Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Ke Rumah Nathan


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Ardian memgetuk pintu rumah di hadapannya. Dia bersama dengan Riana sudah berada di depan rumah kontrakan Nathan.


Seperti yang sudah dijanjikan Ardian kemarin, hari ini mereka akan mendatangi kediaman Nathan untuk bernegoisasi?


Tok


Tok


Tok


Sekali lagi Ardian mengetuk pintu itu ketika dirinya tidak juga mendapatkan sahutan dari sang pemilik rumah.


Tidak lama, akhirnya ibu Nathan yang membukakan pintu, betapa terkejutnya saat mendapati Ardian juga hadir bersama Riana.


“Selamat siang, bu. Lama tidak bertemu” Ucap Ardian, tatapannya biasa saja, lelaki itu juga masih menghargai mantan mertua Riana itu.


“Masuk dulu” Sahutnya, memberikan ruang kepada keduanya untuk masuk dan duduk.


“Dimana Nathan dan Arianti?” Tanya Ardian to the point.


“Ada di kamarnya” Jawab ibu Nathan.


Ardian menyunggingkan senyum miringnya, “Aku juga ingin menjenguk ayah, dimana beliau?” Tanyanya.


“Ah iya, dia juga di kamar” Ucap ibu Nathan tapi, seolah tidak mau mengeluarkan suaminya.


Riana saat itu tidak tau mau berkata apa lagi, ini pertama kalinya mereka bertemu setelah beberapa minggu lalu.

__ADS_1


“Jika anda meminta Riana untuk membayar biaya rumah sakitnya maka, biarkan kami biacara dulu dengan beliau dan setidaknya keluarkan Nathan sebagai anaknya agar bisa bertanggung jawab dengan keluarga” Ucap Ardian, tenang namun cukup mematikan.


“Tidak perlu membahas perihal tanggung jawab, kau tidak pantas mengucapkannya di hadapanku” Sahut Nathan, lelaki itu terlihat baru bangun tidur.


Cih, sudah bisa dibayangkan oleh Ardian bagaimana susahnya Riana dulu.


“Jika kau tidak mau aku membahasnya maka, bertanggung jawablah setidaknya dengan kesehatan orang tuamu. Jika kau merasa memiliki tanggung jawab dengan mereka maka, kau mungkin tidak akan membiarkan ibumu menghubungi Riana dan meminta uang darinya, apalagi dia adalah mantan istrimu” Sahut Ardian.


Hal itu sukses menampar Nathan dan ibunya tanpa di sentuh.


Nathan kembali masuk dan mengeluarkan ayahnya yang masih terduduk di kursi roda.


“Selamat siang, ayah. Apa kabar?” Tanya Ardian menyapa ayah Nathan.


Sang ayah hanya tersenyum, “Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja” Sahutnya.


“Aku dengar, ayah bersedia di operasi. Sudah konsultasi dengan dokter sebelumnya?” Tanya Ardian.


“Siapa yang mengatakan hal itu?” Tanya ayah Nathan.


Ardian langsung mengerti, lelaki itu menoleh pada Nathan dan ibunya, memberikan entah tatapan apa.


“Baiklah tapi, apa perawatan anda berjalan dengan baik selama ini?” Tanya Ardian.


“Lumayan” Sambung ibu Nathan.


“Saya hanya perlu berbicara dengan suami anda” Sahut Ardian, tanpa takut menatap wanita paruh baya itu yang menurutnya sudah seperti ular berbisa.


Ardian menatap ayah Nathan lagi, meminta jawaban dari beliau.


“Ya, perawatanku cukup baik meskipun tidak ada obat. Aku memabg sudah mau berhenti saja dengan obat-obatan, itu membuatku selalu pusing dan ingin terus tertidur, padahal aku juga sudah mulai latihan berjalan tanpa obat-obatan itu” Sahutnya.


“Jadi, apakah anda tidak mau di operasi?” Tanya Ardian lagi.

__ADS_1


Sudah seperti seorang polisi yang mengintorgasi korbannya bukan?


“Tidak, aku merasa sudah lebih baik dari sebelum-sebelumnya, perawatan tradisional cukup bisa membantuku” Jawabnya.


“Apa mereka meminta uang darimu?” Sambungnya.


Ardian mengangguk, setuju dengan pertanyaan ayah Nathan.


“Tidak usah di kasih, lagipula aku tidak butuh. Riana sudah bukan lagi bagian dari keluarga ini, dia tidak memiliki tanggung jawab apapun membantu kami” Sahut ayah Nathan.


Beruntung ayah Nathan adalah seseorang yang baik hati menurut Ardian.


“Hey, ingatlah bayi yang sedang di kandung Riana adalah darah daging Nathan, tentu saja kami masih memiliki hak untuk apa yang menjadi hak bayi itu” Ucap ibu Nathan tidak terima.


“Itu adalah milik saya, selain karena saya yang bertanggung jawab untuknya juga karena Nathan tidak mau menerimanya jadi, apakah perlu di perjelas?” Ucap Ardian.


“Dia adalah calon istri saya, apapun yang berhubungan dengan dia adalah urusan saya” Lanjut Ardian.


Sedang panas-panasnya, tiba-tiba Arianti datang membawakan minum untuk Ardian dan Riana.


Ardian menatap Arianti tajam tapi, pikirannya masih tidak berburuk sangka.


Hingga sesaat setelah Riana meminum the itu, rasanya kepalanya pusing dan perutnya kram luar biasa.


“Argh” Keluh Riana sambil memegang peruntnya.


Ardian jelas panik, “Ada apa, Rin?” Tanyanya.


“Sakit, Ar. Kram sekali” Ucap Riana terbata-bata.


Ardian langsung menoleh pada Arianti, terlihat raut wajahnya sedikit pucat pasi.


“Sial*n” Umpatnya lalu lelaki itu menggendong Riana ke mobilnya untuk ke rumah sakit tapi, tidak lama Ardian kembali dan mengambil gelas minuman teh milik Riana tadi.

__ADS_1


__ADS_2