
Suasana memang sedikit berbeda setelah kejadian saat itu antara Riana dan Nathan. Riana dengan rasa sakit hatinya tentu masih butuh waktu untuk menumbuhkan kepercayaannya lagi kepada sang suami. Menjalani hari-hari seperti biasa, melayani Nathan pun masih sama hanya saja hatinya tidak bisa dibohongi.
“Sayang, kamu masih marah?” Tanya Nathan, melihat sang istri yang tidak seperti biasanya.
Riana tersenyum lalu menggeleng, menjelaskan kepada Nathan bahwa dia baik-baik saja.
“Aku janji tidak akan mengulanginya lagi tapi, tolong jangan bersikap dingin. Kau tau kan aku tidak bisa di diamkan?” Sahut Nathan menjelaskan.
“Iya, maafkan aku” Ucap Riana, nadanya terdengar lembut. Wanita itu menerima Nathan di pangkuannya yang sedang mensejajarkan kaki memanjang di ruang keluarga.
Riana mengusap rambut Nathan pelan, menyurainya seperti sedang menyisir rambut suaminya. Di lihatnya wajah Nathan dalam, perasaannya benar-benar campur aduk.
“Aku tidak suka kebohongan dan aku tidak biasa memberikan kesempatan kepada seseorang” Gumam Riana, seolah mengingatkan Nathan bahwa apa yang di lakukan suaminya kemarin adalah fatal.
__ADS_1
“Iya sayang, maafkan aku” Nathan memeluk pinggang istrinya yang terlihat sedikit lebih besar dari biasanya? Meskipun tidak begitu kentara tapi, Nathan adalah yang paling tau dengan Riana.
“Sayang, boleh aku bertanya?” Lelaki itu mensejajarkan kepalanya dengan perut Riana, bahkan meletakkan tangannya di perut wanita itu.
Riana masih tidak curiga, menganggap apa yang dilakukan Nathan adalah hal yang wajar.
“Apa sedang melakukan ‘all you can eat’?” Tanya Nathan.
Tentu saja hal itu membuat Riana bingung, wanita itu mengernyitkan dahinya, “Tidak, aku makan dengan porsi seperti biasa, memangnya kenapa?” Tanyanya.
Deg
Riana baru sadar, dia tidak memprediksi jika Nathan akan sangat se-detail itu. Wanita itu masih bingung mau menyauti apa tapi, sang suami malah, “Aku harap kau tidak hamil. Aku masih belum siap untuk itu, apalagi di repotkan saat kau ngidam atau ketika dia sudah lahir malah terus mmbuatku begadang. Nanti saja hamilnya kalau aku sudah siap” Tuturnya.
__ADS_1
Glup
Riana menelan salivanya sendiri, “Y-Ya, mungkin ini karena aku tidak teratur saja buang airnya. Ya… Maka jangan lakukan apapun jika kau tidak ingin aku hamil” Sahutnya. Padahal nada Riana biasa saja, tidak ketus juga tapi, Nathan seolah tidak terima dan langsung membungkam mulutnya.
Riana mengernyit, seharusnya di sini kan dia yang suasana hatinya berubah-ubah. Kenapa jadi Nathan yang cemberut?
“Ya kan kau tidak mau maka, jangan melakukan hubungan suami istri dulu sampai kau siap. Hanya itu cara yang simpel dan kau tidak perlu khawatir bukan?”
Nathan langsung bangkit dari tidurnya, duduk menghadap Riana.
“Melayaniku masih tetap menjadi tanggung jawabmu bukan? Ya, akan aku usahan melakukannya tanpa kebobolan. Kau ini kenapa suka cari masalah hm? Jika kau tidak mau memberi jatah, ya apa boleh buat,…” Nathan menggantung ucapannya, seperti tiba-tiba teringat bahwa dia tidak seharusnya melanjutkan kalimat itu.
Riana tersenyum miring, dia merasa tau apa yang sedang ada di pikiran Nathan.
__ADS_1
“Kau akan membeli pelac*r? Atau kembali ke mantanmu yang bahkan memberikan tubuhnya dengan gratis padamu?” Tanya Riana santai. Tidak, dia tidak memulai kan? Nathan yang tiba-tiba mengatakan hal itu.
“Tidak, sayang. Aku tidak akan melakukan itu, aku percaya kau bisa memuaskanku dengan baik seperti biasanya. Kau tetap tidak ada duanya” Ucap Nathan, menenangkan sang istri.