
Semua orang terlihat begitu panik, hanya Riana yang sibuk kesana kemari mengurus administrasi.
“Menggunakan BPJS akan membuat kalian bertindak lama dan seenaknya, saya akan bayar dengan jalur mandiri” Ucap Riana. Nadanya sedikit keras mengingat sudah dua jam lebih sang ayah mertua tidak di tangani apa-apa, hanya di cek tensi darah dan juga di beri infus?
Tidak peduli jika hal itu akan membuat orang-orang di sekitarnya merasa tidak nyaman karena berisik.
“Baiklah, mbak. Isi dulu semua data-data ini” Pihak rumah sakit langsung memberikan formulir data pasien dan segera memberikan penanganan.
“Kau ini habis-habiskan uang saja” Ucap ibu mertua pada Riana.
Riana benar-benar tertegun, apa uang lebih berharga dari nyawa ayah mertua? Dia tentu tidak habis pikir dengan ibu mertuanya.
“Riana yang akan menanggung biaya rumah sakit ayah sampai sembuh” Sahut Riana, entah nanti harus jungkir balik seperti apa dirinya menabung, yang terpenting sekarang hanya kesembuhan ayah mertua.
Ibu mertua diam, Nathan juga, bahkan seluruh sanak saudara hanya diam.
...***...
“Ya ampun, kenapa bisa seperti ini?”
Riana tau suara itu, terdengar familiar di telinganya. Dia sedang membersihkan diri di kamar mandi setelah tidak istirahat semalaman. Tentu saja Riana ingin segera selesai dan melihat pemilik suara itu.
Ceklek
Semua orang menoleh ke arahnyayang berdiri mematung melihat pemandangan di hadapannya. Jantungnya terasa berhenti sejenak.
__ADS_1
“Ibu” Gumam Riana, berlari menuju wanita yang sempat di anggap sebagai ibunya sendiri.
“Apa kabar?” Tanya Riana setelah memeluk wanita itu lama.
“Baik, kamu kok semakin kurus begini. Sedang diet atau gimana?” Tanya wanita itu, memijat pelan tangan kecil Riana.
“Ab tidak, ini karena sekarang pekerjaan di toko lebih menumpuk. Ibu ke sini dengan siapa? Sendiri?” Jawab Riana, mengeluarkan perasaan rindu dan senangnya.
“Tidak, dengan masmu. Dia sedang di luar” Wanita itu tersenyum sumringah.
“Kenapa tidak di suruh masuk saja? Biar Riana panggil ya”
Riana keluar ruangan, ingin memanggil seseorang yang ia kira bukan seseorang di pikirannya.
Sedangkan semua orang di ruangan itu hanya menatap punggung Riana heran, termasuk Nathan. Batin mereka menjerit mengingat Riana tidak pernah se-ceria itu saat bersama mereka.
Deg
Riana menghentikan kalimatnya, saat melihat sosok yang tak pernah ia bayangkan bisa bertemu lagi.
“Riana?” Lelaki itu berdiri, menghampiri mantan kekasihnya yang menikah dengan sahabat masa kecilnya.
“Ardian Braham” Gumam Riana, menyesal karena tidak bertanya lebih dulu kepada ibu tadi.
“Aku kira kakak ipar yang mengantar ibu. Masuklah, jangan berada di luar begini” Ucap Riana yang sudah kehilangan senyumnya, hanya kecanggungan yang ada di antara mereka.
__ADS_1
“Kau semakin kurus, apa Nathan tidak mengurusmu dengan baik?” Tanya Ardian.
Riana diam, dia tidak mau menjawab ucapan mantan kekasihnya itu. “Masuklah” Ucapnya lalu pergi meninggalkan Ardian sendirian.
Setelah kembali masuk, Riana menatap Nathan yang menatapnya dingin. Lelaki itu sudah tau jika yang berada di luar tadi Ardian dan Riana malah dengan semangatnya memanggil Ardian? Di depan sang suami? Bagaimana Nathan tidak marah?
“Sudah? Mana masmu?” Tanya Nathan.
Semua orang tidak menyadari perubahan raut wajah Nathan, mana peduli mereka. Niatnya di sana kan menjaga ayah mertua.
“Aku di sini” Sahut Ardian, memasuki ruangan beraroma obat yang pekat itu.
Nathan hanya melihat Riana dan Ardian bergantian, hatinya panas terbakar api cemburu?
“Sayang, aku mau makan buah. Tolong kupaskan” Pinta Nathan pada Riana. Tentu saja wanita itu segera menuruti ucapan suaminya.
“Ibu Feli, mari ikut makan”
Selain dari mengupaskan buah untuk Nathan, Riana juga sekalian memesankan makan siang untuk keluarganya di ruangan itu, tidak lupa Bu Feli dan Ardian turut di pesankan.
“Terimakasih, nak. Kamu memang selalu rendah hati tapi, sayang gagal menjadi menantu ibu. Coba saja jika Ardian waktu itu segera melamarmu ya”
Glup
Riana menelan salivanya kasar lalu tersenyum sungkan, apalagi Bu Feli mengatakannya di depan keluarga Nathan yang jelas-jelas tidak menerimanya selama ini.
__ADS_1
Apakah ada rasa penyesalan di hatinya?
Jawabannya adalah tidak, karena dia sadar dengan penuh ketika mengambil keputusan besar ini waktu itu.