Suami Tidak Tau Diri

Suami Tidak Tau Diri
Parfum


__ADS_3

“Sayang, aku mau keluar dulu” Nathan berpamitan kepada istrinya yang masih bersih-bersih dapur.


“Mau kemana pagi-pagi begini?” Tanya Riana, langsung berlari kecil untuk mengantar Nathan ke depan.


“Keluar dengan teman-teman” Sahut Nathan sambil memakai sepatunya, dia terlihat begitu rapi dan wangi, bahkan sengaja sekali membawa mobil Riana.


“Oh okey, jangan sore-sore pulangnya” Ucap Riana.


Ah, sepertinya dia mau jalan ke café dengan yang lainnya, batin Riana.


Setelah kepergian Nathan, Riana hanya melanjutkan pekerjaannya, membersihkan diri lalu besantai di ruang keluarga menikmati hari libur.


“Hmm, semuanya sudah mulai berjalan normal sekarang. Sudah waktunya untuk melihat kira-kira aku mau memulai perawatan darimana” Gumam Riana. Dia melihat-lihat klinik kecantikan dan perawatan tubuh terbaik di ibu kota.


“Aku akan mencoba ke dokter kecantikan saja dulu untuk melihat jenis kulit, selama ini memang aku salah, tiba-tiba menggunakan merk ini ini ini tapi, tidak tau jenis kulit, wajar saja jika banyak tidak menemukan kecocokan” Saat itu Riana benar-benar memperhatikan setiap detail perawatan yang akan ia lakukan.


Bukan hanya melihat jenis-jenis perawatan dari luar tapi, juga dia melihat bagaimana menjaga pola makan dan olahraga. Cantik dan sehat menjadi impiannya di masa depan.


“Okey, mari kita mulai dari besok”


Riana ketiduran hingga sore menyapa, terbangun karena adanya suara mesin mobil yang memasuki halaman rumah.


“Dia sudah pulang” Gumam Riana, terkejut melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

__ADS_1


Wanita itu segera bangun dan lari mencuci wajahnya, “Sayang, aku pulang” Nathan sedikit mengeraskan suaranya saat membuka pintu.


“Iyaa” Jawab Riana lalu keluar, menemui Nathan dengan keadaan yang masih baru bangun tidur, apa lagi? Riana tidak bisa berubah langsung segar dan berseri, dia bukan ibu peri-nya cinderella yang bisa mengubah penampilan dalam sekejap.


“Maafkan aku, aku ketiduran. Kau sudah makan malam? Aku masakkan dulu ya” Ucap Riana.


Nathan tersenyum, memegang tangan Riana pelan “Tidak perlu, kita delivery saja, sayang” Tutur lelaki itu lembut.


Riana menganggukkan kepala. Mereka membuka aplikasi untuk memesan makanan.


“Kau mau makan apa?” Tanya Nathan.


“Apa yang ada di dekat sini?” Tanya Riana, bersandar pada bahu suaminya.


Hmm


Hmm


Riana sedikit mengendus aroma jaket Nathan. Aroma parfum vanilla menyeruak ke dalam indra penciumannya. Setahu Riana, Nathan tidak pernah ganti parfum. Yang biasa digunakan suaminya hanya aroma bacarat.


“Nathan, kau membeli parfum baru?” Tanya Riana.


“Tidak, masih sama”

__ADS_1


Riana mengerutkan keningnya, bingung.


“Kenapa, sayang?” Tanya Nathan, masih asik dengan ponselnya, melihat-lihat menu yang sekiranya cocok untuk makan malam mereka.


“Tidak apa-apa” Sahut Riana, memilih untuk percaya dan tidak mengambil pusing dengan apa yang terjadi.


“Bagaimana kalau malam ini sate ayam dan chicken katsu?” Lanjut Riana setelah menemukan sesuatu yang diinginkan, menunjuk pada gambar sate ayam dan chicken katsu yang terlihat menggiurkan di matanya.


“Boleh, itu saja?” Tanya Nathan.


“Hmm, sekalian dengan dessert box-nya itu dan lychee tea” Ucap Riana menyampaikan menu-menu yang ingin dia santap.


“Itu saja masing-masing dua porsi ya sayang”


Riana mengangguk setuju.


“Aku mau membersihkan diri dulu, rasanya lengket sekali setelah ketiduran seharian tadi” Ucap Riana, sudah mulai beranjak dari duduknya tapi, Nathan mencegahnya.


“Sepertinya aku juga butuh membersihkan diri setelah keluar seharian” Sahut Nathan, menarik Riana untuk kembali duduk di sampingnya.


Saat itu juga, dengan sekali hap Nathan berhasil mel*mat bibir tipis Riana, membuat gerakan-gerakan menggoda dan menyentuh titik-titik sensitif wanita itu.


Riana mengerang pelan, mencoba mengimbangi suaminya. Anehnya, Nathan tidak mau membuka kaosnya, “Nanggung sayang, lakukan ini dengan cepat” Bisik lelaki itu lalu menenggelamkan anak kobra miliknya pada gua yang di sediakan oleh Riana.

__ADS_1


__ADS_2