
Sekarang Riana memilih untuk tidak pernah lembur, apapun itu alasannya sebisa mungkin dirinya pulang tepat waktu. Hal itu dikarenakan mengingat dirinya saat ini sudah menikah dan rutinitas sore harinya di rumah begitu banyak.
“Aku pulang” Ucap Riana sesaat setelah membuka pintu rumah.
Terlihat di ruang keluarga ada mertuanya sedang asik menonton tv ditemani camilan bersama mereka.
Riana hanya tersenyum singkat lalu pergi menuju kamarnya, ternyata Nathan masih menggunakan baju tadi pagi dan masih bermain ponsel?
“Kau belum mandi?” Tanya Riana sambil meletakkan tas dan melepas beberapa aksesorisnya di meja rias.
“Belum” Jawab Nathan tanpa melihat istrinya, masih fokus dengan game yang ia mainkan.
Wanita itu hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan, “Mandilah dulu, aku akan menyiapkan cuci baju dan menyiapkan makan malam” setelah menggulung rambut panjangnya gadis itu pergi untuk melakukan pekerjaan rumah.
“Hmmm” Gumam Nathan.
Di belakang, tepatnya di tempat mencuci baju, Riana menemukan setumpuk cucian baju kotor. Tidak hanya miliknya dan Nathan tapi, juga milik ibu mertuanya, beruntung tidak ada milik ayah mertuanya disana.
Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan, melihat keranjang cucian kotor dan air bergantian. Ya, keluarga Nathan bahkan tidak memiliki mesin cuci. Riana harus mencucinya dengan tangan.
Dengan telaten wanita itu membersihkan lembar demi lembar kain itu, setelah di jemur dia beralih membersihkan rumah dan yang terakhir beralih ke dapur.
Surprise!!!
Kali ini cucian piring menumpuk dengan indah disana. Entah bagaimana ceritanya ada begitu banyak cucian sedang tadi ia merasa sudah membersihkannya dengan baik.
Lagi dan lagi, Riana hanya mampu menghembuskan napasnya pelan lalu mengerjakan hal itu. Sungguh, dirinya sedikit muak dengan ini, bukan karena tidak suka tapi, perlakuan seperti ini bukanlah yang ia harapkan sebelumnya.
__ADS_1
Setelah selesai, Riana segera masuk ke kamar berniat untuk membersihkan diri.
Tapi, apalagi kali ini?
Suaminya, Nathan masih setia dengan game-nya.
“Nathan, kau belum juga mandi?” Tanya Riana.
“Kau duluan saja” Jawabnya, masih fokus dengan game.
Riana lelah, sungguh.
“Di malam hari kau akan begadang dan di siang hari kau akan tidur, bermain game setiap waktu, apa tidak ada pekerjaan lain selain itu?” Ucap Riana.
Nathan tidak merespon, hanya fokus dengan ponselnya membuat Riana memijat pelan pelipisnya.
“Nathan, aku sedang bicara denganmu. Apa tidak bisa menghargai aku disini hm?”
Deg
Perkataan itu sukses membuat hatinya terluka.
“Lalu gunanya aku disini apa? menjadi pembantu gratis untukmu dan keluargamu?” Sahut Riana.
“Bisa tidak jangan mengatakan hal-hal buruk tentang keluargaku? Kau ini terlalu perhitungan ternyata, tidak seperti Arianti yang begitu sabar dan pengertian”
Tidak, Riana tidak boleh menangis disana. Wanita itu segera masuk ke kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
Dia memilih menangis di dalam kamar mandinya.
“Tuhaaan, apa-apaan ini? Kenapa jadi seperti ini ceritanya?” Gumamnya di tengah guyuran shower.
Sedangkan Nathan terlihat tidak begitu menggubris Riana, memilih bangkit dan membersihkan diri di kamar mandi dapur.
...***...
Makan malam berlangsung seperti biasa. Riana tetap mengambilkan makanan untuk suaminya, hanya demi terlihat baik-baik saja di depan mertuanya.
“Kalian terlihat sedikit dingin hari ini?” Tanya ayah mertua.
“Tidak ayah, kami masih seperti biasanya” Sahut Riana diiringi dengan senyum manisnya.q
“Cih” Decakan Nathan tentu masih bisa di dengar oleh Riana dan lagi-lagi wanita itu hanya bisa menghela napasnya pelan.
“Besok aku mau belanja lagi, antar dan jemput aku, jangan lupa uang belanjanya” Ucap ibu Nathan.
Riana terdiam sejenak, “Kan tadi sudah Riana kasih bu? Memangnya tadi belanja apa saja sampai habis uangnya?” Ucapnya.
“Kenapa kau ini pelit sekali hah?” Ketus ibu mertua.
“Bukan masalah itu, hanya saja sepertinya uang belanja yang Riana beri tadi sudah cukup untuk satu minggu, kalau memang kurang ya tidak apa-apa asal itu memang digunakan dalam kurun sewajarnya” Jawab Riana.
“Kau ini terlalu cerewet, lagipula apa kau tidak lihat sudah banyak bahan-bahan yang habis? Kau memasak setiap hari tapi, tidak mau membeli bahan-bahannya sendiri”
Lagi-lagi Riana hanya bisa menghela napas pelan, “Baiklah. Akan Riana berikan besok tapi, untuk menjemput ibu Riana tidak bisa, pekerjaanku sedikit padat akhir-akhir ini”
__ADS_1
“Cih, perhitungan”
Saat itu Riana hanya diam, Nathan pun terlihat tidak begitu peduli sedangkan ayah mertuanya? Tentu dia tidak akan bisa melawan istri ketusnya itu.