
Nathan terdiam sebentar, “Gugurkan kandunganmu” Ucapnya.
Singkat tapi, benar-benar membuat Riana naik pitam.
Plak
“Sudah selingkuh, masih ingin membuang anakmu sendiri? Jika kau tidak suka dengan kehamilanku, pergi saja dari rumah ini. Aku bisa mengurusnya sendiri” Kemarahan Riana sudah di ubun-ubun. Tidak bisa lagi menahan apa yang sudah ia pendam selama ini.
“Hei, bukan karena aku tidak suka dengan keberadaannya. Lihat, kondisi kita seperti ini. Kau yang selalu tidak percaya denganku dan selalu berpikir sependek itu untuk bercerai. Pernikahan kita bahkan belum satu tahun menjalani ini. Ayo sama-sama bersikap dewasa, emosimu hanya sedang tidak stabil” Ucap Nathan, mekipun amarahnya sempat memuncak tapi, lelaki itu berhasil meredam diri sendiri.
“Cih, sayang sekali aku tidak mau mengungkap bukti-buktinya sekarang” Ucap Riana.
Wanita itu pergi ke kamarnya, memasukkan barang-barang pentingnya ke dalam koper. Di susul oleh Nathan, lelaki itu melihat istrinya yang sibuk mengemasi barang-barangnya.
“Kau mau kemana?” Tanya Nathan, lelaki itu bahkan masih berdiri di depan pintu kamarnya.
“Aku yang akan pergi” Ucap Riana.
Dia sendiri yang tadinya katanya mau mempertahankan rumah tangganya tapi, kenyataan malah membuatnya harus berpikir ulang.
“Mau pergi ke rumah mamamu? Apa dia akan menerimamu lagi?” Tanya Nathan, menunjukkan seringaiannya.
__ADS_1
Cih, Riana hanya melirik Nathan sekilas lalu menarik kopernya. “Minggir” Pinta Riana. Ingat, Nathan menghalangi jalannya.
“Tidak mau” Ucap Nathan.
“Aku tidak mau memiliki urusan denganmu” Sahut Riana.
“Tapi, kau akan selalu berurusan denganku” Jawab Nathan, lelaki itu malah semakin menghalangi jalan istrinya.
Riana tentu geram dengan Nathan, wanita itu memilih jalan nekat dengan menendang aset berharga milik lelaki itu.
“ARGH”
Wanita itu menangis di perjalanan, memikirkan nasibnya nanti. Melahirkan tanpa sosok suami? Menjadi janda di usianya yang masih terbilang muda?
Banyak ketakutan yang hinggap di kepalanya, beruntung dia sampai di tujuan dengan selamat.
Riana membawa sebuah kunci rumah, membukanya perlahan dan disambut dengan ruang tamu yang sudah berdebu.
“Hello, aku kembali” Gumam Riana.
Wanita itu memasukinya, berjalan di antara banyaknya foto yang berjajar rapi di sana. Riana mengelusnya perlahan.
__ADS_1
Hari masih pagi, melihat sekitarnya sedikit kotor meskipun sudah rapi, Riana memilih mengusir rasa sakit hatinya dengan bersih-bersih.
Satu per satu fotonya bersama dengan Ardian dibersihkan dengan kemucing, sesekali tersenyum melihat kebersamaan mereka.
Ya, rumah ini adalah rumah yang dibeli dengan Ardian beberapa waktu lalu. Menabung berdua dan membeli rumah itu dengan embel-embel akan digunakan berdua ketika sudah menikah nanti.
Nyatanya, Riana kembali ke rumah itu dengan statusnya sebagai istri orang dan membawa segala luka memasukinya.
Apakah aku salah? Apakah aku harus menyesalinya? Batin Riana.
Disana belum ada lemari es jadi, Riana memilih mandi dulu setelah mengabari Lea bahwa mungkin untuk beberapa hari dia tidak akan pergi ke toko. Beralasan tidak enak badan, Lea percaya saja dengan apa yang dikatakan atasannya.
“Tidak ada apapun yang bisa di masak sebagai makan siang” Gumam Riana.
Belum ada kulkas dan tidak mungkin menyetok bahan makanan karena rumah itu tidak pernah di tempati. Apalagi Riana dan Ardian sudah putus sejak beberapa bulan yang lalu, hal itu malah membuat rumah itu semakin tidak pernah di kunjungi.
Meskipun sebenarnya dari debu yang menempel saja sudah terlihat bahwa rumah tersebut seperti tidak selama itu di tinggalkan.
Riana akhirnya memesan makanan secara online.
Diterpa masalah yang kian rumit, bersama dengan suasana hati yang bercampur aduk, itu semua butuh tenaga juga kan? Riana berpikir bahwa dirinya tidak lagi memikirkan diri sendiri, ada satu nyawa lagi yang harus ia jaga dan itu masih ada di dalam dirinya.
__ADS_1