
Riana saat ini sedang asik membaca buku-buku yang disusun rapi oleh Ardian di ruangannya. Lelaki itu membiarkan Riana melakukan kegiatannya sesuaka hati, asalkan tidak membahayakan dirinya sendiri.
“Ardian, kenapa buku bacaanmu begini semua sih” Sahut Riana. Membolak-balikkan buku yang ada di tangannya. Jujur saja, meskipun sama-sama menggeluti dunia bisnis, Riana sama sekali tidak tertarik dengan buku-buku menyangkut bisnis dan marketing atau sejenisnya. Menurutnya itu membuatnya pusing. Dia lebih suka membaca intisari tips dari beberapa pebisnis panutannya.
“Ya namanya juga ruang kerja, jika ini perpustakaan kota mungkin akan beda cerita, kau bisa mendapatkan banyak genre buku disana”
Nah. Riana membelalakkan matanya senang, dengan cepat menghampiri Ardian, “Hati-hati” Ucapnya saat melihat Riana berlari kecil.
“Kenapa hm?” Tanya Ardian, menarik Riana mendekat.
“Nanti pulang dari sini kita ke perpustakaan kota, okey?” Ucap Riana.
Ardian mengangguk, mengiyakan permintaan Riana. “Yeay, terimakasih” Riana sedikit berjingkrak senang.
“Riana jangan loncat-loncat begitu” Ucap Ardian mengingatkan.
Riana langsung berhenti, “Oh iya, nanti dia pusing” Ucapnya.
__ADS_1
Gemas sekali ya Tuhan, Ardian rasanya ingin memeluk wanita itu dengan kuat. Bisa-bisnya tingkah Riana yang masih seperti anak kecil begini malah akan memiliki anak kecil yang keluar dari perutnya sendiri?
“Ya sudah, kau bisa lakukan kegiatan yang lain. Mau lihat drama?” Ucap Ardian, menawarkan suatu kegiatan yang mungkin disukai Riana, mengingat wanita itu juga sering menonton drama Korea di waktu senggangnya.
“Kau benar, aku akan menontonnya di ponselku” Ucap Riana, lalu kembali menuju sofa tamu di ruangan itu. Ardian mengikuti langkah Riana, berniat menyetelkan dramanya di televisi saja.
“Apa channelnya?” Tanya Ardian, menyetelkan televisi tersebut. Akhirnya barang elektronik itu berguna juga, selama ini barang itu hanya teronggok sia-sia, Ardian bahkan sempat mau mencopotnya saja tapi, beruntung sebelum hal itu terjadi, Riana menggunakannya dengan baik sekarang.
“Biar aku cari sendiri, kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Atau mau ikut nonton denganku?” Tanya Riana.
Ardian menggeleng, “Tidak mau” Sahutnya lalu kembali ke meja kerjanya.
Ardian benar-benar seperti suami siaga yang menjaga istrinya yang nakal. Sesekali lelaki itu menatap Riana penuh sayang, masih tidak percaya wanita pujaannya kembali.
Ardian benar-benar memperhatikan raut wajah Riana. Kadang tersenyum malu, kadang cemberut kesal, kadang juga mengerutkan keningnya seolah marah. Wanita itu seperti masuk ke dalam cerita tersebut. Sampai saat tidak sengaja, Ardian melihat raut wajah Riana berubah menjado bersemu salah tingkah.
Ardian pun langsung melihat ke layar televisi yang ternyata menampilkan adegan pemeran utamanya sedang melakukan ci*man.
__ADS_1
“Rianaaa, tontonannya!!” Ucap Ardian. Dia tau mereka sudah dewasa dan legal untuk melihat hal seperti itu tapi, hell. Ardian tidak pernah melihat hal itu sebelumnya, dia juga tidak pernah melihat drama Korea yang ternyata seperti itu.
Riana hanya menoleh dan tersenyum, tidak peduli dengan pernyataan Ardian. Itu sudah biasa untuknya, dia bahkan pernah melakukannya sampai hamil.
Ah benar juga, Ardian kan masih polos. “Maafkan aku tapi, itu hanya sebentar kok” Sahutnya.
Ardian hanya mampu geleng-geleng kepala. Sampai entah pada menit ke berapa, Riana sudah terkapar di sofa dalam keadaan matanya tertutup tapi, tangannya masih memegang kentang goreng. Mungkin mau melahap kentang tersebut, tidak keburu di makan saking ngantuknya.
“Lucu sekali” Gumam Ardian.
Lelaki itu berdiri dari kursinya, mematikan televisil lalu mengelap tangan Riana dengan tisu basah agar tidak kotor dan menggendong wanita itu ke kamar pribadinya di ruangan tersebut.
“Eungh” Lenguh Riana ketika tubuhnya di letakkan di kasur, bahkan wanita itu tanpa sadar memeluk leher Ardian.
Ardian dengan tenang ingin melepaskan pelukan itu tapi, “Temani aku” Ucap Riana dengan suara seraknya.
“Tidak boleh Riana” Bisik Ardian, entah itu Riana mengigau atau memang masih setengah sadar tapi, Ardian tetap memberikan pengertian.
__ADS_1
Tapi, Riana menggeleng keras, memeluk leher Ardian semakin kuat, “Tidak mau, temani saja”
Setelah menelan salivanya cukup keras, benar-benar sebuah godaan bujangan ini namanya. akhirnya Ardian dengan kesadaran penuh, “Iya aku akan menemanimu. Lepas dulu agar aku bisa berbaring di sampingmu” memeluk Riana dari belakang dan ikut tertidur disana.