
“Jika kau menceraikan dia, aku akan bertanggung jawab atas anak itu”
Deg
Rifa dan Riana saling tatap, terkejut dengan ucapan Ardian.
“Ar” Gumam Riana pelan, tidak percaya saja dengan apa yang mantan kekasihnya ucapkan. Mana mungkin itu adalag sebuah keseriusan kan?
Ardian mendekati Riana, mengelus pipi wanita itu pelan dan penuh kelembutan.
“Riana, aku tidak akan meninggalkan orang yang aku cintai di dalam kesengsaraan”
Riana terenyuh, jelas ucapan Ardian adalah sebuah kalimat ajaib untuknya. Dia adalah seseorang yang dulu menyakiti Ardian tapi, lihat sekarang? Siapa yang lebih peduli?
“Ma”
Riana menatap sang ibunda, memelas agar wanita paruh baya itu membantunya mencari jawaban.
“Terserah padamu. Riana, ini kehidupanmu yang panjang. Kau harus memikirkannya dengan baik karena kau sendiri yang menjalani nantinya, bukan mama. Saran mama ya ceraikan saja, lelaki tidak bertanggung jawab pun tidak bisa dipertahankan” Sahut Rifa.
__ADS_1
Riana memijat pelan pelipisnya.
“Tidak perlu terburu-buru, kau hanya perlu memikirkannya dengan matang dan jangan sampai menyesal” Sahut Rifa melihat kebingungan putrinya.
Hening, mereka terdiam untuk beberapa waktu. Lebih tepatnya Rifa dan Ardian sedang menunggu Riana menemukan jawaban terbaiknya.
“A-Aku akan bercerai tapi, izinkan aku untuk memberi jeda dari semua rasa sakit ini” Ucap Riana, meskipun terkesan ragu tapi, Rifa dan Ardian akhirnya bernapas lega.
“Aku tidak menyuruhmu terburu-buru, lukamu pasti masih ada, aku akan selalu bersamamu” Ucap Ardian.
Saat itu juga, Ardian langsung memerintahkan anak buahnya mengumpulkan bukti ke-brengs*kan Nathan sebagai bahan untuk diserahkan kepada kementrian agama nantinya.
Tidak mau Riana terlibat ikatan itu lebih lama, rupanya lelaki itu sengaja melakukannya agar mempercepat kebebasan Riana.
“Sepertinya kau begitu bersemangat” Sahut Rifa menggoda Ardian.
Ardian mengacak sedikit rambut belakangnya. Bingung harus memberikan penjelasan apa. Nyatanya dia memang senang saat Riana memilih bercerai.
“A-Ardian akan mengurus rumah dulu” Ucap Ardian.
__ADS_1
Jam memang menunjukkan waktu bersih-bersih rumah, “Hei, biar aku saja” Sahut Riana.
Ardian langsung dengan sigap membuat Riana kembali duduk di sofa ruang keluarga.
“Aku tidak mengijinkanmu melakukan aktivitas berat sedikitpun. Bersantailah dengan mama, aku yang akan mengurus semuanya” Ucap Ardian lalu segera berlalu mengambil sapu.
“Dia seperti suami siaga saja” Ucap Rifa, melihat ounggung Ardian senang. Wanita paruh baya itu memang lebih damang ketika tau putrinya dijaga dengan baik oleh Ardian. Lupakan tentang seberapa lama Riana dan Ardian bersama tapi, sikap lelaki itu sudah begitu menunjukkan tanggung jawabnya sejak awal.
“Dia memang seperti itu” Gumam Riana yang memang sudah hafal dengan sikap mantan kekasihnya itu.
“Riana, jangan menggantungnya terlalu lama setelah bercerai nanti. Jangan membuatnya kecewa untuk kedua kalinya. Mungkin dia akan sabar menunggu tapi, kita tidak pernah tau isi hatinya bagaimana”
Rifa menasehati sang putri, tidak mau jika Riana harus menggantung perasaan lelaki sebaik Ardian.
“Aku akan menata hati dulu, ma” Ucap Riana.
Rifa mengusap punggung putrinya, “Mama mengerti perasaanmu tapi, percayalah Ardian adalah lelaki yang baik. Kau sudah melihatnya sendiri bukan?”
Ardian menyapu rumah tersebut dengan telaten. Tanpa berniat menguping percakapan ibu dan anak itu tapi, dirinya kadang juga mendengar penuturan keduanya. Bahkan dia mendengar dengan jelas bagaimana Rifa mengingatkan putrinya.
__ADS_1
Aku berjanji, tidak akan pernah mengecewakan Riana dan kepercayaan mama Rifa. Kira-kira seperti itu suara hatinya berbicara.