
Malam mulai menyapa, Riana memutuskan untuk lembur dan membuang segala rasa gelisahnya kepada pekerjaan. Wanita itu sudah mengabari Nathan dan Nathan pun tidak keberatan dengan hal itu.
Pukul tujuh malam, Riana baru membereskan berkas-berkasnya. Orang-orang produksi sudah pulang sejak pukul tiga sore tadi tapi, toko masih tetap buka hingga jam sembilan malam nanti. Jadi, masih ada dua jam sebelum jam tutup toko.
Riana sudah mempercayakan semuanya kepada Lea tapi, entah kenapa hari ini rasanya Riana tidak ingin segera menginjakkan kaki di rumah. Wanita itu pergi ke tempat gudang, dimana orderan online di packing di sana.
Sembari menyusuri tokonya, Riana masih tidak percaya bahwa dirinya akan memiliki usaha sebesar ini. Bersama Ardian, membuat mereka sama-sama berkembang tapi, sayangnya saat ini perkembangan yang di rasakan keduanya tidak bisa dibagi bersama lagi.
Sejemang memori teringat di benak Riana, seandainya dia mau sedikit bersabar mungkin dia tidak akan melewati masa sulit ini bersama Nathan.
Tapi, kemudian Riana tersadar, mengusir segala rasa ‘seandainya’ itu. Dia selalu bisa berpikir positif di tengah hatinya yang sedang tak menentu. Di sisi lain, dia ingin memilih percaya saja dengan Nathan tapi, di sisi lain suaminya itu sudah pernah terbukti melakukan kesalahan serupa.
“Bagaimana? Packingan hari ini, aman?” Tanya Riana pada orang-orang yang berada di bagian packing online.
__ADS_1
“Aman, mbak. Barakallah kita semua selalu di beri kemudahan di toko”
Seseorang yang menjawab ini adalah seorang muslim, dia selalu mengucap syukur atas apa yang selalu menjadi pekerjaannya. Seperti baru saja contohnya.
“Iya nih, mbak. Ini semua juga berkat kerja sama dari kalian, terimakasih ya” Ucap Riana pada para pegawainya. Riana memang dikenal ramah dan rendah hati, tak jarang dia akan mentraktir karyawannya di jam makan siang dengan jadwal tertentu.
Tapi, sekarang kebutuhannya begitu padat. Jadi, harus pintar-pintar membagi penghasilan.
“Mbak, gimana? Udah isi belum? Kok kayaknya akhir-akhir ini mbak sering keliatan lesu, kalau udah isi jangan capek-capek mbak. Kasian mbaknya sendiri nanti kalau kelelahan” Ucap ibu-ibu yang lain.
“Riana cuma lagi sering lembur aja, bu. Emang suka kayak gini wajahnya” Sahut Riana.
Setelah melihat semuanya tidak ada yang bermasalah, Riana pamit untuk pulang, “Ibu-ibu, Riana pulang dulu ya. Sudah cukup malam, nanti suami nyariin” Ucapnya, berkata seolah dirinya selalu paling di butuhkan kehadirannya di rumah.
__ADS_1
“Iya mbak, hati-hati”
“Semoga selamat sampai tujuan ya mbak, hati-hati”
Ucap para karyawan Riana bersahutan. Riana hanya mengangguk sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Saat sudah berada di toko, Riana melihat Ardian di sana sedang berbincang dengan Lea. Hatinya ragu untuk melangkahkan kaki kesana tapi, mau lewat mana? Lewat belakang pun nanti dia akan mengambil fokus keduanya karena memang terlihat jelas dari pintu gudang.
“Cih, jangan seperti bocah tujuh belas tahun ketemu mantan pacarnya. Ayo, bersikaplah seperti biasa” Batin Riana lalu melangkahkan kakinya ke depan.
“Lea, aku pamit ya. Sudah malam nih, nanti Nathan nyariin” Ucap Riana, berpamitan hanya pada Lea.
Ardian melihatnya dengan tatapan yang entah, Riana sulit mengartikannya. Riana sendiri sedang menebak-nebak, apa mantan kekasihnya itu datang karena sedang dekat dengan Lea atau bagaimana?
__ADS_1
“Lanjutkan saja ngobrolnya, aku pamit dulu, permisi” Riana melangkahkan kakinya menjauhi mereka.
Tapi, sebelum benar-benar jauh, Riana sempat mendengar Ardian berkata, “Tolong jaga dia ya Le, kalau ada apa-apa dengannya, kabari aku” Begitu yang Riana dengar sebelum akhirnya yang Riana tau Ardian juga berpamitan pergi.