
“Tenang ya Rin, kita ke rumah sakit sekarang” Ucap Ardian, mengelus tangan Riana pelan sambil menyetir.
Lelaki itu sebenarnya sangat panik apalagi ini adalah kali pertamanya menemunkan kasus begini, kakaknya dulu lahiran operasi caesar jadi, sebelum sembilan bulan sepuluh hari sudah berada di rumah sakit untuk persalinan tapi, ini?
Ardian mengusap wajahnya kasar, berkali-kali memencet bel mobilnya untuk membuat kendaraan-kendaraan di depannya menyingkir.
Ardian mengeluarkan keringatnya deras, mendengar erangan kesakitan dari Riana jelas membuatnya kalang kabut.
“Sebentar lagi kita sampai, tenangkan dirimu okey” Ucap Ardian.
Dengan cepat dia memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu UGD. Dengan sigap Ardian keluar dan menggendong Riana yang seperti sudah sesak napas.
Para perawat yang melihat hal itu langsung berlari mengambilkan ranjang untuk Riana, dengan cepat wanita itu di bawa ke ruang UGD dan langsung di periksa dokter sementara Ardian harus mengurus beberapa keperluan administrasi.
“Aku mau pelayanan yang sangat baik untuknya, tidak peduli berapa harganya” Ucap Ardian cepat, lelaki itu sudah hampir kehilangan akal, ingin masuk juga ke ruang ICU, dimana Riana memang sudah di pindahkan beberapa saat yang lalu.
Jelas sudah separah itu kondisi Riana.
Ardian mengusap wajahnya kasar, berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan Riana sembari menelfon keluarganya untuk menjemput Rifa datang ke rumah sakit.
Tidak lama, dokter membuka pintu ruangannya, “Ada apa dok?” Tanya Ardian.
“Dengan keluarga pasien? Apakah anda suaminya?” Tanya sang dokter.
Ardian menganggukkan kepalanya mantap, apapun demi Riana bukan.
“Kami harus segera melakukan tindakan operasi. Karena sudah sedikit lebih lama, kemungkinan kami hanya bisa menyelematkan salah satu. Ibunya atau anaknya”
__ADS_1
Ardian merasa sangat lemas, matanya sudah berair ingin mengeluarkan air mata.
“Apa tidak bisa keduanya di selamatkan?” Tanya Ardian.
“Kemungkinannya hanya 10%. Kami tidak punya banyak waktu, tolong segera putuskan jawaban anda” Ucap sang dokter.
Ardian mengusap wajahnya kasar, bingung harus bagaimana.
“Se-Se-Selamatkan,…” Ardian terdiam sejenak, air matanya jatuh, lelaki itu menelan salivanya keras.
“Selamatkan ibunya” Lanjutnya dalam satu tarikan napas. Hal itu sukses membuat Ardian lagi-lagi terus meneteskan air matanya, rasanya begitu sesak mengingat dirinya sudah menemani Riana di trisemester ketiganya, menjaga bayi itu dengan baik tapi, apakah harus berakhir begini?
Tinggal menunggu setidaknya dua minggu untuk Riana bisa melakukan persalinan secara normal tapi, apa takdir Tuhan begitu seburuk ini?
“Ardian, apa yang terjadi?” Tanya Rifa tergesa-gesa.
Kalimat itu terus di ucapkan Ardian dengan segala rasa penyesalannya.
“Hei, kenapa? Bangunlah, jangan seperti ini. Jelaskan apa yang terjadi?”
Rifa memegang bahu Ardian, mengangkat lelaki itu perlahan agar berdiri, mana sanggup dia melihat seseorang yang begitu penuh kasih sayang kepada Riana malah berlutut di hadapannya atas apa yang tidak ia ketahui alasannya?
Ardian di bawa duduk di kursi tunggu, di kelilingi oleh keluarganya pula. Setelah di beri minum, lelaki itu memang masih menggenangkan air matanya, meskipun sudah tidak sederas tadi setidaknya sudah lebih tenang daripada sebelumnya.
“Ar, cerita! Jangan membuat kami khawatir” Ucap kakak iparnya.
Ardian masih hanya diam, entah apa yang sedang berkecamuk di pikirannya.
__ADS_1
“Ardian jawab!” Lanjut kakak iparnya.
Dengan tidak telaten, kakak Ardian sendiri yang turun tangan, wanita itu menghampiri Ardian lalu,
PLAK
“Aku tau kau sedang sedih tapi, kami jelas tidak bisa mengerti apa yang ada di kepalamu. Jika kau mau mengurusnya sendiri maka, seharusnya kau tidak memanggil kami kemari, apa menurutmu kami disini hanya mau melihatmu menangis? Sungguh, tangisanmu itu tidak ada artinya untuk kami, kondisi Riana lebih penting. Katakan, ada apa? Riana kenapa?” Cerocos kakak Ardian.
Setelah mendapat tamaparan maut dari kakaknya, Ardian mulai tersadar, apa yang dikatakan kakaknya memang benar.
“Di rumah Nathan, the yang diberikan disana membuat Riana berada di dalam sana”
Lagi-lagi Ardian menitikan air matanya, entah apa yang membuatnya begitu cengeng.
“Dokter memintaku memilih menyelamatkan salah satu dari mereka”
Deg
Semua yang berada disana langsung terdiam, setidaknya mereka sedikit mengerti dengan apa yang dikatakan Ardian meskipun seperti itu penjelasannya.
“Lalu, kau memutuskannya sendiri? Siapa yang kau selamatkan?” Tanya kakaknya lagi.
Ardian mengangguk, setuju bahwa dia memutuskan sendiri bahkan menandatangani surat perjanjian itu dengan tangannya sendiri, meskipun sebenarnya dia juga tau bahwa tingkat keberhasilannya tidak mencapai 80%. Tapi, apa dia punya pilihan lain?
“Aku memilih Riana. Maafkan aku, aku gagal menjaganya dengan baik” Gumam Ardian, menutup wajahnya lalu kembali menangis.
“Daripada kau menangis, pergilah ke mushollah, sudah waktunya ibadah sore-mu” Ucap kakak Ardian.
__ADS_1