
Saat ini Riana sudah berada di rumah kontrakannya, barang-barangnya dan juga Nathan sudah di pindahkan semua ke kontrakan itu.
“Bagaimana menurutmu?” Tanya Riana.
“Bagus, furniturnya juga lengkap” Jawab Nathan, sesekali berkeliling melihat isi rumahnya.
“Sepertinya aku bisa membawa teman-temanku kemari setiap hari” Gumam Nathan.
“Boleh tapi, itu jika kau sudah pulang kerja saja”
Nathan langsung terdiam saat istrinya membahas perihal pekerjaan.
“Kira-kira perusahaan mana yang mau menerimaku? Memang dari awal seharusnya kau membiarkan aku masuk ke tokomu agar aku tidak menjadi pengangguran” Ucap Nathan.
Tanpa menjawab ucapan suaminya, Riana segera mengambil sapu dan bersih-bersih di rumah barunya. Sedangkan Nathan? Tentu saja main game setelah meminta saldo pada Riana.
...***...
Keesokan harinya, seperti biasa dia menyiapkan sarapan lalu siap-siap untuk bekerja.
“Nathan, ayo sarapan” Ucap Riana, membangunkan suaminya.
“Nanti saja, aku masih mengantuk. Duluan saja” Ucap Nathan.
“Bisa tidak temani aku? Ini hari pertama kita tinggal berdua, apa aku harus merasa seperti single lagi?” Tutur Riana, tidak marah hanya meminta sedikit waktu dari suaminya.
__ADS_1
“Hmm, baiklah sayang” Sahut Nathan dengan suara seraknya.
Nathan terlihat menyantap sarapannya dengan lahap, memang masakan istrinya tidak ada duanya katanya.
“Hari ini aku antar ya” Ucap Nathan.
“Memangnya kau mau kemana?” Tanya Riana, tidak biasanya Nathan minta untuk mengantar Riana.
Berbicara tentang kendaraan mereka, Nathan juga membawa motor barunya sebenarnya.
“Ke rumah ibu, kau lupa kita akan menyambut natal? Omong-omong apa kita tidak menyiapkan ornamen-ornamen untuk natal?” Tanya Nathan.
Iya juga, Riana hampir lupa bahwa sebentar lagi natal telah tiba.
Nathan terlihat berpikir sebentar, mencari jawaban yang tepat untuk ajakan istrinya.
“Sayang, kau kan bekerja jadi, biarkan aku saja yang mencarinya” Nathan memberikan tawaran kepada Riana, memberikan ide yang meurutnya baik.
“Begitu?”
Nathan mengangguk, seolah sangat yakin bahwa idenya bukanlah yang buruk.
“Boleh, kau berangkat sendirian?” Tanya Riana.
“Sepertinya dengan ibu” Sahut Nathan.
__ADS_1
Riana terdiam sebentar, “Baiklah” Riana mengeluarkan dompetnya, memberikan atm-nya kepada Nathan.
“Gunakan secukupnya, untuk ibu juga” Jelas Riana sembari meletakkan kartunya di meja.
“Wow, terimakasih sayang. Kau mau kuantar? Atau bawa motorku saja?” Tanya Nathan.
Riana sebenarnya sedikit bingung dengan Nathan, tadi menawarkan diri untuk mengantarnya sekarang di beri pilihan dengan membawa motor suaminya.
Tanpa berniat merepotkan Nathan, takut jika nanti Nathan dan ibu mertuanya belanja terlalu lama dan akhirnya memnjemput Riana di toko juga terlambat, pasalnya Riana tidak begitu suka menunggu.
“Hmm, aku bawa motor saja” Jawab Riana.
“Kau bisa kan? Jangan baret yaa, masih baru” Ucap Nathan dengan senyum candaannya.
“Iya, aku bukan wanita yang tidak bisa mengendarai motor dengan baik, aku bahkan memiliki SIM” Ucap Riana, candaannya terdengar bercampur dengan ‘pick me’.
“Iya sayang, aku percaya padamu. By the way, bensinnya kemarin hampir habis, tolong di isi ya”
Huh, bahkan bensin saja suaminya tidak bisa beli?
“Iya, nanti aku isi” Sahut Riana.
“Terimakasih sayang” Nathan mencium kening Riana mesra, tumben sekali, batin Riana. Nathan jarang sekali bersikap manis begitu.
“Ya sudah, aku mau berangkat ke toko, sudah agak siang” Ucap Riana, mengambil tasnya di kursi makannya lalu pergi ke toko menggunakan motor Nathan seperti yang di sepakati tadi.
__ADS_1