
Tok
Tok
Tok
Ardian mengetuk pintu di hadapannya. Entah apa yang ia tenteng di dalam plastik besar itu, menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.
Sedangkan Riana yang baru saja bangun tidur, langsung pergi ke depan berniat membukakan pintu.
Ceklek
Deg
Mata keduanya bertemu. Riana dan Ardian saling menatap sejenak.
“Kau disini?” Tanya Ardian, pura-pura tidak tau dengan apa yang terjadi.
“Aku kira ada sisapa di dalam, karena dari luar kok sudah bersih sekali” Sahut Ardian lagi, mengintrupsikan Riana agar tidak melamun.
“A-Ah iya, masuklah”
Tidak mungkin kan Riana mengusir Ardian? Mengingat rumah itu dibeli oleh keduanya. Jelas saja baik Riana maupun Ardian, mereka sama-sama memiliki hak disana.
__ADS_1
“Aku membawa beberapa camilan, makanlah” Ucap Ardian.
“Terimakasih” Riana tersenyum singkat.
Keduanya terlihat canggung tapi, “Kenapa?” Ardian berhasil membuka suara. Memberanikan diri untuk memulai pembicaraan yang mungkin saja sensitif itu.
“Tidak apa-apa, hanya ingin menenangkan diri saja” Sahut Riana.
“Apapun masalahnya, aku selalu mengatakan padamu untuk tidak lari dari masalah. Kau tau bukan bahwa masalahmu akan semakin larut jika tidak segera kau selesaikan” Ucap Ardian, tidak berani mendesak mantan kekasihnya untuk berbicara lebih.
Ardian menghembuskan napasnya pelan, “Tadi Nathan mencarimu ke rumah mama Rifa dan ke toko”
Deg
“Bagaimana kau bisa tau? Apa mama menelfonmu?” Tanya Riana.
“Tidak baik jika kau saling tidak sapa dengan mamamu, biar bagaimanapun dia tetap ibumu, orang tuamu bahkan dia membesarkanmu seorang diri”
Ardian berkata dengan lembut bahkan lelaki itu mengusap tangan Riana pelan, memberikan ketenangan disana.
“Tapi, aku terlalu malu untuk kembali kesana. Aku meninggalkan rumah karena Nathan. Apa aku harus pulang karena luka dari Nathan?” Riana mengatakannya dengan nada yang bisa dibilang tidak begitu lancar, entah karena hamil atau memang terharu, perasaannya begitu sensitif sehingga membuatnya langsung meneteskan air mata.
“Hey, dia tidak akan menolakmu kembali ke rumah. Itu juga rumahmu, dia pasti senang kau kembali meskipun dengan lukamu. Mamamu mungkin merasa kesepian di rumah seorang diri”
__ADS_1
Sejemang, Ardian tertegun melihat perut buncit Riana. “Kau membutuhkan suamimu tapi, jika dia dan keluarganya berlaku tidak baik padamu maka, kau hanya membutuhkan mamamu” Sambung Ardian.
Rasanya sakit, seseorang yang sudag ia jaga selama sembilan tahun harus berakhir seperti ini bersama orang lain. Di satu sisi, kemarahnnya memuncak dengan sahabat masa kecilnya tapi, di sisi lain Ardian tidak memiliki hak mencampuri urusan rumah tangga mantan kekasihnya.
“Pulang ya, biarkan mamamu mendampingimu sampai akhir. Dia pasti akan memberikan jalan keluar terbaik untuk masalahmu” Ardian mulai membujuk Riana agar tak lagi malu atau sungkan dengan mamanya sendiri.
Riana masih terus menangis. Wanita itu hanya tertunduk, tidak berani menatap Ardian, takut jika nanti rasa bersalah akan tumbuh di benaknya dan itu hanya akan menambah luka yang ada di dalam dirinya.
“Riana, lihat aku!”
Mau tidak mau Ardian harus mengangkat wajah Riana. “Tidak perlu khawatir dengan apapun yang akan terjadi nanti. Aku akan membantumu, mamamu pun juga begitu. Percaya padaku, okey?”
Riana masih diam, entah apa yang masih menjadi beban pikirannya.
“Pulang ya atau mau aku panggilkan saja ibumu kemari?”
“A-Aku…”
Ardian menunggu Riana berucap, mungkin ragu atau apa sampai wanita itu terdiam setelah mengucapkan satu kata dengan terbata.
“Apa?” Tanya Ardian.
“Aku masih ingin sendirian” Sahut Riana.
__ADS_1
Ardian mengangguk mengerti, “Ijinkan aku untuk menjagamu selama kau tinggal disini. Aku akan kemari siang dan pulang di malam hari”
Riana hanya diam, tidak merespon apapun atas ucapan Ardian, “Diam berarti kau setuju” Sahut lelaki itu.