Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Kehangatan Keluarga Ardian


__ADS_3

“Assalamu’alaikum” Ucap Ardian saat sudah sampai di rumahnya, membuka pintu sembari menyapa penghuni rumah.


Jujur saja, Riana dibuat begitu tercengang dengan sapaan yang dilontarkan Ardian. Dia tau jelas sapaan itu, biasa digunakan oleh orang-orang muslim di luaran sana, meskipun tidak menutup kemungkinan dan tidak ada larangan untuk ‘mereka’ yang non-islam mengucapkan hal itu pula.


Tapi, jujur saja itu sedikit aneh menurut Riana. Kecuali, jika memang di dalam sana memang sudah ada seorang muslim, wajar jika Ardian mengucapkan hal itu untuk menghargai seseorang tersebut.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” Sahut sang mama dari dalam, menemui mereka dengan tangan terbuka. Menyambut putra dan seorang wanita yang sudah di anggap sebagai putrinya.


“Riana, sudah lama kamu tidak kesini. Tidak kangen masakan mama hm?” Tanya mama Ardian sembari memeluk Riana.


“Mama tau sendiri bukan?” Ucap Riana, sedikit kaku juga setelah terakhir kali mereka bertemu di rumah sakit saat ayah Nathan di rawat inap.


“Ayo masuk, mama sudah masak makanan kesukaan kamu” Ujar mama Ardian. Begitu lembut dan sumringah. Seolah memang tidak meunjukkan sesuatu seperti dendam atau benci.


“Repot-repot saja ma” Balas Riana, merasa tidak enak dengan mantan calon mertuanya itu.

__ADS_1


“Mama malah seneng. Ayo makan dulu, nanti mama mau bicara setelah makan” Ucap mama Ardian.


Tepat pukul enam sore, mereka selesai dengan acara makan sore menjelang malam.


“Ma, aku mau bersih-bersih dulu. Riana juga bisa dong di pinjami baju, kak?” Ardian berucap, pamit kepada mamanya lalu beralih ke kakaknya.


Sang kakak melihat Ardian sekilas lalu menatap Riana, “Boleh, ayo Rin ke kamarku, kau bisa pilih baju yang kau mau” Ajaknya.


Riana benar-benar terharu, hampir saja dia mengeluarkan air matanya. Keluarga Ardian sama sekali tidak berubah, bahkan Riana merasa mereka semakin hangat.


“Hei, nanti malam akan semakin dingin. Enak bersih-bersih disini, nanti pulang tinggal istirahat” Ucap sang kakak.


Riana dengan segudang rasa sungkannya akhirnya menurut. Alih-alih pergi mengikuti kakak Ardian, Riana malah diam di depan pintu menunggu sang kakak mengambilkannya baju, bukan apa-apa tapi, kamar adalah ruangan pribadi yang ada batasannya.


Mungkin dari segi kesopanan itu juga yang membuat keluarga Ardian sangat menyetujui hubungan Riana dengan putra bungsu keluarga itu.

__ADS_1


“Mau aku siapkan air hangat?” Tanya kakak Ardian setelah memberikan dress panjangnya sewaktu hamil dulu.


“Tidak mbak, terimakasih” Jawab Riana.


Tapi, dari arah belakang sana sang mama datang sambil berkata, “Mama sudah menyiapkan air hangatnya, mandilah”


Saat itu juga Riana merasa bahwa batinnya berperang ganas. Bingung, sebenarnya hati semua orang disana terbuat dari apa? Tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan kekecewaan dengan sikap Riana selama beberapa bulan terakhir. Meninggalkan Ardian begitu saja setelah hubungan yang terjalin cukup lama bukanlah sebuah hal yang sepele tapi, mereka memperlakukan Riana seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.


“Terimakasih” Gumam Riana.


Dia tidak menyangka akan mendapatkan kebahagiaan berkali-kali lipat setelah memutuskan menyudahi hubungan tidak sehatnya dengan Jeremy Nathan, suami yang berproses menjadi mantan suami.


“Jangan sungkan-sungkan nak Riana, kami masih sama seperti dulu, tidak pernah berubah. Anggap saja keluarga sendiri, toh nanti kamu juga menjadi bagian dari kami” Sahut papa Ardian, lelaki paruh baya itu tidak banyak omong tapi, sekalinya berucap membuat hati Riana jedag-jedug, ketar-ketir tidak karuan.


Mendengar respon bagus dari papa Ardian yang terkesan dingin, membuatnya yakin bahwa kehidupannya akan terjamin setelah ini, begitu juga dengan anaknya nanti.

__ADS_1


Riana tersenyum, tidak henti-hentinya mengucap rasa terimakasih kepada Tuhannya.


__ADS_2