
Di kamar, Riana membuka suaranya setelah sekian lama terdiam berdua.
“Kapan cutimu habis?” Tanya wanita itu.
“Besok. Memangnya apa pentingnya bagimu?” Jawab Nathan dingin.
Huh, Riana untuk kesekian kalinya hanya bisa menghela napas.
“Tidak ada, aku hanya bertanya”
Tidak ada jawaban.
“Omong-omong, biasanya uang belanja ibu berapa satu minggu?” Tanya Riana lagi.
“Aku tidak tau, tanyakan saja pada ayah. Aku tidak pernah memberinya uang belanja selama ayah masih ada”
Deg
Tentu saja Riana tercengang dengan pernyataan suaminya.
“Memangnya kemarin kau memberinya berapa?” Tanya Nathan.
“Satu juta lima ratus ribu. Itu adalah nominal yang biasa aku berikan kepada mama dan beliau bisa mengontrol pengeluaran dengan baik selama satu minggu”
__ADS_1
“Itu kan hanya untuk kalian berdua, bukankah berbeda dengan ibuku. Dia harus mengurus seluruh isi rumah, belum lagi kakek nenekku juga masih ada jadi, wajar saja jika uang segitu langsung habis untuk belanja” Jawab Nathan enteng.
“Dan kau tidak pernah memberikan satu peser pun untuk orang tuamu?” Ucap Riana tegas.
“Kau sedang memojokkanku?” Sahut Nathan.
Lelaki itu berjalan mendekati Riana perlahan, tanpa rasa takut wanita itu diam dengan tenang, menunggu hal berani apa yang akan dilakukan suaminya.
Srek
Nathan menjambak rambut panjang istrinya.
“Ya, aku tau aku tidak sebajik dirimu. Coba lihat, kau punya usaha yang begitu sukses sedangkan aku? Hanya pekerja pabrik biasa yang gajinya bahkan di bawah UMR. Jika kebutuhanku saja masih belum bisa aku cukupi dengan baik lalu bagaimana aku memenuhi kebutuhan mereka?” Ucap Nathan tepat di depan wajah Riana, sedikit meninggikan suara dengan penekanan di setiap katanya.
Kemarahan Nathan tidak membuatnya takut sama sekali, ia malah terus memancing lelaki itu sepertinya.
“Kau hanya kurang sabar Riana, coba kau bisa sedikit lebih bisa mengerti keadaan. Aku tau kastamu jauh lebih tinggi diatasku tapi, apa begini caramu memperlakukan aku sebagai suamimu?” Ucap Nathan, dia mengacak rambutnya frustasi.
“Tuan Jeremy Nathan, aku kurang sabar apa hm? Lihat, belum satu bulan kita menikah sudah seperti ini. Aku tidak pernah mengungkit tentang berapa gajimu dan sejenisnya. Aku hanya bertanya, mnyesuaikan dengan kebutuhan di rumah ini. Apa menurutmu aku tidak tersinggung dengan perkataan ibu tadi perihal aku yang tidak mau belanja?” Jelas Riana panjang lebar.
“Yang ia katakan benar adanya, bukan? Kau selalu memasak tapi, tidak mau berbelanja?” Sahut lelaki itu.
Tentu saja hal itu membuat Riana naik pitam tapi, bukan Riana namanya jika tidak bisa mengendalikan diri dengan baik.
__ADS_1
“Baiklah, aku tidak akan memasak esok hari sampai aku belanja kebutuhan memasakku sendiri” Ucap Riana tenang lalu menaiki ranjangnya dan tidur membelakangi suaminya.
Sedangkan Nathan hanya terdiam melihat punggung istrinya.
...***...
Pukul dua dini hari, Nathan memeluk Riana dari belakang. Sesekali tangan lelaki itu terlihat nakal menggerayangi lekuk tubuh istrinya.
Sepertinya lelaki itu baru selesai menenangkan pikiran di balkon kamar, terlihat dari jendela samar, secangkir kopi dan dua bungkus rokok masih berada di atas meja.
Dalam remangnya malam, dia terus menci*mi setiap inci kulit Riana.
Sampai Riana melenguh, merasakan sapuan-sapuan hangat dan basah di tubuhnya. Wanita itu membuka matanya perlahan, memastikan sesuatu apa yang mengganggu tidurnya.
“Nathan?” Tanya Riana dengan suaranya yang serak khas bangun tidur.
“Maafkan aku” Ucapnya lalu mengec*p pelan bibir wanitanya.
Jujur saja, Riana masih kesal dengan Nathan tapi, juga seperti ini apa dirinya bisa menolak?
Tentu tidak, biar bagaimanapun dia masih ingat dengan kewajibannya sebagai seorang istri. Dengan rasa kesal yang masih tersisa, mereka akhirnya menghabiskan malam panjang dengan suara-suara indah ditemani bulan yang menjadi saksinya.
“Sabarlah sebentar lagi, aku pasti akan membahagiakanmu” Bisik Nathan lalu mengecup puncak kepala Riana, diakhiri dengan pelukan hangatnya di balik selimut putih mereka.
__ADS_1