudah izin belum? Sudah permisi-permisi belum?”


“Iya loh, untung saja selamat”


“Terus sekarang kondisinya bagaimana? Kok diam saja bapaknya”


Celotehan ibu-ibu membuat Riana yang tidak pernah bergosip geleng-geleng kepala. Dia sedang sibuk membuatkan minuman untuk para tamu yang datang silih berganti, mana sempat untuk sedar duduk dan berisitirahat?


“Ayah divonis lumpuh karena tidak mau di operasi tapi, kami akan mengambil jalan alternatif pengobatan tradisional, semoga saja bisa cocok dan sembuh tanpa masuk ke meja operasi” Ucap ibu mertua.

__ADS_1


Riana hanya mampu mendengar ucapan ibu-ibu itu sambil kesana-kemari menyuguhkan minum dan kembali ke dapur setelah membawa gelas-gelas kotor dari tamu sebelumnya.


__ADS_2