
Riana langsung memberikan ponselnya kepada Nathan, “Kita usai saja” Ucap wanita itu lemah. Apa yang bisa dipertahankan dari lelaki seperti itu?
Nathan menggeleng kuat, “Aku tidak mau”
Lelaki itu mencoba untuk meraih tangan Riana tapi, wanita itu jelas tidak mau di sentuh. Dia diam, tidak mau mengatakan apapun kepaa suaminya, masih mencerna dengan benar apa yang saat ini terjadi dengan dirinya dan juga rumah tangganya.
Dia merasa sesak, seperti tidak ada oksigen yang mengisi rongga pernapasannya. Dari awal pernikahannya, Riana selalu menjadi tokoh utama atas segala rasa sakit. Di mulai dari keluarga Nathan yang tidak begitu menerimanya, hutang keluarga, Nathan tidak mau memiliki momongan dan kali ini apa? Perselingkuhan? Dengan mantan kekasih lelaki itu?
Drama macam apalagi kali ini, Tuhan? Riana membatin. Bagaimana dengan anaknya? Dia sedang hamil bukannya di manja seperti wanita-wanita di luar sana tapi, lagi-lagi wanita itu harus menelan pahitnya rumah tangga. Jangankan di manja, Nathan jelas-jelas tidak akan mau menerima kehamilan Riana, di tambah dengan lelaki itu selingkuh?
“Sampai sejauh mana?” Tanya Riana, mempertanyakan tentang hubungan Nathan dan Arianti tapi, Nathan hanya diam mematung di tempatnya.
“Berapa kali kalian melakukan hubungan intim selama kita sudah menikah?” Lanjut wanita itu karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
__ADS_1
“Aku tidak ingat” Jawab Nathan pelan.
Saat itu juga, rasanya Riana ingin menampar wajah manipulatif di depannya. Kalian tau kan bagaimana mood ibu hamil? Riana sedang berada di puncak emosinya tapi, lihat. Dia mampu menahan diri untuk tidak berteriak lantang di depan wajah suaminya.
“Jadi, kalian memang sudah melakukan hal menjijikkan itu sejak masih pacaran?” Tanya Riana lagi, mengingat pesan Nathan perihal Arianti yang dulunya pun sempat telat haid.
“Kau memang kurang ajar” Gumam Riana pelan, meskipun nada bicaranya terkesan tenang dan elegan tetap saja hatinya begemuruh marah.
“Kau sendiri yang mengingatkanku, bilang padaku perihal masa lalu. Kau yang memperingatkan aku ‘jika belum selesai dengan masa lalumu maka, jangan berani memulai hubungan yang baru’ lalu, apa? Kau memperingatkanku begitu tapi, kau sendiri?” Riana meluapkan segala isi hatinya.
Nathan masih diam, bahkan dirinya tidak mampu menatap Riana sekarang. Dia sudah terbukti bersalah bukan?
“Jawab, Jeremy Nathan” Ucap Riana, mendesak suaminya untuk mengucapkan kalimat yang sama saat dia bertanya dan memperjelas hubungan mereka dulu.
__ADS_1
“A-aku sudah selesai dengannya, a-aku tidak akan memiliki hungan lagi dengannya” Jawab Nathan dengan terbata-bata. Tamat sudah riwayatnya sekarang.
“Lalu, sekarang apa? Apa alasannya?” Tanya Riana lagi, kali ini nadanya sudah tidak memburu seperti tadi, dia mulai bisa mengendalikan dirinya.
“Fisikmu. Bodymu sudah cukup bagus tapi, wajahmu? Aku selalu berpikir bahwa aku bisa memikat wanita-wanita yang jauh lebih cantik dari dirimu tapi, aku tidak bisa mencari mereka dengan sikap sesabar dan semengerti dirimu. Kau juga jarang memiliki waktu untukku”
Deg
Riana berhasil meneteskan air matanya, “Aku tidak memiliki waktu untukmu? Coba katakan, kapan aku menolak ajakanmu untuk bercinta? Kapan aku tidak melayanimu dengan baik? Kau bilang kau tidak masalah dengan wajahku, dia bisa berubah jika memang di rawat. Tidak ada yang salah dengan wajahku, jika kau tak suka seharusnya kau mencari wanita lain sejak dulu” Ocehnya.
“Nathan, perawatan itu butuh uang. Jangankan memberiku dana perawatan, membelanjaiku saja kapan kau pernah? Maafkan aku harus membahas ini, tabunganku bahkan habis untuk membayar hutang keluargamu”
Nathan terdiam, Riana benar. Semua yang dikatakan Riana tidak ada satu kata pun yang salah. Nathan hanya seolah-olah membalikkan keadaan bukan?
__ADS_1
“Pergilah, cari seseorang yang menurutmu memang setara dan sangat pantas berada di sisimu” Ucap Riana, dia tidak mau menolehkan kepalanya kepada lelaki yang masih berstatus suaminya itu.