
Setelah sekian drama, akhirnya Riana dan Nathan dapat hidup dengan tenang.
Riana memberikan modal kepada Nathan untuk mengembangkan tanah luas yang ada di sebelah rumah kontrakan orang tua Nathan untuk di jadikan perkebunan. Sebagai seseorang yang memiliki wawasan luas meskipun tidak pernah memakan bangku universitas, Riana tahu betul bahwa tanah itu bisa berpotensi menjadi lahan perkebunan jagung, tomat, dan cabai mungkin?
Daripada diam di rumah, Riana berani memfasilitasi dan mengambil resiko agar Nathan memiliki kegiatan di luar rumah yang menghasilkan.
Usaha ibu mertua Riana? Dia memilih berhenti dengan usahanya karena katanya terlalu lelah untuk bekerja dan memasak seharian. Wanita paruh baya itu menutup kedainya dan hanya fokus di rumah, menjadi mandor untuk suami dan anaknya di perkebunan.
Riana melihat perkembangan yang cukup baik, meskipun jelas harus menunggu beberapa saat untuk melihat hasil dari usaha mereka.
“Apa kau butuh ahli pertanian untuk mengurus ini?” Tanya Riana pada Nathan, mereka sedang berada di rumah orang tua Nathan, melihat hamparan tanaman yang baru saja tumbuh itu dengan tenang.
“Tidak, mungkin perlu pembelajaran otodidak saja” Ucap Nathan.
__ADS_1
“Sudah enam bulan berlalu, apa kalian tidak mau memiliki anak?” Tanya ibu mertua, wanita paruh baya itu membawa nampan berisi makanan ringan dan juga minuman dingin, untuk suami dan anaknya istirahat.
“Tenang saja, bu. Kalau sudah waktunya, pasti akan di kasih” Jawab Nathan.
Pikir Riana, bagaimana mungkin dia bisa hamil jika Nathan sendiri saja selalu sibuk dengan game-nya setiap waktu. Jika Riana memiliki waktu luang, Nathan akan sibuk. Begitupula sebaliknya.
“Nanti nanti terus, memangnya tidak malu? Lihat teman-teman yang menikah di hari berdekatan dengan kalian, mereka sudah banyak yang isi bahkan sudah ada yang melahirkan” Omel ibu mertua.
“Tapi, kami tidak melakukan sistem DP, bu” Sahut Nathan.
“Jalani saja dulu, lagipula kita semua masih sama-sama berproses. Pekerjaanku saja masih begini, hanya mengurus perkebunan begini, itu pun masih belum tentu hasilnya nanti bagaimana. Bayangkan jika aku memiliki anak? Mau di kasih makan apa? Jagung? Tidak mungkin kan?” Lanjut Nathan, memberikan penjelasan kepada ibunya agar bersabar.
“Biaya pampers, susu dan kebutuhan bayi itu banyak. Mau beli pakai apa? Apa mau sekarang orang-orang di pasar menerapkan bareter dengan hasil kebun yang kita miliki? Tentu tidak”
__ADS_1
Nathan masih terus mengoceh sambil menyedot rokoknya, sesekali meminum the yang di sediakan oleh sang ibu.
“Kan Riana kerja, lagipula tidak akan susah mengurus anak sambil mengurus toko. Sekalipun tidak ada waktu, kau bisa menjaganya kan Nathan. Kecuali kalau Riana bekerja di pabrik, mungkin akan sedikit susah mengatur waktunya” Sahut ibu mertua.
Memang menjengkelkan bukan ibu mertua Riana ini?
“Tapi, aku yang memiliki pabrik itu kan bu? Jika bekerja di pabrik saja sudah cukup merepotkan apalagi bekerja menjadi pemilik pabrik sekaligus tokonya? Bukan tidak ingin memiliki anak tapi, apa yang dikatakan Nathan itu benar” Ucap Riana tenang.
Sengit juga Riana ini dengan ibu mertuanya. Menurut pandangan Riana, dia harus cerdas-cerdas menjawab setiap kalimat yang dilontarkan oleh ibu mertuanya. Dia tidak ingin harga dirinya di sepelekan di rumah orang tua pasangannya.
Disegani sebagai anak dan menantu itu perlu. Apalagi, Riana sudah meninggalkan keluarganya untuk Nathan maka, dia harus bertahan dan berjuang hingga akhir tanpa ada yang menyepelekan dirinya.
Ibu mertuanya terdiam dengan ucapan Riana, tidak bisa menjawab perkataan menantunya yang terkesan meninggikan diri.
__ADS_1
“Sayang, kita pulang sebentar lagi. Aku mau mandi dulu” Ucap Nathan lalu pergi beranjak.
Perihal uang belanja ibu mertua, Riana selalu memberikannya secara rutin setiap satu minggu sekali saat dirinya berkunjung ke rumah mertuanya di hari libur.