
Sepulang bekerja hari ini, Riana mampir ke rumah mertuanya sendirian, tanpa Nathan. Sore itu dia memarkirkan mobilnya halaman rumah, sambil menenteng tasnya, masuk ke dalam rumah yang masih tahap renovasi.
“Ibu, ayah” Panggil Riana.
Dengan terburu-buru, ibu mertua terlihat keluar dari dalam rumah, sepertinya dari dapur? Terbukti dari tangannya yang masih berbalur tepung.
Ibu mertua Riana benar-benar menjalankan bisnisnya, membuka kedai bakso dan menjual gorengan serta menjajakan beberapa keripik kemasan ke toko-toko, menurut Riana itu sudah cukup bagus, meskipun masih belum banyak peminatnya tapi, semua butuh proses kan?
“Ada apa?” Raut wajah ibu mertua langsung berubah saat tau bahwa yang ada di depan pintu adalah Riana. Entah atas dasar apa wanita paruh baya itu seperti begitu tidak suka dengan menantunya.
“Apa aku tidak di suruh masuk dulu? Aku mau membicarakan hal yang penting” Ucap Riana.
Ibu mertua langsung memberikan ruang agar Riana masuk dan duduk di karpet yang sudah di sediakan di ruang tamu. Ruangan itu masih belum di renovasi, lantainya hanya semen yang di ratakan, temboknya masih berupa batu bata.
Tanpa memberi minum atau apa, ibu mertua langsung to the point, “Mau ngomong apa?” Tanyanya.
“Berapa sisa hutang ibu?” Tanya Riana.
“Kau selalu bertanya tentang hutang, memangnya kau mau apa?” Ketus ibu mertuanya.
“Ibu, aku hanya bertanya, barangkali aku bisa membantu. Jika ibu tidak mau memberi tau lalu, bagaimana aku membantu?” Sahut Riana, masih dengan nada lembutnya.
“Kalau di total-total ada sekita 150 juta dengan yang kecil-kecil”
__ADS_1
Riana terdiam sesaat, “Sisa 20 juta hasil penjualan rumah kemarin tidak masuk sama sekali ke pembayaran hutang ya” Ucapnya.
Ibu mertuanya tidak menjawab, acuh dengan pertanyaan Riana. Itu membuat Riana memijat keningnya pelan, pusing dengan konsep yang di buat mertuanya.
“Siap-siap bu, aku akan mengurus hutang-hutang ibu di bank dan di saudara ibu meskipun tidak semuanya” Ucap Lanjut Riana setelah terjadi keheningan beberapa waktu di sana.
Tanpa menjawab, ibu mertua langsung pergi beranjak. Tidak lama, terdengar suara kemericik air dari kamar mandi, ibu mertuanya benar- benar bersiap.
Sambil menunggu, Riana mengabari Nathan bahwa dirinya akan pulang telat hari itu.
^^^Nathan, aku pulang telat hari ini^^^
^^^Mau kubawakan makanan?^^^
Kira-kira begitu pesan yang ditulis Riana untuk suaminya. 15 menit menunggu, tidak ada jawaban akhirnya Riana memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas sambil menunggu ibu mertua bersiap.
“Loh, Riana” Ayah mertuanya terkejut melihat menantunya ada di ruang tamu dengan hidangan kering kerontang tanpa apa-apa.
“Mau dibuatkan minum? Kau ini kenapa seperti tamu disini? Anggap saja rumah sendiri” Sahut ayah mertua.
“Tidak ayah, Riana hanya sebentar untuk menjemput ibu” Jawab Riana, sopan.
“Mau kemana?” Tanya ayah mertua.
__ADS_1
“Mau mengurus tanggungan-tanggungan di bank sama yang di saudara, yah” Ucap Riana.
Ayah mertuanya mengangguk mengerti, “Mau nyicil ya? Maaf ya Rin, kamu jadi harus repot mengurus tanggungan kami yang bahkan kamu sendiri tidak tau dan tidak ikut merasakan” Ucapnya.
Ayah mertua Riana begitu baik hati, kenapa ibu mertuanya se-judes itu ya? Kira-kira hanya itu yang ada di pikiran Riana di balik senyumnya yang mengembang sekarang.
“Ya sudah seharusnya memang dia membantu, hutang itu kan juga dia yang menggunakan” Sahut ibu mertua dari dalam, sudah siap dengan gaya nyentrik-nya yang khas orang kaya.
“Sudah? Ayo berangkat, bu. Ayah, permisi” Ucap Riana mengajak ibu mertua sekaligus berpamitan kepada ayah mertuanya.
...***...
“Jadi total seluruh hutangnya adalah seratus dua puluh tiga juta sekaligus dengan bunganya” Ucap mbak-mbak bank saat itu.
Glup
Riana meneguk salivanya keras, itu masih hutang bank. Tapi, dengan tekad agar semuanya segera selesai, Riana sudah memikirkannya baik-baik.
Menggunakan tabungan masa mendatangnya untuk membayar hutang keluarga suaminya. Selain dari agar pikirannya merasa lega, Riana juga berharap bahwa itu akan cukup untuk mengambil hati keluarga Nathan.
Bukankah ibu mertuanya sinis dengan Riana karena dulu Riana selalu bertindak tidak sesuai dengan kemauan wanita paruh baya itu?
Riana mengeluarkan dua buah amplop coklat yang cukup tebal kepada mbak-mbak di depannya.
__ADS_1
“Itu jumlahnya seratus tiga puluh juta mbak, tolong di hitung dan kembalikan sisanya” Ucap Riana tenang, sedangkan ibu mertua langsung terlihat bersinar matanya, melihat uang sekian banyak untuk membayar lunas hutang-hutangnya membuat wanita paruh baya itu tersenyum senang.