Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Packing


__ADS_3

Keesokan harinya, sedikit lebih siang Ardian baru datang ke rumah Riana, membawa baju-baju, selimut, seprei dan lain-lain yang sudah selesai di laundry.


“Assalamu’alaikum” Ucap Ardian memasuki rumah itu.


“Wa’alaikumsalam” Jawab Riana sembari membuka pintu.


Itu adalah hal yang wajar dan lumrah bukan? Riana terlihat sudah segar, sudah mandi dan mungkin juga sudah sarapan?


“Ini baju-bajunya” Ucap Ardian menaruh bawaannya di ruang tamu.


“Dibawa ke ruang ke kamarnya langsung saja, Ar” Ucap Riana.


Ardian mengangguk, membawanya langsung ke kamar Riana, dimana memang nantinya dedek bayi akan di tempatkan satu ruangan dengan Riana sampai di usia tertentu.


“Apa mereka sudah datang?” Tanya Ardian, bertanya perihal almari yang sudah ia pesan sebelumnya.


“Sudah, pagi-pagi sekali tadi mereka datang” Jawab Riana.


Ardian mengangguk.


“Kau sudah sarapan?” Tanya Riana.

__ADS_1


“Sudah, kau sendiri? Sudah minum susu?” Tanya balik Ardian.


Lelaki itu sudah mulai menata barang-barang yang sudah mereka beli kemarin.


“Sudah” Jawab Riana.


“Bagus” Sahut Ardian masih fokus dengan pekerjaannya, Riana juga mulai menata pakaian-pakaian ke dalam lemari.


Tidak lama, Rifa masuk memberikan satu tas besar yang masih kosong, “Sekalian di packing yang mau di bawa ke rumah sakit, agar tidak tergesa-gesa jika sewaktu-waktu tidak sesuai prediksi” Ucapnya.


“Apa saja ma yang perlu dibawa? Sekalian di bantu lah ma” Sahut Riana.


Keluarga yang terlihat begitu kompak.


Setelah semuanya sudah selesai tepat di jam makan siang, Riana segera order makanan untuk mereka, setengah hari di lalui dengan sedikit berat.


Ardian segera membersihkan diri untuk melaksanakan ibadah katanya, selanjutnya Riana juga membersihkan diri, merasa sangat gerah setelah seharian bekerja di rumah.


Riana memang sudah tidak diizinkan pergi ke toko setelah kejadian di datangi Arianti kapan hari, Ardian tentu tidak mau hal itu terulang lagi, mengingat Ardian juga tidak bisa selalu ada di samping Riana 24 jam.


Setelah selesai dengan acara bersih diri, ternyata pesanannya sudah datang dan Riana berniat memanggil Ardian di ruangan yang di gunakan untuk beribadah.

__ADS_1


“Ar?” Panggil Riana pelan, takut jika ternyata Ardian belum selesai.


Tidak ada sahutan.


Baiklah, mungkin Ardian memang belum selesai tapi, sebelum kembali ke tempatnya, Riana melihat pintu itu tidak tertutup sempurna. Wanita itu sedikit mengintip dari celah pintu.


Sayup-sayup dia mendengar entah itu benar atau tidak tapi, Ardian seperti berdoa, “Ya Tuhan berikanlah keluargaku kesehatan. Berikanlah hatiku kemantapan, jika dia baik untukku, untuk keluargaku, untuk agamaku maka satukanlah kami dalam ikatan suci yang engkau ridhoi, berikan aku kekuatan menuntun dia ke jalanmu tapi, jika dia tidak baik untukku maka, biarkan rasa ini memudar menjadikannya sebagai saudara atas umat-umatmu”


Kira-kira begitu yang di dengar Riana. Wanita itu hanya mampu menelan salivanya mendengar doa yang begitu tulus dirasa.


Melihat Ardian sudah siap-siap beranjak, Riana segera kembali ke ruang keluarga, seolah dia tidak pernah mendengar apapun.


“Mana Ardian?” Tanya Rifa saat putrinya kembali sendirian.


“Dia masih belum selesai” Sahut Riana lalu duduk di samping mamanya.


Rifa tidak begitu memperhatikan gelagat Riana yang sedikit gugup jadi, dia acuh saja. Hingga tidak lama, Ardian datang. Hal itu sukses membuat jantung Riana berdegup begitu kencang entah oleh doa yang di panjatkan Ardian tadi atau oleh melihat aura Ardian sendiri.


“Ayo makan dulu, Ar” Sahut Rifa, mengajak Ardian dan Riana makan.


Wanita paruh baya itu sudah menyiapkan pesanan Riana tadi dia atas meja makan. Mereka akhirnya makan bersama, dengan jantung Riana yang tidak kunjung mereda.

__ADS_1


__ADS_2