Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Siuman


__ADS_3

Riana mulai tersadar dari tidurnya, di sekelilingnya sudah ada Rifa, Ardian sekaligus dengan keluarga Ardian.


Riana terdiam sejenak, menatap bingung mereka semua yang masih samar-samar dilihatnya, efek obat bius tadi belum sempurna hilang, kepalanya masih pusing, perutnya juga masih mual.


Beberapa saat terdiam, mencoba mengumpulkan fokusnya, Riana tiba-tiba tersadar, dia meraba perutnya yang sudah rata.


“Dimana?” Gumam Riana kepada semua orang disana.


Semuanya masih terdiam, menatap Riana sendu. Dengan berani, Ardian berjalan menuju Riana, mengelus tangan Riana pelan, “Kau tidak mau tidur lagi?” Tanyanya.


Riana menggeleng keras, “Dimana bayiku?” Tanya Riana, terdengar seperti bisikan. Ada rasa ketakutan di dalam dirinya, merasa tidak beres dengan keadaan di sekitarnya.


Ardian mengangkat wajahnya, melihat mata Riana yang sudah berkaca-kaca.


“Ar, dia baik-baik saja kan?” Tanya Riana, wajahnya benar-benar melas, siapapun yang menatapnya tidak akan sanggup melihat lebih lama.


Ardian masih diam, pikirannya bercampur aduk menjadi satu, bingung harus memulai darimana.


“Aku akan menemukannya denganmu tapi, setelah kondisimu benar-benar sudah stabil” Ucap Ardian akhirnya.


Tidak mungkin mengatakan hal itu pada Riana sekarang, kesehatannya tidak baik-baik saja, bagaimana jika nanti wanita itu malah nekat melakukan pantangan dokter? Itu hanya akan semakin memperburuk keadaannya.


“Tidak mau, aku mau tau keadaaannya sekarang” Ucap Riana, sedikit menaikkan nada bicaranya, bahkan berniat mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


“Jangan bergerak jika kau mau cepat sembuh, semakin kau memberontak, tubuhmu akan semakin lama pulih dan itu akan memperlambat waktu bertemumu dengannya” Ucap Ardian, kembali menidurkan Riana.


Mendengar penuturan Ardian yang begitu mengerikan menurutnya, Riana akhirnya menurut memilih makan dan beristirahat.


Setelah Riana kembali tidur karena efek obat yang di berikan, Rifa dan Ardian langsung keluar ruangan.


“Kita makamkan saja secepatnya, jika menunggu Riana setidaknya sedikit pulih kemungkinan akan beberapa hari lagi, ma. Kasian dedek bayinya” Ucap Ardian, memberikan saran kepada Rifa.


Jujur saja Rifa tidak mau sebenarnya, dia adalah seorang ibu, pasti ingin sekali melihat anaknya lebih dulu.


“Besok pagi saja” Ucap Rifa.


Ardian pun mengangguk, menyetujui ucapan Rifa.


Selagi Rifa masuk kembali ke ruangan Riana, Ardian masih berada di depan ruangan menghubungi kakak iparnya. Dia tentu ingin tau perihal hasil lab minumam Riana tadi.


“Apa sudah keluar hasilnya?” Tanya Ardian setelah mendapat jawaban dari seberang sana.


“Bagaimana hasilnya?” Tanya Ardian lagi.


Ardian terdiam sejenak, entah apa yang dia dengar dari kakak iparnya hingga membuat Ardian begitu menunjukkan tatapan amarahnya, tangannya juga mengepal sempurna.


“Sial*n” Umpat Ardian.

__ADS_1


“Kak, bisa ke rumah sakit sekarang? Jemput kakak dan juga bawa mama pulang, kasian mereka disini sejak tadi” Ucap Ardian masih memikirkan kakaknya, ponakannya juga sang mama yang sepertinya sudah cukup lelah.


“Baiklah, aku tunggu” Ucap Ardian lalu memutuskan sambungan panggilan mereka.


Ardian tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Lelaki itu memilih masuk ke ruangan Riana.


“Mama dan kakak malam ini pulang dengan kakak ipar, dia sedang perjalanan menuju kesini” Ucap Ardian.


“Papamu?” Tanya mama Ardian.


“Aku ada urusan penting dengan papa perihal hasil lab jadi, mama hari ini tidur sendiri dulu ya” Ucap Ardian sekaligus menggoda mamanya.


Sedikit hiburan di tengah pusingnya diri.


Wajah mama Ardian langsung berubah malu mendengar penuturan putranya.


“Kau ini apa-apaan, meskipun papamu tidak pulang beberapa hari juga tidak masalah. Siapa yang mau dengan si tua seperti papamu” Ucap mama Ardian, mencoba mengelak ucapan Ardian.


Ardian tersenyum, “Jangan salah, anak sekarang lebih suka om-om kaya raya daripada yang sebaya” Godanya.


Hal itu sukses membuat mama Ardian tersenyum kecut, tidak mau membalas ucapan anaknya yang di pikir-pikir ada benarnya juga.


“Ck, jangan menggoda mama seperti itu, kau mungkin akan kesusahan nanti jika ternyata mama ingin selalu ikut denganmu dan papa ketika bepergian” Ucap kakak Ardian.

__ADS_1


Ardian hanya tersenyum jahil melihat raut wajah mamanya.


Melihat kehangatan itu, Rifa tau kenapa Ardian tidak terburu-buru untuk menikah dan kenapa Riana dulu begitu betah main ke rumah Ardian.


__ADS_2