Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Aku Tidak Akan Mencabut Tuntutan


__ADS_3

“Kenapa tidak bilang padaku jika kau kemari?” Tanya Ardian.


Riana menatap Ardian, mereka sudah berada di dalam mobil, “Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu, aku hanya ingin melihat keadaannya” Sahut Riana.


“Omong-omong, dari mana kau tau aku kemari?” Tanya Riana.


“Aku tadi ke rumahmu untuk mengantar. Jadwalmu kontrol terakhir kan hari ini? Tapi, mamamu bilang kau ke lapas menjenguk Arianti tapi, aku malah melihatmu dicaci seperti itu” Jawab Ardian.


“Aku bahkan lupa jadwalku hari ini” Sahut Riana, menepuk pelan dahinya.


“Kalau begitu, kita kesana sekarang” Ucap Ardian, menancapkan gas ke rumah sakit.


“Aku tidak suka kau menemui mereka, bukan tanpa alasan tapi, ada baiknya kau tidak lai berurusan dengan mereka” Ardian mengoceh di dalam perjalanan.


“Hmm” Sahut Riana.


Setelah itu hening, tidak ada percakapan yang terjadi. Riana termenung menatap keluar jendela, bayangan Arianti di dalam lapas membuat hatinya terenyuh.


“Ar” Panggil Riana pelan.


“Ada apa?” Tanya Ardian, menoleh sekilas sebelum akhirnya kembali fokus dengan jalanan.

__ADS_1


“Dokter tadi bilang jika dia mengalami pemerk*saan di dalam lapas oleh temannya,-”


“Apa tempatnya di jadikan satu?” Sahut Ardian, memotong ucapan Riana.


“Tidak, sepertinya dia pelakunya lesbi. Kemungkinan anak yang berada di kandungan Arianti meninggal jadi, harus di operasi dan di ambil segera, sedangkan kondisi mentalnya juga tidak baik-baik saja” Jelas Riana.


“Lalu?” Tanya Ardian, dia tidak begitu peka ke arah mana pembicaraan mereka berlangsung.


“Aku mau mencabut laporannya”


Saat itu juga Ardian langsung menepikan mobilnya, memarkir di tepi jalan.


“Tidak bisa. Aku tidak mau mencabut laporannya. Rin, biarkan saja dia dihukum atas kesalahannya” Ucap Ardian.


“Ini impas, Tuhan punya cara sendiri untuk memberikan karma kepada umatnya” Jawab Ardian.


Tes


Riana sukses menjatuhkan air matanya, “Tapi, bukankah ini sudah impas katamu? Dia sudah mendapatkan hukumannya, itu sudah cukup” Ucapnya.


“Sekalipun kau ikhlas, aku sama sekali tidak ikhlas Rin. Aku adalah seseorang yang bertanggung jawab atas kasus ini jadi, aku tidak akan mencabut laporannya. Jika kau mengkhawatirkan mentalnya, dia tidak akan berada di lapas, dia akan berada di pusat rehabilitas. Jika kau mengkhawatirkan orang tuanya, maafkan aku, aku tidak peduli karena mereka pun tidak mau dan tidak bisa intstropeksi diri atas masalah yang terjadi” Ucap Ardian lalu kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


Meskipun terlihat tenang, di dalam hati Ardian begitu kesal dengan mantan kekasihnya itu.


Ardian sudah berjuang mati-matian untuk mempertahankan keadilan untuk Riana tapi, wanita itu malah mau melepasnya begitu saja?


Tidak bisa, dia tidak akan melepaskan pelaku kejahatan begitu saja.


Jika di akhirat nanti, pelaku akan tetap di hukum oleh yang kuasa maka, di dunia ini pun pelaku harus tetap dihukum oleh pihak berwajib. Setidaknya itu bisa meringankan hukuman mereka ketika berada di kubur nanti.


“Apa kau setega itu, Ar?” Gumam Riana. Mata sendunya menatap Ardian sayu.


“Akan lebih tega jika aku membiarkan dia keluar dari kasusnya. Akan ada berapa korban lagi selanjutnya? Mungkin tidak dengan cara seperti ini tapi, apa di dunia luar dia akan merenungi kesalahannya? Apa di dunia luar dia akan menjadi seseorang yang langsung berbaik hati, seorang kriminal tetaplah kriminal, Riana” Ucap Ardian.


Riana terdiam, dia sudah tidak tau harus berkata apa. Apa yang disampaikan Ardian tidak ada yang salah.


“Kasus ini akan dilanjutkan setelah kondisi mentalnya membaik” Sahut Ardian lagi.


“Lalu bagaimana dengan Nathan?” Ceplos Riana, mengingat tadi wanita itu tidak melihat kehadiran mantan suaminya.


Ardian memicingkan mata menatap Riana, “Apa kau kesana seorang diri berharap bertemu dengan Nathan?” Tanyanya.


Riana segera menggeleng, “Aku hanya penasaran kenapa suaminya tidak datang di saat kondisi sang istri seperti itu”

__ADS_1


Ardian bernapas lega dengan jawaban Riana, “Kalau begitu ayo jangan pernah ikut campur urusan mereka”


Setelah mengucapkan kalimat itu, mobil Ardian memasuki parkiran rumah sakit.


__ADS_2