
Riana berjalan-jalan di supermarket, karena sudah belanja beberapa hari yang lalu, dia hanya membeli ikan mujair titipan kakak sepupu iparnya lalu pulang.
Bagaimana tidak terkejut, ternyata di rumah sudah ramai dengan teman-teman Nathan, ada Megan juga yang menunggu pesanannya.
“Sayang, tidak melihat ponsel?” Tanya Nathan.
“Tidak, memangnya kenapa?” Sahut Riana.
“Ah, kenapa tidak dilihat? Aku tadi pesan camilan sama beberapa minuman bersoda untuk teman mabar, mereka mau menginap disini. Kalau begitu masakkan saja”
Ha?
Riana tentu terdiam kaku, kelakuan dajjal macam apa lagi yang dikeluarkan suaminya kali ini? Sudah tau keadaan sedang susah begini, bisa-bisanya masih memikirkan kesenangan? Bukannya memikirkan dimana harus bekerja atau misalnya jalan keluar melunasi hutang keluarga?
“Mbak, ini ikannya, aku masuk dulu” Ucap Riana, mengalihkan perhatian menuju Megan yang saat itu sedang berbincang dengan ibu mertuanya.
Bukan mengharapkan tapi, niat mengganti 5kg mujair saja sepertinya tidak ada. “Apa aku sedang dimanfaatkan jadi babu berduit sekarang?” Gumam Riana sembari membersihkan riasannya.
Belum selesai bersih-bersih, Nathan sudah masuk ke kamar, “Sayang, buatkan mereka makanan ya, aku sudah bilang kau akan memasak untuk mereka sebentar lagi” Ucapnya mengecup puncak kepala Riana lalu kembali ke ruang tamu.
__ADS_1
Jengkel
Lelah
Itu yang Riana rasakan. Tak kuasa menolak, apalagi membuat Nathan malu di depan teman-temannya, Riana pergi ke dapur dan membuatkan beberapa makanan ringan dan berat sekaligus minuman dingin untuk mereka.
Nugget, tahu petis, jamur enoki goreng, sudah cukup menjadi snack. Selanjutnya, Riana hanya membuat nasi goreng untuk makanan beratnya dan yang terakhir es teh sebagai minuman dinginnya.
Tepat saat makanan selesai di tata, Nathan datang ke dapur, “Apa ini sudah selesai?” Tanyanya.
Riana mengangguk dan Nathan langsung membawa semua makanan itu ke depan.
“Baiklah, pasti ada sisanya” Gumam Riana, mengingat dirinya memasak dengan porsi banyak, optimis jika nasi gorengnya pasti akan ada sisa saat di bawa masuk nanti. Dia duduk di ruang keluarga sendirian, niat hati ingin bersantai.
Sayup-sayup Riana mendengar percakapan teman-teman Nathan dari teras rumah.
“Masakannya enak di pandang tapi, kenapa yang masak tidak begitu enak di pandang ya?”
“Tidak sayang putus dengan Arianti?”
__ADS_1
“Istrinya di suruh perawatan minimal, gak ada seger-segernya gitu keliatannya”
“Speknya Nathan merosot jatuh terlalu dalam”
Terdengar sangat menyakitkan untuk Riana memang, daripada mendengar seluruh hinaan tentang fisiknya dari mereka, wanita itu memilih masuk ke kamar.
“Jika aku cantik, seleraku mungkin sudah bukan Nathan” Ucap Riana.
Dia melihat beberapa skincare di meja riasnya, itu adalah milik Riana sebenarnya, karena tidak cocok, dia menyuruh Nathan menggunakan itu.
Ajaibnya, Nathan sepertinya cocok dengan segala skincare, kulitnya memang tipe yang normal, tidak seperti Riana yang sensitif.
Sejak hari reuni waktu itu, Riana sudah mencari beberapa produk untuk kulitnya, alih-alih semakin cantik, dirinya malah terlibat berbagai macam masalah kulit.
Mulai dari jerawat batu, beruntusan, kulit terbakar, kulit gatal-gatal, terlihat lebih kusam yang berakhir beberapa bekas jerawat berhasil singgah di wajah polos Riana.
Ya, Riana memang tidak pernah menggunakan skincare sebelumnya, mengingat dulu saat bersama Ardian, lelaki itu tidak begitu mempermasalahkan perihal fisik, toh saat itu Riana tidak memiliki permasalahan pada kulit wajahnya, menggunakan sabun cuci muka dan pelembab saja menurut Ardian juga sudah cukup.
“Sekarang, fokusku adalah masalah ekonomi di keluarga ini, nanti jika sudah selesai, aku pasti akan merawat tubuh sampai mereka bungkam dan Nathan tidak lagi malu membawaku ke tempat umum” Gumamnya.
__ADS_1