Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Sedikit Deep Talk


__ADS_3

“Ardian”


Riana memanggil nama itu dengan sendu. Mereka sedang berada di ruang keluarga, Ardian sedang menunggu Riana tidur dengan nyaman lalu, dia ingin pulang, ceritanya begitu. Tapi, kenyataan berkata lain. Riana malah asik melihat serial kartun di televisi sehingga Ardian harus tinggal sedikit lebih lama.


“Hm?” Ardian hanya berdehem, melihat Riana yang sedang asik memakan camilan yang ia bawa.


Riana berbaring di atas sofa panjang yang memang ada di ruangan itu, sedangkan Ardian duduk di bawahnya sembari mengerjakan file-file cafe yang hari ini tidak sempat ia sentuh.


“Apa kau sibuk?” Tanya Riana.


Ardian tau jika sudah begini maka, ada sesuatu hal penting yang ingin di sampaikan Riana. Dia sudah hafal, sembilan tahun bersama tidak membuatnya lupa dengan kebiasaan yang dilakukan Riana.


Lelaki itu langsung menutup laptopnya beserta pekerjaan di dalamnya, “Tidak, aku hanya mengecek laporan. Ternyata tidak ada yang salah. Ada apa?” Tanyanya.


Riana lalu memposisikan diri duduk dan mempersilahkan Ardian untuk duduk di sampingnya.


“Perihal masalahku dengan Nathan. Aku tau kau seharusnya sudah mengerti dengan tabiatnya di masa lalu kan?” Riana mengawali pembicaraannya.


Entah apa yang dilakukan ini benar atau salah tapi, dirinya sedang membutuhkan sosok yang bisa mendengarkan keluh kesahnya.


“Ya, lalu?”

__ADS_1


Riana terlihat berpikir ulang, menatap mantan kekasihnya sendu. Ada keraguan di matanya, Riana selalu memengang prinsip dalam suatu hubungan maka hanya yang terlibat di dalam hubungan itulah yang harus menyelesaikan masalah.


“Riana, are you okay?” Tanya Ardian khawatir, kenapa Riana tiba-tiba terdiam?


Riana tersenyum, “I’m okay. Aku tidak jadi membicarakannya ya Ardian. Maafkan aku, seharusnya ini aku selesaikan dengan Nathan” Ucapnya.


Ardian mengangguk-angguk. Ternyata tabiat Riana yang satu itu masih sama, tidak menceritakan masalah dalam hubungan kepada orang lain tapi, apakah mereka orang lain sekarang?


“Aku bisa mengerti tapi, seandainya kau tidak mampu memendamnya sendiri, kau bisa berbagi, aku akan selalu ada untuk mendengar ceritamu” Ucap Ardian, mengusap surai hitam yang dulu menjadi kesukaannya.


“Besok, aku mau bertemu dengan mama”


Ardian tersneyum, sangat setuju dengan keputusan Riana.


“Kau serius? Mau ke rumahmu atau aku yang membawa ibumu kesini saja?” Tanya Ardian.


Riana berpikir sejenak, bingung dengan penawaran mantan kekasihnya.


“Kau tidak pernah merepotkanku, jangan sungkan mengatakan keputusanmu” Sahut Ardian, seolah tau apa yang sedang di pikirkan Riana.


Tapi, sejak dulu Riana memang tidak bisa berbohong kepada Ardian. Lelaki itu cukup pintar membaca raut wajah Riana meskipun tidak selalu benar tapi, kebanyakan benar.

__ADS_1


“Ardian, aku masih tidak mau menginjakkan kaki di rumah itu” Ucap Riana dengan makna tersirat yang tentu saja Ardian sudah tau artinya. Riana memilih opsi ke-dua.


“Aku akan membawa mamamu besok pagi kemari. Mungkin agak siang karena membuatkanmu sarapan dulu? Kau tidak diizinkan memasak sendiri tanpa pengawasan siapapun” Ucap Ardian posesif.


“Kau terlalu berlebihan, aku bisa mengerjakan semuanya sendiri. Apa menurutmu ibu hamil selemah itu?” Sahut Riana.


Ah iya, Ardian tiba-tiba teringat saat Riana mengatakan ‘ibu hamil selemah itu?’, dia lalu duduk tegap melihat Riana, “Apa kau pernah pergi ke dokter kandungan sebelumnya?”


Riana hanya diam, mana berani menjawab jika kenyataannya dia tidak pernah pergi ke dokter untuk memeriksakan kondisi bayinya.


“Ck, bagaimana kau ini. Apa Nathan juga tidak memiliki inisiatif?” Tanya Ardian, tidak habis pikir dengan pasangan suami istri itu. Bagaimana mungkin keduanya seolah acuh tak acuh satu sama lain?


“Menerima kehamilanku saja, tidak” Gumam Riana pelan, sangat pelan. Ardian hampir tidak bisa mendengarnya tapi, lelaki itu jelas mendengar semuanya dan dia langsung menggenggam tangannya, geram.


“Baiklah, kalau begitu besok kita periksa pagi-pagi sekali. Istirahatlah sekarang, jangan mencoba menolakku” Ucap Ardian final.


Riana hanya mengangguk, dia berdiri dan menatap Ardian yang juga menatapnya, “Terimakasih” Gumamnya.


Ardian tersenyum dan mengagguk, membawa Riana ke kamarnya lalu pergi ke ruang keluarga setelah menutup pintu kamar Riana.


Sebenarnya, lelaki itu melihat CCTV di kamar Riana. Bukan lancang tapi, dia hanya akan memastikan Riana tidur dengan baik sebelum pulang. Meskipun tidak tega rasanya meninggalkan wanita itu sendirian.

__ADS_1


__ADS_2