
Riana terbangun dari tidur siangnya karena mendengar suara gaduh dari luar sana, karena penasaran dia keluar dan betapa terkejutnya melihat kulkas dan televisi baru sudah berada di ruang tamu.
“Ibu, berapa sisa penjualan rumah?” Tanya Riana yang sudah tidak tahan dengan sikap ibunya.
“20 juta” Jawab ibu mertuanya singkat.
“Hanya tersisa 20 juta?” Ucap Riana, memastikan bahwa apa yang di dengarnya bukanlah kesalahan.
“Ya, memangnya kau tidak mau merayakan natal? Nanti kita bisa mencari pekerjaan yang lain, lagipula aku akan membuka usaha jadi, tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal” Ucap ibu mertuanya.
Riana hanya bisa mengelus dadanya, daripada berdebat lebih banyak dia langsung pergi ke dapur dan betapa terkejutnya bahkan kompor saja ganti yang baru.
“Apa ibu mertuaku memang seperti ini?” Gumam Riana sebelum akhirnya melanjutkan acara memasak makan malamnya.
Saat makan malam berlangsung, ibu mertua Riana tiba-tiba membuka suara.
“Sebagai menantu, setidaknya kau harus membantu hutang keluarga, jangan hanya mengintrogasi tanpa melakukan apapun” Ucap sang ibu mertua.
Riana hanya dia, sengaja tidak mau berinteraksi lebih, itu hanya akan memancing keributan saja nantinya.
“Hey Riana, kalau di ajak bicara itu, jawab. Kau punya mulut bukan?” Sahut ibu mertuanya lagi.
__ADS_1
“Ya, aku hanya akan membantu sebisaku” Ucap Riana singkat.
“Cih, ingat hutang itu banyak karena resepsimu”
Ibu mertuanya itu benar-benar melelahkan untuk Riana, jujur saja.
“Bu, aku meminta pernikahan sederhana bukan?”
“Aku malu dengan tetangga, anak satu-satunya menikah cuma sederhana? Cih, itu terdengar sangat memalukan”
“Lebih memalukan mana dengan menjual rumah karena banyak hutang?”
Bukan kurang ajar, Riana hanya mencoba mengingatkan ibu mertuanya itu agar sadar, dimana seharusnya batas perilakunya.
“Bu, tidak baik berteriak seperti itu apalagi di depan makanan” Ucap ayah mertua.
Nathan pun saat itu hanya melihat istrinya sekilas, lalu menlanjutkan makannya. Jangan harapkan pembelaan dari Nathan, bersuara saja tidak mau apalagi membela Riana.
...***...
“Aku mau kita kontrak rumah saja” Ucap Riana pada Nathan. Mereka sudah berada di kamar, berbicara dengan nada pelan mengingat kamar mereka bahkan tidak ada pintunya, tentu akan sangat mudah di dengar dari luar.
__ADS_1
“Memangnya disini kenapa?”
“Kau tidak tau perlakuan ibumu padaku seperti apa? Kau bahkan melihatnya sendiri” Ucap Riana.
“Kau saja yang merespon ibuku dengan tidak baik, kau tau? itu terkesan kurang jaar sebenarnya, apa memang begitu perlakuanmu dengan orang tua?”
“Aku yang akan membayar biaya kontraknya, okey? Kita pasti menyambangi mereka disini untuk beberapa waktu sekali” Sahut Riana.
“Bagaimana dengan menyewa apartemen?”
“Apartemen? Apa kemewahan adalah yang nomor satu di keluargamu? Yang penting setidaknya kita tidak akan tinggal di gubuk kayu, apa kau tidak percaya padaku?”
Riana akan bersikeras merayu suaminya agar mau pindah sekarang, tidak peduli bagaimana cara dan dimananya, yang penting tidak tinggal dengan mertua.
“Sayang, jika itu lebih baik dari rumah ini aku akan ikut, lagipula disini memang tidak begitu nyaman. Malu juga dengan teman-teman jika mereka mau kesini”
Riana hanya bisa menggelengkan kepalanya, rumah kontrakan di luar sana bahkan memang lebih bagus daripada rumah yang mereka tempati sekarang tapi, suaminya memang keterlaluan tidak pedulinya dengan keluarga.
Coba katakan, bagaimana Riana mau hidup tenang, ibu mertuanya yang selalu memojokkan dirinya ditambah dengan seekor biawak yang selalu ada di atap pojok kamar Riana dan Nathan menambah kesan yang kurang baik untuk Riana.
“Aku sudah bilang, jual saja mobilmu untuk membantu ibu melunasi hutangnya. Kau bisa menggunakan motor kan? Kita tukar dengan itu. Rumah ini akan segera di renovasi jadi, bersabarlah sebentar. Biaya membayar kontrakan bisa digunakan untuk yang lain, honeymoon misalnya? Kita belum honeymoon kan?”
__ADS_1
“Aku ingin keluar dari rumah ini bukan perkara hutang atau kondisi rumahnya tapi, kondisi di dalam rumah ini sendiri”
Riana akhirnya membelakangi suaminya yang terlihat bodo amat, bahkan lebih memilih membuka game-nya.