
Setelah membersihkan sisa makan malamnya, Riana segera masuk ke kamarnya, terlihat Nathan sedang bermain game di sana.
“Berhentilah dulu, aku ingin bicara penting” Ucap Riana, naik ke atas ranjang dan duduk di samping suaminya.
“Sebentar lagi” Ucap Nathan.
Riana mengangguk pelan, menunggu Nathan selesai dengan satu ronde game-nya itu.
15 menit kemudian, Nathan meletakkan ponselnya, menghadap Riana, “Jadi, apa yang ingin kau katakan?” Tanyanya.
Riana menghela napasnya pelan.
“Aku ingin berbicara tentang ibumu”
__ADS_1
“Jujur saja, aku tidak begitu suka jika beliau ikut campur terlalu dalam di hubungan kita. Apa yang aku lakukan selalu salah di matanya” Keluh Riana.
Nathan mengernyit, “Bagaimana mungkin kau menghina ibuku seperti ini?” Tanya Nathannya.
Riana mengusap wajahnya kasar, “Aku tidak menghina ibumu Nathan, aku hanya menyampaikan apa yang aku rasakan. Biar bagaimanapun kita ini sudah berumah tangga, tidak seharusnya orang tua ikut andil di dalamnya. Apa menurutmu ini baik?” Sanggah wanita itu.
“Menurutku ini tidak ada yang salah” Sahut Nathan, wajahnya sudah terlihat tidak bersahabat.
“Apa tidak bisa kita keluar dari rumah ini? minimal setidaknya kita kontrak rumah atau setidaknya mencari kosa?” Tanya Riana lagi.
“Tidak ingatkah kau bahwa aku tulang punggung keluarga? Lalu bagaimana bisa aku meninggalkan mereka?” Lanjutnya.
Riana terdiam, memang benar Nathan adalah tulang punggung keluarga tapi, itu tidak berarti bahwa Nathan harus memberikan seluruh hidupnya untuk keluarganya bukan?
__ADS_1
“Kau sudah cukup dewasa untuk mengerti hal ini seharusnya. Aku tidak meminta lebih, aku hanya memintamu untuk mengatakan pada ibumu bahwa kita sudah cukup mampu untuk bisa mandiri” Ucap Riana, benar-benar menahan emosinya untuk tidak berbicara dengan nada tinggi kepada suaminya.
“Ya katakan saja, aku tidak begitu berminat untuk hidup mandiri. Lihat saja, kita numpang begini saja masih terlihat betul masih banyak kurangnya, bagaimana kalau hidup sendiri? Aku tidak begitu suka hidup susah” Ucap Nathan angkuh.
Riana menghembuskan napasnya kasar, tidak habis pikir dengan suaminya yang seperti bergantung sekali dengan keluarganya.
“Maka berusahalah, jangan lupa bahwa kau berjanji untuk membahagiakan aku sebisa yang kau mampu. Ingat, janji itu pun kau ucapkan di depan mamaku. Aku sudah meninggalkannya demi bisa hidup bersamamu, setidaknya berikan feedback yang baik di dalam hubungan ini” Sahut Riana.
Dirinya merasa begitu pilu, mengingat mamanya bahkan tidak datang di pernikah mereka kemarin tapi, yang ia dapat sekarang malah penuh luka begini.
“Aku pasti akan berusaha sebisa mungkin, aku merasa tidak salah dengan apa yang terjadi di rumah ini tapi, kau terus saja mengeluh. Sebenarnya, masalah ini ada pada dirimu sendiri, kau masih baru disini, kau mungkin belum bisa beradaptasi dengan lingkungan disini, apa kau tidak berpikir begitu? ”
“Baiklah, aku akan menuruti maumu. Aku mengalah kali ini” Ucap Riana, dirinya tidur memunggungi suaminya, dirasanya begitu lelah seperti bukannya berkurang, beban hidupnya malah bertambah.
__ADS_1
Berdasarkan pada janji manis Nathan dulu, ini lah buah yang harus ia rasakan bahkan belum satu minggu umur pernikahan mereka.