
Selama pergi beberapa hari di Bandung, Riana banyak mendapat inspirasi dari para mahasiswa yang saat itu juga berlatih meningkatkan UMKM sekitar.
Mungkin karena jiwa-jiwa bisnis Riana sudah tumbuh sejak dulu, wanita itu belajar banyak hal dengan mahasiswa-mahasiswa itu.
“Guys, bagaimana jika kita bekerja sama?” Tanya Riana, saat itu dia sedang berdiskusi perihal bisnis dengan beberapa mahasiswa di sebuah café.
“Gimana kak?” Tanya salah satu dari mereka.
“Aku punya satu ruko yang masih kosong di ibu kota, aku berencana untuk membangun usaha di sana tapi, aku bingung dengan konsep bisnis apa yang cocok. Sepertinya makanan-makanan khas Bandung ini cukup menarik. Ibu mertuaku juga membuka bisnis keripik, mungkin kalian juga bisa membantu?” Ucap Riana.
“Ah ya, aku bisa menyediakan kos untuk kalian dan untuk pekerjaan, mungkin aku bisa meletakkan kalian di bagian marketing dan desain produk di tokoku, sesuai dengan kemampuan kalian saja” Riana memang salah satu pebisnis yang pintar meyakinkan rekannya dengan cara bicara yang lugas.
“Wah, bagus banget untuk kita-kita yang mau lulus begini”
Ya, yang sedang berbincang dengan Riana ini adalah mahasiswa tingkat akhir yang dalam proses skripsi. Bukankah tawaran dari Riana cukup menarik? Mengingat setelah lulus mereka bisa langsung bekerja bahkan membuka bisnis sendiri?
“Kalian bisa datang ke tokoku kapanpun yang kalian mau, pikirkan baik-baik tentang tawaranku tadi. Untuk omset dan kepemilikan, aku tetap menjadi pemasok modal untuk kalian jadi, kalian tetap akan menjadi bagian dari saham jika kalian mampu menaikkan penjualan secara maksimal”
__ADS_1
...***...
“Aku pulang” Riana membuka pintu rumahnya dan betapa terkejutnya dia melihat teman-teman Nathan masih tidur di lantai ruang tamunya bahkan Nathan sendiri juga masih tidur di sana.
Banyak jajanan chiki-chiki dan juga minuman bersoda berserakan, tidak lupa sampah-sampah dari makanan cepat saji juga tidak pada di tempatnya.
Tentu saja Riana langsung memijat keningnya pelan, pusing dengan konsdisi rumah yang tidak kondusif.
Wanita itu pergi ke kamarnya untuk meletakkan tas dan ganti baju. Sambil mencuci baju di mesin, Riana bersih-bersih ruangan lain seperti dapur, ruang makan, kamar tamu, terakhir kamar mandi sambil sekalian bersih diri.
“Sayang, kau sudah pulang?” Tanya Nathan.
Riana yang saat itu masih membereskan kamarnya setelah ganti baju langsung menoleh.
“Aku sudah sampai pagi tadi, tidak mau membangunkanmu juga” Jawab Riana, masih fokus dengan kegiatannya.
“Kau tidak merindukanku hm?” Nathan memeluk istrinya dari belakang.
__ADS_1
“Apa teman-temanmu sudah bangun?” Tanya Riana.
Nathan menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“Aku mau membuatkan mereka sarapan dulu lalu pastikan mereka pulang” Ucap Riana lalu pergi ke dapur, membuat sesuatu dengan bahan seadanya.
Pasalnya, Riana belum sempat belanja lagi kan sejak terakhir kali belanja waktu itu?
“Don’t wanna quick se* sayang?” Ucap Nathan, menahan tangan Riana.
“Tidak mau, apa kau tidak malu dengan teman-temanmu ha?”
“Kan mereka tidak melihat” Ucap Nathan lalu menci*m Riana perlahan tapi, dengan pasti juga Riana menghindar, membuka pintu dan pergi ke dapur. Akan sangat memalukan jika teman-teman suaminya itu tau, bukan?
“Sayang” Rengek Nathan.
Riana tidak peduli, dia hanya langsung membuka kulkas, mencari bahan-bahan apapun yang bisa di masak, Riana juga lapar tentunya apalagi setelah beraktivitas sejak tadi.
__ADS_1