Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Nasehat


__ADS_3

Pemakaman hari itu berjalan sangat khidmat, banyak yang menghadiri pemakaman putra Riana karena memang rata-rata penduduk di tanah kelahirannya adalah seorang muslim. Reinan dibawa tanpa keranda, bayi itu hanya di gendong oleh Ardian hingga sampai di pemakaman.


Hari benar-benar masih pagi untuk memulai segala drama ini tapi, dunia memang keras.


Riana menangis sesenggukan di dalam kamar rawat inap, hatinya teriris, sempat ingin menyambut kebahagiaan tapi, lihat sekarang? Kebahagiaannya langsung hancur tidak tersisa.


“Tenanglah, Rin. Apapun yang terjadi itu sudah menjadi garis Tuhan untuk kita” Ucap kakak Ardian. Wanita itu terus menemani Riana sejak tadi. Selagi Ardian, suaminya, orang tuanya dan juga Rifa pergi ke pemakaman.


“Kau bisa menganggap dia sebagai anakmu juga, dia mungkin bisa menjadi obat dari segala rasa sakitmu hari ini” Lanjut kakak Riana, lalu menunjuk anaknya yang sedang bermain di lantai rumah sakit yang sudah digelari tikar kecil.


Riana menatap ponakan Ardian sekilas, perasaan hangat menyalur di hatinya.


“Bagaimana bisa seperti ini, mbak?”

__ADS_1


“Apa dia sudah dituntut? Apa sia masih makan dengan tenang di luar sana? Apa dia tidak cukup puas dengan putraku dan aku?” Riana terus mengoceh. Sejak tadi wanita itu tidak bisa berhenti bertanya-tanya perihal pelaku yang telah tega dengan dirinya.


“Dia sudah dituntut, mungkin saja polisi juga sudah datang ke rumahnya untuk mengangkutnya” Jawab kakak Ardian.


“Kenapa dia jahat sekali ya, mbak?” Tanya Riana lemas.


Wanita itu seperti tidak habis pikir, bukankah Arianti juga mengandung? Apa dia tidak bisa membayangkan perasaan Riana sebelum melakukan hal itu?


“Kita dengarkan alasannya di pengadilan nanti, ya. Kau harus banyak-banyak beristirahat agar cepat pulih. Sidang pertama akan dilakukan saat kau sudah benar-benar pulih” Sahut kaka Ardian.


“Apa dia tidak bisa membayangkan buruknya aku ketika di tinggal oleh anakku? Atau bagaimana jika sebaliknya? Anakku yang malah kehilangan aku?” Sahut Riana lagi.


Pandangan matanya kosong, seperti tidak ada jiwa yang menetap dalam tubuh lemah itu. cara bicaranya pun lemas sekali, terkesan seperti bisikan.

__ADS_1


Kaka Ardian saat itu hanya diam, dia tidak mau menjawab lebih, perasaan Riana hanya sedang sensitif.


“Kenapa saat itu Ardian memilih menyelamatkan aku? Harusnya dia menyelamatkan putraku, biarkan saja aku mati, jika yang tiada adalah anakku maka lihat! Sehancur ini aku. Jika aku yang meninggalkan dia mungkin akan lebih baik, banyak orang yang berada di sekitarnya selama ini” Gumam Riana lagi.


“Rin, kau tidak boleh mengatakan hal itu. kenapa Ardian memilih menyelamatkanmu daripada bayimu? Karena dia tau, mana yang harus di prioritaskan untuk kedepannya. Jika dia memilih anakmu maka, mungkin saja mamamu akan kesusahan mengurus anakmu seorang diri. Sudah kau meninggalkan luka karena kepergianmu yang tidak wajar dan juga merawat cucunya yang kemungkinan memiliki kecacatan karena terlalu banyak meminum racun”


Begitu penjelasan yang di sampaikan kakak Ardian. Meskipun tidak tau bagaimana detailny tapi, apa yang di sampaikan kakak Ardian ini adalah masuk akal.


Riana lalu terdiam, meresapi perkataan kakak Ardian yang memang benar adanya. Jika dia meninggal, dia hanya akan menyisakan beban untuk mamanya yang sudah lanjut usia.


“Kau harus tetap semangat. Aku tau ini sulit untukmu, setelah melewati masa-masa berat, kau harus kembali menelan pahitnya kenyataan tapi, Tuhan ada bersama kita. Percayalah, dia adalah sang maha sebaik-baiknya kekuatan. Kau pasti dan harus bisa melewati fase ini” Kakak Ardian memberikan motivasi dari hati ke hati untuk Riana.


Riana meneteskan air matanya untuk kesekian kali, mencoba mencerna dan menerima keadaannya.

__ADS_1


Kakak Ardian pun percaya, Riana adalah wanita hebat yang pemikirannya sudah cukup matang dan dewasa untuk menghadapi ini, apalagi Riana sebelumnya sudah sempat kehilangan ayahnya, itu adalah sakit yang paling mengerikan untuk anak perempuan. Kali ini, Riana pasti akan dengan mudah bangkit dengan semangat dari orang-orang di sekitarnya. Begitu penilaian kakak Ardian.


__ADS_2