
“Sampai kapan, Tuhan? Sampai kapan aku harus menyembunyikan ini?” Gumam Riana, memandangi langit-langit kamarnya sembari mengelus kandungannya yang masih berusia satu bulan. Wanita itu sedang terbaring seorang diri di ranjangnya. Nathan sedang berada di kamar mandi.
Riana sudah jarang pergi ke tempat gym dan salon. Wanita itu melewati hari-harinya fokus dengan toko dan kandungannya, tidak memberitahu perihal kehamilannya adalah keputusan yang ia ambil. Nyatanya jika ia mengatakannya pada Nathan, akhirnya lelaki itu tidak akan senang seperti orang-orang pada umumnya.
Ting
Ada pesan masuk di ponselnya.
Ini data laporan bulan ini, mbak
Itu pesan dari Lea. Di setiap akhir bulan memang Lea tidak pernah telat memberikan laporan toko dan produksi kepadanya, meskipun sekarang sedang hari libur, wanita itu pada akhirnya membuka aplikasi toko yang memang ia sediakan khusus untuk mengolah data-datanya.
“Ah iya, aku lupa kuotaku habis” Gumam Riana saat aplikasinya tidak bisa di buka. Salahnya juga membuat aplikasi itu berjalan secara online, karena menyambung dengan beberapa aplikasi lain.
Ceklek
Riana menoleh ke arah suara, Nathan sudah selesai dengan rambutnya yang masih di acak-acak dengan handuk kecil, baru selesai keramas hm?
“Sudah selesai?” Tanya Riana.
Nathan mengangguk, berjalan menuju lemari, mencari pakaian disana.
“Aku pinjam ponselmu untuk melihat laporan dari Lea. Kuotaku habis jadi, aku tidak bisa membuka aplikasi” Ucap Riana, meminta izin kepada suaminya. Sekilas, Riana melihat keraguan pada wajah Nathan, seperti takut atau bingung?
“Boleh atau tidak? Sebentar saja” Lanjut Riana, awalnya dia merasa bahwa suaminya itu tidak akan melarang jadi, tadi Riana langsung mengirimkan file-nya kepada nomor Nathan tapi, sepertinya lelaki itu enggan memberikan ponselnya.
“Boleh, biar aku bukakan” Ucap Nathan, langsung mengambil ponselnya cepat dan membuka file yang dikirim oleh Riana.
__ADS_1
Tentu saja Riana tidak bisa melihat ruang obrolan suaminya, dia juga tidak akan berani jika itu tanpa izin.
Saat sedang fokus-fokusnya meneliti datanya, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di ponsel yang tengah ia genggam.
Ting
Aku menstruasi
Deg
Dan itu dari mantan kekasih Nathan, Arianti. Wanita yang selalu di bandingkan dengan dirinya selama ini.
Riana segera mengambil ponselnya dan memotret pesan tersebut, entah untuk apa yang pasti menurut Riana itu penting.
Apa wanita ini yang menelfon waktu itu? Batin Riana.
Nathan yang dari tadi asik bermain game tiba-tiba berubah panik saat mendengar ponselnya berbunyi? Riana segera menyeret ponsel itu ke belakang tubuhnya.
“Ada apa?” Tanya Riana dingin. Sisi lain yang tidak pernah di tunjukkan oleh Riana kepada Nathan adalah kemarahannya dan sekarang lelaki itu melihat sendiri bagaimana istrinya jika marah.
“Apa yang kau sembunyikan?” Lanjut Riana saat dirinya tidak mendapatkan jawaban dari suaminya, malah lelaki itu sibuk ingin mengambil ponselnya di belakang tubuh Riana. Ponsel itu di genggam dengan erat olehnya, tidak akan dia lepas sedikitpun sebelum Nathan benar-benar menjelaskan semua padanya.
“Tidak ada, coba kembalikan ponselnya dulu” Ucap Nathan, tentu wajahnya semakin panik apalagi saat melihat ekspresi istrinya yang sudah seperti macan betina.
“Hentikan atau aku banting saja ponselmu?”
Nathan langsung terdiam mendengar ucapan tegas Riana. Pasalnya wanita itu jelas sedang berada di puncak amarahnya sekarang dan dia? Hanya sibuk mengambil ponselnya?
__ADS_1
“Aku menstruasi, isi pesan dari Arianti. Jelaskan sebelum aku meradang langsung kepada Arianti” Riana menatap suaminya tajam, meminta penjelasan atas pesan yang sudah ia baca tadi.
“Dia hanya bercerita, sayang” Jelas Nathan dengan lembut, mencoba menjinakkan istrinya.
Tapi, bukannya melunak Riana jelas semakin meradang. Hanya bercerita? Riana tersenyum remeh kepada suaminya.
“Hanya bercerita? Kau pikir wanita mana yang tiba-tiba bercerita perihal siklus menstruasinya? Tidak penting juga apalagi menceritakannya pada lawan jenis dan parahnya lagi suami orang?” Riana mengatakannya jelas masih dengan tatapannya yang tajam.
Nathan hanya terdiam, dia tidak mau membuat Riana semakin mengamuk nantinya. Lelaki itu memejamkan matanya saat Riana dengan sengaja membaca pesannya dan juga Arianti.
^^^Kau belum menstruasi?^^^
Belum, bagaimana jika aku hamil?
^^^Tidak mungkin, kan aku mengeluarkannya di luar^^^
^^^Aku juga sudah menggunakan pengaman^^^
Buktinya aku sudah telat satu minggu
^^^Tenanglah, itu hal biasa kan sejak dulu?^^^
^^^Dulu kau juga pernah telat bahkan hampir dua minggu nyatanya apa?^^^
^^^Kau tidak hamil kan?^^^
Riana menghembuskan napasnya kasar, itu pesan Arianti tadi malam. Garis besari, Tadi malam. dan pesan yang di baca Arianti tadi baru hari ini dikirim.
__ADS_1