
Riana merosot melihat hasil tespect yang ia gunakan. Dua garis itu menunjukkan bahwa dirinya sedang hamil bukan? Hal itu sukses membuat dunia Riana jungkir balik. Antara senaang, sedih, semuanya bercampur menjadi satu.
Mengingat apa yang dikatakan Nathan tempo hari di rumah mertua, membuat Riana ragu untuk mengatakan kehamilannya kepada sang suami.
“Apa dia akan menerimanya? Atau malah sebaliknya?” Gumam Riana seorang diri, di dalam kamar mandi, wanita itu berpikir keras.
Setelah minum obat dari Lea, Riana sudah merasa lebih baik daripada tadi. Wanita itu langsung bersih-bersih rumah dan menyiapkan makan malam untuk Nathan.
“Sayang, aku pulang” Nathan membuka pintu dan langsung pergi ke dapur saat mendengar suara berisik di dapur dan aroma wangi khas Riana memasak.
“Kau memasak? Memangnya sudah enakan?” Tanya Nathan.
Riana mengangguk, “Tadi Lea datang membawakan obat untukku” Jawabnya.
Nathan mengangguk mengerti, “Kau masak apa?” Tanyanya sambil memeluk Riana dari belakang.
“Tumis Udang dan semur telur” Jawab Riana.
“Hmm sepertinya enak, kau tidak pernah gagal memuaskan perutku”
Nathan dengan halus mengelus perut Riana. Dulu, itu tidak masalah bagi Riana malah wanita itu terkesan senang. Tapi, sekarang? Jantungnya berdetak lebih cepat mengingat hasil tespect-nya tadi, bukan apa-apa, dia hanya takut jika suaminya ternyata masih belum siap memiliki momongan, lalu apa yang harus Riana lakukan?
__ADS_1
“Kau mau langsung makan atau mau bersih diri dulu?” Tanya Riana, memasukkan masakannya masing-masing pada piring dan mangkok saji.
“Aku mau langsung makan saja, perutku berdendang ingin menyantap menu yang terlihat lezat ini”
“Ya sudah, ayo ke ruang makan”
Mereka berjalan beriringan, Riana segera menghidangkan masakannya di meja, mengambil piring dan menyiapkan semua menu di piring Nathan.
“Terimakasih sayang, kau tidak makan juga?” Tanya Nathan saat melihat Riana tidak kunjung mengambil piringnya untuk makan.
“Aku masih kenyang, takut mual lagi jika aku paksa menelan makanan lagi” Sahut Riana.
Nathan mengangguk lalu langsung menyantap makanan itu dengan dilihati oleh istrinya.
“Apa aku boleh bertanya?” Ucap Riana ragu-ragu.
“Tentu, tanyakan apapun yang kau mau” Sahut Nathan.
“Bagaimana kalau nanti aku hamil? Apa kau sudah siap menjadi figur ayah? Apa kau sudah siap memiliki anak?” Riana mengatakannya dengan penuh keraguan, bahkan sorot mata yang biasa fokus pada satu titik, kini berlarian ke kanan dan ke kiri, menunjukkan kebingungannya.
Tapi, Nathan tetaplah Nathan. Lelaki itu sama sekali tidak peka dengan keanehan itu.
__ADS_1
“Kalau di bilang siap, jujur saja aku belum siap. Aku sudah membahasnya ini di rumah ibu kemarin kan? Aku tentu masih tidak ingin memiliki momongan, aku masih ingin bekerja sampai benar-benar dapat meniti karir lalu aku juga masih ingin bersenang-senang”
Deg
Jawaban itu sukses membuat Riana bungkam. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Kekhawatirannya menjadi kenyataan, Nathan suaminya masih tidak ingin memiliki anak.
“Maka dari itu, aku lebih sering mengeluarkannya di luar” Sahut Nathan lagi, dengan senyum nakalnya.
Lelaki itu membuka ponselnya, seperti biasa membuka aplikasi game-nya.
“Tapi, kan masih besar kemungkinan untuk bisa hamil jika kau bahkan tidak menggunakan pengaman, Nathan. Menggunakan pengaman saja masih memungkinkan apalagi kalau tidak?” Ucap Riana.
“Lagipula anak kan anugerah, banyak orang di luar sana yang menginginkan buah hati, kau malah sebaliknya” Lanjut Riana, mencoba mengawali pembicaraannya.
“Ya, aku tetap saja masih tidak mau memiliki anak, Riana. Maka dari itu, aku kan sudah menyuruhmu untuk melakukan KB, kau tidak mau. Memangnya kau mau nanti badanmu melar dan besar? Benar, sekarang kau memang terlihat lebih bersih tapi, nanti? Ketika hamil, kau akan kehilangan itu semua, jerawatmu akan lebih sering muncul karena hormon yang tidak seimbang, bahkan tidak jarang akan mengeluarkan flek hitam”
Deg
Riana tertegun dengan ucapan suaminya, bahkan di saat membicarakan perihal kehamilan, suaminya itu masih membawa-bawa fisiknya.
Memangnya anak siapa yang akan Riana kandung nanti? Memangnya anak siapa yang akan di keluarkan oleh wanita itu nanti?
__ADS_1
Jika berniat begitu, kenapa harus menikah?
Kira-kira begitulah teriakan batin Riana. Daripada berdebat, Riana hanya langsung berjalan menuju kamarnya untuk bersih diri dan di akhiri dengan istirahat lebih awal. Tidak lupa, tespect tadi sudah diamankan oleh Riana, agar Nathan tidak mengetahui hal itu.