Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Suasana Rumah Nathan


__ADS_3

Riana memijat keningnya pelan, merasa pusing dengan keadaan yng terus membolak-balikkan hatinya.


“Oh god” Gumamnya.


Di sepanjang perjalanan pulang tadi, Riana sama sekali tidak berbicara. Ardian pun takut untuk bertanya lebih lanjut, takut jika nanti wanita itu akan semakin stres, hal itu jelas akan memicu kesehatan janinnya bukan.


“Rin” Panggil Rifa, Sang mama dari ambang pintu kamarnya.


“Masuk ma” Ucap Riana, mempersilahkan ibunya masuk.


“Minum dulu” Rifa menyodorkan satu gelas susu ibu hamil rasa coklat, seperti yang biasa diberikan Ardian untuknya.


“Ardian sudah cerita tadi” Ucap Rifa, memberitahu putrinya jika dirinya juga baru tau perihal kepercayaan Ardian yang berubah.


“Menurut mama bagaimana?” Tanya Riana, bingung dengan hatinya sendiri.


“Ikuti kata hatimu, bagi seorang muslim menikah dengan seseorang yang beda agama adalah haram, hukumnya tidak sah. Jangan pindah keyakinan karena ingin menikah dengan Ardian karena suatu hari nanti hal itu akan menjadi boomerang untuk dirimu sendiri, berpindahlah karena memang itu maumu maka, kau akan merasa damai hingga di kemudian hari” Ucap Rifa, memberikan saran kepada putrinya.

__ADS_1


Riana terdiam sejenak, apa yang dikatakan mamanya memang benar.


“Apa mama tidak menentangnya?” Tanya Riana.


Rifa tersenyum, mengusap kepala anaknya penuh sayang.


“Tidak, kau sudah dewasa dan kau punya hak untuk menentukan pilihanmu sendiri”


Riana menghambur pada pelukan mamanya, wanita paruh baya yang sempat ia lukai hatinya demi seorang lelaki.


“Istirahatlah” Setelah mengatakan hal itu, Rifa keluar dari kamar Riana, membiarkan putrinya waktu luang untuk memikirkan keputusannya.


“Ya Tuhan, Arianti dimana?” Tanya ibu Nathan kepada sang putra.


“Ada di kamarnya” Jawab Nathan, masih sibuk dengan game-nya.


Ibu Nathan hanya mampu menepuk keningnya pelan. Tidak habis pikir dengan menantu barunya.

__ADS_1


“Selesai acara resepsi, bukannya ikut membantu beres-beres malah berdiam diri di kamar. Aku dulu hamil besar bahkan masih bisa bekerja di pabrik, tidak manja dan menye-menye begitu” Ucap Ibu Nathan, berniat menyindir menantunya yang baru hm?


“Sudahlah bu, dia mungkin lelah” Ucap Nathan membela istrinya yang cantik itu, mana mungkin dia membiarkan Arianti mengotori tangannya untuk melakukan hal yang bisa merusak kecantikannya?


“Cih, apa kau pikir ibu tidak lelah? Kalian hanya berada di atas pelaminan. Menjadi raja dan ratu disana tapi, ibu? Bukan hanya menerima tamu undangan tapi, juga harus berlari kesana kemari mengurus banyak hal lalu, setelahnya kalian hanya bersantai ria begini? Lihat kondisi rumah kita masih seperti kandang sapi” Omel ibu Nathan.


Arianti di dalam kamar hanya terdiam mendengar ucapan mertuanya. Mulai berpikir apakah alasan Riana meninggalkan Nathan karena ini adalah salah satunya?


Dia pikir akan dijadikan princess di rumah itu, apalagi jika mengingat bagaimana keluarga Nathan sangat mendukung hubungannya sejak dulu. Alih-alih menjadi ratu masa depan sepertinya dia hanya akan menjadi upik abu.


Wanita itu tetap saja tidak keluar dari dekapan selimutnya, memilih pura-pura tidur saja daripada harus mendengar omelan ibu mertuanya terus menerus. Ibu hamil tidak boleh stres, pikirnya.


“Dulu menantu kaya tapi, rajin meskipun tidak cantik. Sekarang, menantu cantik tapi, malasnya tembus langit”


“Carilah kerja, kau akan mengandalkan siapa sekarang? Istrimu tidak bekerja, dia tidak seperti Riana yang mampu membiayai kehidupanmu”


Omelan ibu Nathan terus terngiang merdu di telinga Arianti, seperti kaset rusak terus berulang seiring dengan dinginnya malam. Cara mertuanya membandingkan dirinya dengan Riana sudah cukup menjadi pukulan emosional untuknya.

__ADS_1


Belum satu minggu tapi, stresnya sudah seperti di kurung dalam neraka selama bertahun-tahun.


__ADS_2