
Riana kembali ke kontrakannya bersama Nathan, kehidupannya berjalan dengan normal lagi. Kembali dengan kesibukan di toko dan Nathan harus mengurus perkebunan sendiri.
Jika di rasakan, memang mereka sedang di masa sulit kan?
Saat sedang asik-asiknya bekerja, Riana dikagetkan dengan suara ponselnya.
Ting
“Tumben sekali, kira-kira siapa yang mengirim pesan?” Gumam Riana lalu mengambil ponselnya.
Kau sudah tau kelakuan suamimu di luar?
Itu adalah Roza, instrukturnya saat masih rajin gym beberapa bulan yang lalu. Wanita itu memang mengenal Nathan, mereka satu sekolah saat duduk di bangku Sekolah Dasar bersama Ardian, hanya saja ketika Sekolah Menengah Pertama, mereka bertiga berpencar.
Tanpa banyak bertanya, Riana segera mendial tombol panggilan ke nomor Roza.
“Halo” Ucap seseorang dari seberang sana.
“Hai” Sahut Riana.
“Ada apa?” Tanya Roza, seperti tidak memiliki dosa saja.
“Perihal pesanmu barusan, boleh aku tau maksudnya?” Tanya Riana.
__ADS_1
Roza disana terdiam, terlihat ragu saat mau mengungkapkan apa yang ia ketahui.
“Roza?” Panggil Riana, memberikan intrupsi kepada lawan biacaranya.
“Ah ya, aku hanya mau bertanya perihal ayah mertuamu. Apa dia baik-baik saja?” Tanya Roza, seperti mengalihkan pembicaraan?
“Roza, aku serius”
Riana tau bagaimana temannya itu ketika berbohong atau tidak, mereka satu kelas selama tiga tahun, sering hang out bareng dan bahkan Roza sering bareng Ardian karena rumah mereka satu arah.
“A-anu, Minggu depan aku mau datang ke acara pernikahan seorang teman dengan Ardian tapi,…”
Gadis itu menggantung ucapannya. Riana diam, menunggu kalimat selanjutnya dari temannya itu. Sejujurnya Riana tidak kaget dengan kedekatan Roza dan Ardian, mereka bersahabat sejak dulu.
Riana memang begitu, gaya bahasanya memang seperti itu.
“Tapi, berjanjilah kau tidak akan terkejut atau apa” Ucap Roza.
Riana mengangguk, “Apa mau bertemu saja saat jam makan siang?” Tanya Riana.
Roza pun segera menjawab, “Aku sedikit sibuk siang nanti, maaf. Aku beri tau disini saja ya” Ucapnya.
Terdengar suara hembusan nafas Roza di seberang sana, “Tapi, Nathan juga di undang dan dia akan berangkat dengan Arianti”
__ADS_1
Boom
Hal itu membuat dunia Riana seperti akan runtuh dan hancur seketika. Bukannya waktu itu nomor si Arianti itu sudah di blokir? Sosial medianya juga kan?
“Oh iya, aku mengerti hal itu” Riana mengatakannya dengan tersenyum kecut. Sejujurnya dia tidak tau apa-apa tapi, dirinya harus memposisikan diri seolah tau segalanya. Kenapa begitu? Tentu saja agar orang lain tidak tau bahwa rumah tangganya tidak seindah apa yang terlihat di sosial medianya dan Nathan.
Mereka memang kerap membagikan moment-moment bahagia. Seperti saat jalan-jalan, mengurus kebun bersama atau sekedar saat mereka sedang akur dan menghabiskan quality time bersama.
Itu semua memang selalu membuat penontonnya iri tapi, ya siapa yang akan menyangka bahwa di dalam kebahagiaan itu tersimpan banyak luka menganga yang bahkan belum sempat diobati.
“Kau sudah tau?” Tanya Roza.
“Ya, dia sudah izin padaku dan aku mengizinkannya. Aku tidak melarangnya untuk memiliki komunikasi dengan orang lain kok” Ucap Riana. Kalimat terakhirnya itu benar adanya, wanita itu tidak membatasi Nathan dalam lingkup pertemanannya.
“Oh baiklah, aku kira kau tidak mengetahuinya. Yasudah kalau begitu, aku tutup panggilannya ya” Ucap Roza dari seberang sana.
“Ya, selamat beraktivitas” Pamit Riana lalu menutup sambungan mereka.
Riana tidak bisa berkata apa-apa, kepalanya pusing tidak terkira. Apakah suaminya berulah lagi? Apakah suaminya itu akan kembali dengan Arianti lagi?
Hal yang paling Riana takutkan dari sebuah hubungan adalah masa lalu. Karena jelas itu menyangkut perasaan yang Riana sendiri tidak bisa mengendalikan itu.
“Huh Tuhan. Jika kau memang memberikanku ujian yang sedemikian rupa, akan dengan senang hati aku melewatinya. Kuatkan aku dan hatiku untuk bertahan demi titipanmu” Gumam Riana, mengelus perutnya yang sudah mulai buncit itu lalu melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1