
Riana dan Ardian sudah berada di rumah, mereka membali makan malam di luar sepulang dari pusat perbelanjaan.
“Besok pagi saja menatanya” Ucap Ardian, memberikan segelas susu ibu hamil. Melihat Riana mulai excited mengeluarkan barang-barang belanjaannya sebenarnya ia suka hanya saja waktu sudah cukup larut.
“Terimakasih” Riana mengambil gelas itu, meneguknya sedikit, “Aku akan tidur satu jam lagi” Lanjutnya.
Ardian menggeleng, tidak setuju dengan pernyataan Riana, “Besok saja sekalian kita mendekorasi kamarnya ya. Malam ini di laundry dulu, biar besok sudah bersih”
Riana menatap Ardian dengan puppy eyes-nya. Ardian sangat gemas dengan hal itu, sungguh.
“Jangan melihatku begitu, aku tidak akan luluh” Sahut Ardian.
Riana menyerah, dia menghela napasnya pelan lalu mengangguk, setuju dengan ucapan Ardian.
“Bagus, aku akan membawa gelasmu ke belakang”
Ardian membawa gelas susu Riana yang sudah tandas ke dapur, bahkan mencucinya hingga bersih lalu kembali dan melihat Riana masih ada di ruang keluarga.
“Kenapa belum masuk kamar?” Tanya Ardian.
“Aku tiba-tiba ingin lalapan ayam”
Ardian melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, lelaki itu menepuk dahinya pelan, “Aku akan mencarikannya untukmu” Ucapnya.
“Aku ikut” Sahut Riana.
“Tidak boleh, udara di luar sudah dingin Rin” Ujar Ardian. Dia tau bahwa angin malam tidak baik, bukan hanya untuk ibu hamil bahkan untuk orang biasa itu tidak baik.
__ADS_1
“Aaaarr” Rengek Riana.
Huh
Ardian menghembuskan napasnya pelan, “Baiklah, pakai jaket dulu” Jawabnya.
Riana langsung berlari ke kamarnya, mengambil jaket lalu kembali ke ruang keluarga.
Ardian dan Riana pun pergi berdua, mencari lalapan ayam seperti yang diinginkan Riana.
Setelah berkeliling cukup lama, karena rata-rata penjual lalapan disana tutup pukul sembilan atau pukul sepuluh malam.
“Mau itu?” Tanya Ardian, menunjuk salah satu warung lalapan yang terlihat sudah beres-beres.
Riana mengangguk cepat sebagai jawaban, matanya bahkan sudah berbinar senang.
Riana lagi-lagi hanya bisa mengangguk, ia juga mulai merasa dingin dengan hawa di luar. Kalau bi pikir-pikir memang dirinya saja yang bebal sejak tadi.
“Mas, mau tutup ya?” Tanya Ardian pada mas-mas penjual.
“Iya nih, mas” Jawabnya.
“Boleh buatin satu porsi lagi aja gak mas buat saya?”
“Waduh, gimana ya” Sahut mas penjual, seolah enggan untuk melayani pelanggan lagi.
“Tolong dong mas, istri saya sedang hamil soalnya, dari tadi sudah muter-muter tapi, baru ketemu mas-nya aja ini” Ucap Ardian, membujuk mas penjual sesuai dengan kemampuannya.
__ADS_1
Mas penjual terlihat berpikir sebentar, melihat Riana di dalam mobil yangs sedang menunggu, membuatnya jelas iba jika mengingat bagaimana istrinya dulu juga sering nyidam tengah malam.
“Baiklah, saya buatkan dulu. Tunggu sambil duduk mas” Ucap Mas itu lalu memberikan kursi plastik kepada Ardian dan mengeluarkan beberapa barang-barangnya yang sudah bersih untuk memasak.
Ardian melihat keluwesan mas penjual dalam memasak.
“Baru anak pertama ya, mas?” Tanya mas penjual, memecahkan keheningan di antara mereka.
“Iyaa” Ucap Ardian, sebenarnya dia juga ragu menjawab hal itu memgingat dirinya bahkan belum menikah, seperti kaku saja mengakuinya.
“Udah berapa bulan mas?” Tanya mas-nya lagi.
“Sudah delapan bulan” Jawab Ardian.
Mas-nya mengangguk, “Biasanya kalau sudah mau lahiran begini harus sering begituan mas, apalagi kalau udah trisemester ketiga gini, bikin jalan buat adeknya keluar” Bisik mas penjual, menurunkan nada bicaranya agar tidak ada yang mendengar, meskipun sebenarnya disana sudah lumayan sepi, banyak pedagang-pedagang lain yang juga sudah mengangkut barang dagangan mereka.
Ardian hampir saja tersedak salivanya sendiri medengar penuturan itu, benar-benar memusingkan kepalanya secara tiba-tiba, mendapat rumus darimana mas-mas itu hm?
“Hehehe, mas pasti ngerasa aneh ya saya tiba-tiba bilang gini? Itu dari bidan istri saya dulu bilangnya begitu, alhamdulillah istri saya waktu lahiran pertama kali emang sakit luar biasa tapi, dedeknya lancar keluarnya, nggak rewel” Lanjut mas-nya.
Ardian hanya tersenyum kaku, “I-iIya mas, makasih sarannya” Jawabnya dengan wajah yang sangat tegang.
“Ini mas, gratis aja deh buat istrinya” Ucap mas penjual, memberikan satu plastik lalapan ayam pesanan Ardian.
“Jangan begitu mas, saya sudah memaksa mas-nya untuk buatin ini, masa mau tidak dibayar”
Ardian mengeluarkan uang seratus ribu lalu diletakkan di meja mas penjualnya, “Rezekinya anak mas, jangan di tolak” Ucap Ardian.
__ADS_1
Jika sudah menyangkut tentang anaknya, mas penjual langsung terdiam, “Terimakasih ya mas, saya doakan istrinya sehat dan lancar sampai lahiran nanti”