Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
New Life


__ADS_3

Riana terbangun di pagi-pagi sekali, menyiapkan sarapan dan juga membereskan pekerjaan rumahnya dengan baik. Hari ini niatnya akan kembali ke toko setelah sekian lama terpuruk dengan kesedihannya, dia akan memulai hidup yang baru setelah ini.


“Riana, kenapa mengerjakan ini semua? Pergilah, biar mama yang mengerjakan semuanya” Sahut Rifa, mama Riana.


Wanita paruh baya itu begitu terkejut melihat putrinya sudah membereskan seluruh rumah di saat kondisinya belum dikatakan stabil oleh dokter.


“Ma? Hari ini packing ya, besok kita kembali ke rumah lama. Aku merindukan rumah masa kecilku” Ucap Riana, malah membicarakan sesuatu yang tidak nyambung dengan ucapan sang ibu.


Rifa jelas terkejut, apa dalam waktu satu malam saja bisa membuat Riana menjadi seseorang yang baik-baik saja?


“Rin? Kau sedang bercanda untuk menutupi kesedihanmu?” Tanya Rifa.


Riana terkekeh sebentar, “Tidak ma, Riana baik-baik saja. Riana akan memulai hidup yang baru saja, Riana akan membangun bisnis baru dengan anak-anak universitas dari kota sebelah, aku akan fokus disana untuk melupakan segalanya dengan sempurna” Ucapnya sambil tersenyum. Memang terlihat tidak berpura-pura atau bersandiwara.


Rifa tersenyum, senang melihat putrinya sudah kembali, dia menangis haru, perasaan senangnya tidak bisa dibendung.


“Ma? Kenapa menangis?” Riana segera menghampiri mamanya, khawatir karena wanita paruh baya itu tiba-tiba menangis.

__ADS_1


Rifa menggeleng, “Tidak apa, mama hanya senang kau sudah tidak lagi murung dan siap menjalani hidup baru” Jawabnya sambil memeluk Riana sayang.


Pagi itu mereka saling memeluk sayang.


Setelah puas dengan saling menangis sambil memeluk, mereka menyantap sarapan yang sudah di sediakan oleh Riana.


“Sejak kapan kau pandai memasak begini?” Tanya Rifa.


Pasalnya dulu Riana tidak pernah memasak saat masih tinggal dengan Rifa sebelum menikah.


“Aku di tuntut untuk mandiri setelah menikah. Jangan lupa, mantan kekasihku memiliki café dimana aku juga ikut berperan di dalamnya” Ucap Riana.


“Mama bangga dengan dirimu” Sahut Rifa.


Riana mengangguk paham. Apa yang terjadi kemarin adalah hal berat untuk Riana tapi, apa yang terjadi hari ini harus penuh kuat untuk melaluinya.


“Hari ini aku akan pergi ke toko, ada banyak hal yang harus aku selesaikan. Mungkin akan sedikit lembur untuk beberapa hari ke depan, Lea pasti lelah mengurus semuanya sendirian di saat aku tidak ada disana” Ucap Riana, membeberkan rencananya untuk beberapa hari ke depan.

__ADS_1


“Jangan terlalu mem-forsir tenagamu. Ingat, kau belum sepenuhnya pulih dari luka operasi” Sahut Rifa, menasehati sang putri.


Riana mengacungkan jempolnya, “Aman, jika lelah aku pasti akan beristirahat ma. Percayalah denganku” Jawabnya, meyakinkan.


Huh


Rifa menghembuskan napasnya pelan, jika sudah begini mana mungkin dia bisa melarang. Keras kepalanya dan putrinya itu sama jadi, Rifa tentu saja tidak bisa melarang terlalu jauh. Jika terlalu mengekang, Riana pasti akan melakukan hal yang lebih.


Begitulah karakter Riana, tidak jauh dari ibunya.


“Jangan pulang malam-malam. Apa ibu juga perlu mem-packing barang-barangmu?” Tanya Rifa.


Riana menggeleng, “Aku akan mengemasnya sendiri nanti, ma. Ada beberapa barang yang tidak perlu dibawa, aku ingin membagikannya kepada yang membutuhkan” Jawabnya.


Rifa mengerti dia hanya mengangguk sebagai tanda bahwa dia tidak akan melakukannya untuk Riana.


“Aku sudah selesai, aku berangkat dulu” Ucap Riana, berpamitan lalu melenggang pergi.

__ADS_1


“Hati-hati, jangan terlalu lelah” Ucap Rifa, meninggalkan pesan untuk putrinya.


__ADS_2