Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Sabar


__ADS_3

Keesokan harinya, saat Riana mau berangkat bekerja, dia melihat ruang tamunya di penuhi dengan teman-teman Nathan yang masih tidur. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala dengan hal itu.


Tanpa memasak sarapan, Riana langsung berangkat kerja. Alasannya karena hari ini ada beberapa hal yang perlu diurus terkait tokonya.


Tanpa pamit dengan siapapun karena memang tidak menemukan siapapun yang sudah terbangun di rumah itu.


Sebelum sampai di toko, Riana mampir dulu ke bank, mengambil tabungan omsetnya, tentu saja karena ini memang hari gajian karyawannya.


“Lea, ke ruanganku sekarang” Ucap Riana setelah sampai di meja kasir tokonya.


“Baik mbak”


Lea dengan senang hati mengikuti atasannya, hari gajian telah tiba, kira-kira begitu teriaknya dalam hati.


Setelah menutup pintu ruangan Riana, seperti biasa, Lea duduk di depan atasannya, menunggu wanita itu mengeluarkan asetnya untuk dibagikan kepada seluruh karyawan.


“Hitung semuanya, berikan bonus 500rb per-orang” Ucap Riana, memberikan uang dalam sebuah koper.


“Mbak, ada acara apa? kenapa banyak sekali bonusnya?” Tanya Lea, cukup terkejut dengan bonus yang akan di terima orang-orang.


“Sudah ada data-data karyawan yang per hari ini akan di-istirahatkan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan”


Deg


“T-Tapi kenapa mbak?”

__ADS_1


“Aku tidak akan mampu membayar mereka semua untuk beberapa waktu ke depan” Jawab Riana sedih.


“Tapi, omset kita baik-baik saja, mbak. Tidak ada penurunan sama sekali” Ucap Lea.


“Iya tapi, ada hal-hal yang tidak perlu kau tau” Sahut Riana.


Jawaban itu sukses membuat Lea terdiam, fokus menghitung dan menjepit uang-uang itu, memisahkannya untuk per-individu.


“Tahan beberapa pengeluaran tidak penting sampai semuanya stabil ya, Lea” Ucap Riana, masih fokus dengan dokumen-dokumennya.


“Baik mbak”


...***...


Saat Riana sudah pulang, dia mendapati rumah sudah banyak orang.


“Kita akan pindah ke tempat yang waktu itu aku katakan” Jawab Nathan.


“Memangnya rumah ini sudah terjual?” Tanya Riana.


“Sudah, aku bahkan sudah membeli motor dan hp baru” Jawab Nathan, menunjukkan motor barunya yang sudah bertengger manis di depan rumah.


Motor keluaran terbaru dengan harga yang lumayan mahal.


“Cash?” Tanya Riana.

__ADS_1


“Tidak, kredit 2 tahun” Jawab Nathan.


“Itu artinya hutangnya bisa lunas secepatnya kan?” Tanya Riana, menaruh harapan dengan terjualnya rumah itu.


“Tanya saja pada ibu, yang penting aku sudah memiliki motor baru dan hpku juga sudah kembali” Jawab Nathan.


****, dengan segala kesabaran Riana hanya bisa tersenyum. Harapannya hanya ada di ibu mertuanya, bukankah seharusnya ibu mertuanya itu mengerti apa yang harus di dahulukan? Hutangnya dulu bukan?


“Hey, menantu sok cantik, ayo cepat bantu ini” Ucap sang ibu mertua pada Riana.


“Nathan, aku mau ke rumah barunya saja” Riana mengatakannya pada sang suami.


“Mau ku antar atau mau berangkat sendiri saja?”


“Tentu saja diantar” Sahut Riana.


Setelah sampai di rumah barunya, Riana langsung melihat calon kamar barunya.


“Memang jauh berbeda dengan rumah yang lama, jika kau mau mungkin kita bisa mengungsi di rumahmu dulu?” Ucap Nathan.


“Rumahku? Rumah mamaku maksudmu?” Tanya Riana, memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Sebagai jawaban, Nathan hanya mengangguk.


“Jika kau lupa, daripada mencari cara mendapatkan restunya, kau bahkan memintaku untuk ikut bersamamu dan menjanjikan kebahagiaan untukku. Apa kau tidak malu jika harus menampakkan wajahmu di depan mamaku?”


Alih-alih mengakhiri semuanya, Riana memilih bertahan dengan kesabarannya meski kata-katanya terkesan kasar.

__ADS_1


“Huh, ya sudah, bertahan saja di rumah ini” Sahut Nathan, masih dengan nada bodo amatnya.


Riana hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil berteriak ‘sabar, sabar, sabar’ di hatinya.


__ADS_2