Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Saudara dan Bisnis adalah Hal yang Berbeda


__ADS_3

Sesuai janji yang sudah di ucapkan Riana di rumah tadi, dia dan keluarga pergi ke tokonya. Membawa keluarganya ke sana sebenarnya juga menguntungkan untuk dirinya, kenapa? Mungkin saja nanti dia akan lebih di hargai, tidak lagi disindir perkara fisik?


Apa kalian pernah mendengar hal seperti ini, ‘Jika wajahmu tidak mendukung, setidaknya dompetmu akan membantu’. Riana sedang mempraktekkan hal itu sekarang.


“Wah, bagus juga tokonya” Ucap kaka mbak Megan.


Mereka berputar-putar di seluruh toko, mengambil banyak produk fashion terbaru Riana.


‘Wah, aku akan mendapat kenaikan omset sepertinya’ Batin Riana, melihat keluarga suaminya tersenyum senang begitu padahal membuat hati Riana merasa nyaman, daripada harus berbicara sinis dan judes.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, mereka benar-benar menghabiskan waktu di toko Riana.


“Sudah cukup, aku sudah memilih ini. Bisa langsung di bungkus?” Ucap si mbak Megan.


“Bisa, biar saya total juga ya kak” Ucap Lea, kasir yang selalu ramah dengan customer.


“Ha? Di total? Memangnya tidak gratis? Hitung-hitung kado natal loh ini Riana”

__ADS_1


Deg


Riana mau pingsan rasanya, ternyata tokonya malah dimanfaatkan oleh ibu mertuanya itu.


“Aku sudah menyiapkan kado natal untuk kalian, bisnis dan hal itu tentu berbeda alur” Ucap Riana ramah.


“Apa kau selalu berlaku pelit begitu?” Tanya ibu mertua.


“Tidak ibu, hanya saja omset toko bisa sangat menurun, hal itu akan berakibat tidak baik pada toko ini kedepannya. Yang kalian ambil, itu semua adalah produk terbaru kami, aku bisa memberi diskon tapi, tidak dengan memberikannya secara gratis” Riana mencoba menjelaskan kepada ibu mertua.


“Iya, sedikit saja kenapa tidak mau sih, sayang? Itu tidak sampai sepuluh barang” Ucap Nathan, membela ibunya.


“Bukankah toko ini seharusnya milik Nathan juga? Ingat, Nathan adalah suamimu yang pasti juga memiliki hak untuk ini”


Huh, ternyata ibu menrtuanya itu masih tidak mau mengerti.


“Tapi, aku merintis toko ini dengan Ardian, ibu bukan dengan Nathan kalaupun jika ada yang memiliki hak untuk toko ini, itu adalah Ardian. Apalagi modal pertamanya berasal dari MANTAN KEKASIH saya itu” Ucap Riana, memperjelas kata mantan kekasih, sesuai dengan perlakuan mbak Megan dulu yang membandingkan dia dengan Arianti, mantan kekasih Nathan.

__ADS_1


Hal itu sukses membuat ibu mertua dan yang lainnya terdiam, apalagi Nathan, lelaki itu pasti merasa harga dirinya sedang di injak-injak oleh istrinya sendiri.


“Ya sudah, kalau begitu tidak jadi” Ucap mbak Megan lalu keluar lebih dulu dari yang lain. Merasa malu atau apa?


Di perjalanan, tidak ada suara sama sekali, tidak ada percakapan yang ramai seperti tadi saat mereka berangkat ke gereja.


Sesampainya di rumah kontrakan Riana, mereka segera masuk, memakan hidangan yang dipersembahkan dari Riana. Sedangkan wanita itu sendiri sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarga dari suaminya.


Nathan?


Entah apa yang dilakukan lelaki itu di dalam kamar, bersih diri atau apa, kenapa lama sekali? Hampir satu jam lelaki itu bersiap.


“Nathan, kau tidur?” Ibu mertua terlihat berdiri dan membuka pintu kamar utama rumah itu.


Riana hanya mampu menggelengkan kepala, dia memang bisa melihat itu dari dapur karena memang rumah kontrakan itu tidak begitu luas dan setiap ruangannya hanya di sekat oleh gorden, itu yang membuat rumah kontrakan itu terlihat luas.


Menurut Riana, tidak salah jika ibu mertua membangunkan atau memanggil putranya, hanya saja langsung membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu itu bukanlah hal yang sopan bukan? Apalagi anaknya sudah dewasa dan sudah menikah, kamar adalah area privasi bukan?

__ADS_1


“Hey, apa yang kau lakukan?” Ucap ibu mertua.


“Menjadi uncle Santa untuk ponakan-ponakanku” Jawab Nathan, keluar menggunakan baju santa yang di beli kapan hari, sambil membawa satu karung hijau yang sudah berisi kado khas santa di pundaknya.


__ADS_2